Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Masa Depan Otoritas Ulama dalam Kepungan Algoritma

Iklan Landscape Smamda
Masa Depan Otoritas Ulama dalam Kepungan Algoritma
Oleh : Riki Purnomo, S.Sos., M.Psi. Mahasiswa S3 Studi Islam FAI UAD & Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng
pwmu.co -

Kecemasan atas merosotnya otoritas ulama semakin sering terdengar.

Perubahan ini terasa di ruang ibadah, kelas pengajian, dan percakapan daring.

Survei nasional PPIM UIN Jakarta (2021) memaparkan 64,66 persen generasi muda muslim menggantungkan diri pada media sosial sebagai rujukan pengetahuan agama.

Data ini mengafirmasi pergeseran paradigma kepercayaan publik, dari otoritas guru keagamaan menuju dominasi layar ponsel.

Laporan dari DataReportal mencatat Indonesia memiliki sekitar 139 juta pengguna media sosial aktif pada awal 2024, dan angka ini terus merangkak naik.

Data tersebut mengindikasikan besarnya ketergantungan publik pada platform digital sebagai sumber informasi utama.

Instagram dan TikTok berada di antara aplikasi paling populer dan penggunanya dominan dari kelompok usia muda.

Tren ini menegaskan bahwa media sosial telah menjadi salah satu ruang belajar utama bagi generasi digital.

Banyak pengguna mengakses penjelasan agama melalui video singkat, potongan ceramah, dan komentar publik.

Ruang digital berkembang sebagai pelengkap ruang keagamaan tradisional yang semakin sering dikunjungi lewat layar.

Fenomena ini melampaui sekadar statistik. Algoritma kini menjadi penentu siapa yang layak didengar.

Fatwa dipaksa bersaing dengan drama tiga puluh detik. Kajian mendalam kalah sigap dari video motivasi singkat.

Ritme digital meniadakan ruang bagi jeda dan perenungan. Dampaknya merasuk pada relasi epistemik yang dulu berlandaskan sanad dan tradisi panjang ilmu.

Al-Qur’an pernah mengingatkan pentingnya rujukan otoritatif dalam pengetahuan.

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).

Ayat itu relevan saat algoritma menenggelamkan suara ulama.

Pertanyaannya, bagaimana menentukan siapa “yang berilmu” di tengah hiruk pikuk konten?

Algorithmic Authority

Generasi digital tumbuh dengan kecepatan.

Mereka terbiasa belajar lewat potongan video, caption singkat, dan narasi emosional.

Pola ini sering menyingkirkan ulama tradisional yang tidak akrab dengan logika visual.

Tidak heran jika figur non-otoritatif justru lebih populer. Mereka lebih fasih memanfaatkan ritme platform dan memahami psikologi audiens.

Ulama kehilangan panggung bukan karena visi keilmuannya redup.

Mereka tersisih karena panggungnya berevolusi dan berpindah medium. Layar ponsel kini menjadi arena utama kontestasi pembentukan gagasan.

Arena itu digerakkan oleh algoritma yang bergerak tanpa nilai etis dan tanpa rasa hormat pada sanad keilmuan.

Campbell dan Evolvi (2020), menyebut kondisi ini algorithmic authority.

Kebenaran diukur dari keterlihatan, bukan kompetensi. Populer berarti dipercaya. Terlihat berarti benar.

Logika ini berbahaya bagi masyarakat yang memerlukan kedalaman penjelasan keagamaan.

Echo chamber (ruang gema) media sosial memperparah keadaan.

Orang disuguhi konten yang mendukung keyakinan mereka. Konten yang berbeda tenggelam sebelum sempat menjelaskan diri.

Ruang dialog menghilang. Kompleksitas fikih retak menjadi slogan. Ulama kehilangan kesempatan menjelaskan konteks hukum yang penuh nuansa.

Sementara itu, kecepatan digital memaksa ajaran berat diringkas agar sesuai waktu tonton.

Ceramah lima menit dianggap panjang, diskusi satu jam terdengar melelahkan.

Kultur instant gratification membuat pengetahuan agama berlaku seperti hiburan.

Tetapi situasinya tidak sepenuhnya gelap. Sebagian ulama membaca perubahan ini sebagai peluang.

Mereka belajar memanfaatkan algoritma tanpa menukar kedalaman.

Konten pendek dibuat dengan disiplin ilmiah yang kuat. Komentar dibalas sebagai bentuk halaqah mini.

Komunitas virtual dibangun melalui kehadiran rutin dan pendekatan dialogis.

Penelitian Nasrullah (2023) menunjukkan audiens digital tetap menginginkan ulama, selama mereka merasa dihargai secara interaktif. Kebutuhan akan bimbingan tidak hilang.

Yang berubah adalah medium percakapan. Ulama tidak hanya dituntut mengajar.

Mereka harus hadir dalam ritme baru yang mengutamakan respons cepat dan hubungan dua arah.

Ulama juga perlu mengembangkan algorithmic literacy (literasi algoritma).

Keterampilan ini esensial karena algoritma mendikte siapa yang didengar. Pengetahuan fikih saja tidak cukup lagi. Tetapi juga memerlukan pengetahuan media untuk menjadi kunci navigasi.

Ulama yang memahami cara kerja platform dapat mengarahkan konten secara strategis tanpa kehilangan etika dakwah.

Ruang digital seharusnya tidak memaksa ulama berkompetisi sebagai selebritas.

Ruang itu dapat menjadi perpanjangan tangan tradisi ilmu. Penjelasan mendalam tetap mungkin disampaikan.

Platform menyediakan fitur berlapis: video pendek untuk pemantik, video panjang untuk penjelasan, dan tautan ke tulisan untuk pendalaman.

Namun adaptasi perlu strategi. Tradisi keilmuan Islam tidak dibangun dalam kilatan detik.

Ia tumbuh dalam kesabaran. Karena itu, ulama perlu menggabungkan kedalaman tradisi dengan kecerdasan navigasi digital.

Dunia digital tidak perlu dibaca sebagai ancaman. Dunia itu dapat menjadi wahana bagi transformasi pedagogi Islam.

Menjaga Kejernihan di Tengah Kebisingan

Pertanyaannya bukan lagi apakah ulama harus hadir di ruang digital, namun bagaimana menjaga kejernihan ilmu dalam ekosistem yang bergerak cepat?

Ulama tidak boleh terseret logika viralitas. Mereka harus menjadi jangkar di tengah arus konten yang deras.

Pengguna digital perlu dialog yang pelan dan mendalam.

Mereka memerlukan ulama yang bersedia menjelaskan konteks hukum yang penuh dimensi. sekaligus memerlukan figur yang mampu menyatukan tradisi dan teknologi.

Perubahan ini tidak dapat dihentikan, tetapi ia dapat diarahkan.

Masa depan otoritas ulama bergantung pada kemampuan mengolah algoritma menjadi sarana pemberdayaan.

Ulama dapat mengambil alih ritme digital tanpa kehilangan ruh tradisi. Otoritas tidak lagi berada pada ruang fisik semata.

Otoritas lahir dari kolaborasi antara kedalaman ilmu dan kecerdasan membaca zaman.

Transformasi ini menentukan wajah keilmuan Islam. Tradisi yang bertahan bukan tradisi yang keras, tetapi tradisi yang adaptif.

Ulama generasi baru harus menjadi jembatan antara hikmah klasik dan dunia digital yang riuh. Dalam jembatan itu, warisan intelektual Islam menemukan napas baru.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu