Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Manifestasi Trikoda IMM di Tengah Transformasi Society 5.0

Iklan Landscape Smamda
Manifestasi Trikoda IMM di Tengah Transformasi Society 5.0
Manifestasi Nilai-Nilai Trikoda IMM di Tengah Transformasi Society 5.0
Oleh : Oktafiyan Hilal Akmal Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya

Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat telah membawa masyarakat dunia memasuki sebuah fase baru yang dikenal dengan Era Society 5.0. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Jepang sebagai bentuk transformasi sosial yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things (IoT), big data, dan ruang digital dengan kehidupan manusia secara langsung.

Society 5.0 menghadirkan sebuah tatanan sosial baru yang tidak hanya memengaruhi aktivitas manusia, tetapi juga membentuk pola pikir, konstruksi nilai, dan cara masyarakat berinteraksi di era global.

Namun, di balik kemajuan tersebut, Society 5.0 juga melahirkan berbagai persoalan baru seperti disrupsi moral, menurunnya empati sosial, individualisme, penyebaran disinformasi, hingga ketimpangan akses teknologi. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan kemajuan nilai kemanusiaan. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah paradigma gerakan yang mampu menjawab tantangan zaman secara progresif, namun tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.

Dalam konteks tersebut, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki posisi strategis sebagai gerakan intelektual mahasiswa Islam yang berorientasi pada perubahan sosial. Sebagaimana yang pernah ditulis Prof. Haedar Nashir dalam buku Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah: Sejarah, Ideologi, dan Gerakan, “gerakan intelektual IMM bertujuan membangun masyarakat yang berkemajuan.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa IMM bukan sekadar organisasi kaderisasi, tetapi juga ruang pembentukan peradaban yang menempatkan kader sebagai agen transformasi sosial.

Manifestasi Trikoda IMM yang meliputi religiusitas, intelektualitas, dan humanitas menjadi sangat relevan dalam menjawab tantangan Society 5.0. Trikoda bukan hanya slogan ideologis, melainkan paradigma gerakan yang dapat menjadi fondasi pembentukan kader progresif di era digital.

Dengan demikian, reaktualisasi Islam progresif melalui Trikoda IMM menjadi kebutuhan mendesak agar kader IMM mampu merespons disrupsi teknologi secara kritis, humanis, dan transformatif.

Society 5.0 dan Tantangan Disrupsi Peradaban

Society 5.0 merupakan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered society). Konsep ini merupakan pengembangan dari Revolusi Industri 4.0 yang tidak hanya berfokus pada otomatisasi industri, tetapi juga pemanfaatan teknologi untuk menyelesaikan persoalan sosial manusia.

Konsep tersebut diperkuat dalam buku Education 5.0: Requirements, Enabling Technologies, and Future Directions karya Shabir Ahmad dan Sabina Umirzakova yang menyatakan bahwa “teknologi dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.” Dengan kata lain, manusia tetap menjadi pusat utama dalam pemanfaatan teknologi.

Akan tetapi, realitas di Indonesia menunjukkan adanya paradoks digital. Tingginya penetrasi internet dan media sosial justru diiringi meningkatnya budaya instan, degradasi moral, hingga rendahnya literasi digital masyarakat.

Media digital saat ini bukan hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang baru bagi aktivisme sosial dan pembentukan opini publik.

Fenomena tersebut menuntut kader IMM untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen gagasan dan penggerak perubahan sosial berbasis nilai Islam Berkemajuan.

Mahasiswa memiliki peran sebagai change agent, social control, iron stock, dan moral force. Posisi ini menjadikan kader IMM memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk hadir sebagai solusi di tengah disrupsi zaman.

Reaktualisasi Religiusitas dalam Ekosistem Digital

Dimensi pertama dalam Trikoda IMM adalah religiusitas. Religiusitas menjadi pondasi utama dalam menjaga arah gerakan IMM agar tetap berlandaskan nilai ketauhidan.

Religiusitas harus hadir sebagai “basis moral yang transenden” agar gerakan IMM tidak kehilangan orientasi nilai.

Di era Society 5.0, religiusitas tidak cukup dipahami secara normatif dan ritualistik. Religiusitas harus mampu ditransformasikan menjadi etika digital dan kesadaran sosial.

Dalam buku Muslim 5.0: Smart Islamic Education in the Age of Artificial Intelligence karya Dr. Elihami dijelaskan bahwa “literasi digital harus dibangun di atas nilai-nilai Islam” dan “kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan akhlak.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa teknologi perlu diarahkan sebagai sarana dakwah dan pemberdayaan umat.

Manifestasi religiusitas dalam Society 5.0 dapat diwujudkan melalui dakwah digital, penguatan literasi keislaman di media sosial, serta pemanfaatan teknologi untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat.

Kader IMM harus mampu menjadi filter moral di tengah derasnya arus informasi digital. Agama bukan sekadar dogma normatif, tetapi kekuatan pembebasan sosial.

Selain itu, religiusitas kader juga perlu dibangun melalui penguatan spiritualitas yang kontekstual. Dalam buku Manajemen Kelas Berbasis AI dan IoT di Era Society 5.0 karya Dr. Imas Masriah disebutkan bahwa “pemanfaatan AI harus diiringi penguatan karakter.”

Hal tersebut menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi tanpa karakter moral justru berpotensi melahirkan dehumanisasi.

Oleh sebab itu, religiusitas dalam Society 5.0 bukan berarti menjauh dari teknologi, melainkan menghadirkan nilai Islam sebagai pengarah penggunaan teknologi agar tetap berpihak pada kemanusiaan.

Intelektualitas sebagai Basis Gerakan Progresif

Dimensi kedua Trikoda IMM adalah intelektualitas. Dalam buku Filsafat Gerakan IMM karya Dede Rosyada dijelaskan bahwa “kader IMM harus mampu menjadi agen perubahan di tengah perkembangan zaman.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa intelektualitas kader tidak boleh berhenti pada tataran teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan transformasi sosial.

Era Society 5.0 menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam buku Strategi Pembelajaran 5.0 karya Riska Fati Matur dan Syamsiara Nur disebutkan bahwa “transformasi digital menuntut perubahan pola pikir generasi muda” serta “mahasiswa perlu menguasai literasi digital sebagai kompetensi utama abad 21.”

Dalam konteks IMM, intelektualitas harus diwujudkan melalui budaya riset, tradisi diskusi, penguatan literasi digital, dan kemampuan membaca realitas sosial secara kritis.

Kader IMM tidak boleh menjadi kelompok yang gagap teknologi. Sebaliknya, kader IMM harus mampu menggunakan teknologi sebagai instrumen pemberdayaan umat.

Penguatan intelektualitas dapat dilakukan melalui riset berbasis Artificial Intelligence dan pemanfaatan teknologi digital untuk menyelesaikan persoalan sosial masyarakat.

Hal tersebut sejalan dengan gagasan Kuntowijoyo dalam buku Ilmu Sosial Profetik yang menyatakan bahwa “teknologi semestinya menjadi alat pembebasan manusia, bukan alat dominasi.”

Oleh sebab itu, intelektualitas kader IMM harus diarahkan pada pembangunan ilmu yang profetik, yakni ilmu yang berpihak pada nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Selain itu, intelektualitas kader IMM juga harus mampu menghadirkan aktivisme digital yang progresif. Media sosial telah menjadi ruang baru gerakan sosial melalui konsep connective action.

Dengan demikian, kader IMM perlu membangun gerakan digital yang edukatif, kritis, dan mencerahkan.

Kader IMM juga harus mampu melawan budaya instan dan konsumtif digital yang berkembang di media sosial. Intelektualitas bukan sekadar kemampuan akademik, tetapi keberanian berpikir kritis dan menawarkan solusi konkret bagi masyarakat.

Humanitas dan Spirit Gerakan Kemanusiaan

Dimensi ketiga Trikoda IMM adalah humanitas. Dalam buku Filsafat Gerakan IMM karya Dede Rosyada dijelaskan bahwa “humanitas dalam IMM diwujudkan melalui keberpihakan terhadap persoalan masyarakat.”

Hal ini menunjukkan bahwa IMM harus hadir sebagai gerakan sosial yang berpihak pada kaum tertindas dan kelompok marjinal.

Era Society 5.0 menghadirkan tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks, mulai dari ketimpangan digital, disinformasi, krisis empati sosial, hingga meningkatnya individualisme.

Dalam buku Perilaku Organisasi di Era Society 5.0 karya Islamuddin dan Robert Tua Siregar disebutkan bahwa “kemajuan teknologi tanpa etika dapat menimbulkan disrupsi sosial.”

Oleh sebab itu, humanitas menjadi fondasi penting agar teknologi tetap berpihak pada kemaslahatan manusia.

Manifestasi humanitas dalam gerakan IMM dapat diwujudkan melalui pengabdian masyarakat berbasis digital, pendidikan literasi teknologi bagi masyarakat akar rumput, serta advokasi sosial terhadap kelompok yang terdampak disrupsi digital.

Program pengabdian masyarakat dapat dilakukan melalui edukasi digital bagi masyarakat pedesaan, kampanye moderasi beragama, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah sosial.

Humanitas juga berarti menghadirkan solidaritas sosial di tengah masyarakat digital yang semakin individualistik.

Dalam buku Pendidikan Multikultural Menuju Masyarakat 5.0 karya Obby Taufik Hidayat disebutkan bahwa “teknologi seharusnya memperkuat solidaritas sosial.”

Pernyataan ini sangat relevan dengan spirit IMM sebagai gerakan kemanusiaan.

Kader IMM harus mampu menjadikan teknologi sebagai sarana memperkuat relasi sosial, bukan justru menciptakan keterasingan manusia.

Dengan demikian, humanitas menjadi penggerak utama dalam membangun gerakan Islam progresif yang berpihak pada nilai-nilai keadilan sosial.

Penutup

Transformasi Society 5.0 menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar bagi gerakan mahasiswa Islam, termasuk IMM. Di tengah arus digitalisasi yang semakin masif, kader IMM dituntut tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Melalui manifestasi Trikoda IMM yang meliputi religiusitas, intelektualitas, dan humanitas, kader IMM dapat menjadi agen perubahan yang progresif, kritis, dan transformatif.

Trikoda IMM bukan sekadar identitas ideologis, melainkan paradigma gerakan yang relevan untuk menjawab disrupsi peradaban di era digital. Dengan penguatan nilai religius, tradisi intelektual, dan spirit kemanusiaan, IMM diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga berkarakter dan berkeadaban.

Revisi Oleh:
  • Satria - 16/05/2026 06:20
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu