Kepala SMP Muhammadiyah 3 Surabaya Arief Himawan, M.Pd., mendorong Pemerintah Kota Surabaya memperkuat anggaran penanganan banjir di kawasan Tambak Asri, Surabaya. Ia juga mengusulkan optimalisasi retribusi parkir sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan untuk mendukung penanganan persoalan drainase di kawasan tersebut.
Usulan tersebut disampaikan Arief saat ditemui di Surabaya, Ahad (23/8/2026). Menurutnya, persoalan banjir di Tambak Asri membutuhkan intervensi infrastruktur sekaligus keberpihakan kebijakan anggaran agar penanganannya dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Banjir di Tambak Asri bisa diatasi kalau ada kemauan politik anggaran. Kalau APBD terbatas, kita masih punya potensi besar dari retribusi parkir yang selama ini belum optimal,” ujar Arief.
Ia menawarkan dua skema yang dapat dipertimbangkan pemerintah untuk menangani persoalan tersebut. Pertama, memperkuat alokasi anggaran daerah untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur pengendali banjir.
Menurut Arief, pemerintah perlu memprioritaskan normalisasi saluran, perbaikan drainase, serta pembangunan atau penguatan rumah pompa di kawasan yang kerap terdampak genangan.
“Jangan hanya fokus di pusat kota. Wilayah seperti Tambak Asri ini membutuhkan intervensi infrastruktur yang serius dari anggaran daerah,” tegasnya.
Dorong Optimalisasi Retribusi Parkir
Skema kedua yang ditawarkan Arief adalah mengoptimalkan penerimaan dari sektor parkir. Ia menilai potensi penerimaan tersebut dapat dikaji sebagai salah satu sumber pendanaan untuk mendukung program yang manfaatnya dirasakan langsung masyarakat.
Arief mendorong Pemerintah Kota Surabaya meningkatkan transparansi dan pengawasan terhadap pengelolaan retribusi parkir sehingga penerimaannya dapat lebih optimal.
“Kalau tidak ada dana dari APBD, hasil parkir bisa dialokasikan khusus untuk penanganan banjir. Buat pos khusus, dana parkir untuk drainase. Ini lebih adil, uang rakyat Surabaya kembali untuk mengatasi masalah rakyat Surabaya,” jelasnya.
Menurut Arief, usulan tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya mencari skema pembiayaan yang tepat dan sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah.
Ia menilai pemerintah juga perlu memastikan setiap penerimaan daerah dikelola secara transparan dan diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Banjir Berdampak pada Aktivitas Pelajar
Sebagai kepala sekolah yang beraktivitas di Surabaya, Arief melihat persoalan banjir tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur. Genangan juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan.
Menurutnya, kondisi jalan yang tergenang dapat menyulitkan siswa untuk berangkat maupun pulang sekolah. Dalam kondisi tertentu, banjir juga berpotensi menyebabkan keterlambatan siswa mengikuti pembelajaran.
“Banjir bukan hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas belajar siswa. Ada siswa yang terlambat bahkan tidak bisa bersekolah ketika banjir datang,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai penanganan banjir perlu dilakukan secara komprehensif, tidak hanya ketika genangan terjadi, tetapi juga melalui pembenahan sistem drainase dan infrastruktur pendukung.
Perlu Penanganan Berkelanjutan
Arief berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat melakukan pemetaan terhadap titik-titik rawan banjir di Tambak Asri serta menentukan kebutuhan infrastruktur berdasarkan kondisi di lapangan.
Ia juga mendorong adanya evaluasi terhadap berbagai sumber penerimaan daerah yang berpotensi dioptimalkan untuk mendukung program pelayanan publik.
“Solusinya ada. Tinggal bagaimana kita mengelola anggaran dan penerimaan daerah itu untuk kepentingan warga,” pungkasnya.
Usulan tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap persoalan banjir di kawasan Tambak Asri yang tidak hanya berdampak terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga aktivitas sosial dan pendidikan masyarakat.
Penanganan yang didukung perencanaan, penganggaran, pengawasan, dan partisipasi masyarakat diharapkan dapat menjadi langkah menuju sistem pengendalian banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments