Semasa menjabat sebagai Rektor UM Surabaya (UMSURA), Prof. Sukadiono pernah menerima nasihat penting dari almarhum Prof. Abdul Malik Fadjar. Nasihat itu kembali disegarkan oleh Ketua PWM Jawa Timur yang juga Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) tersebut dalam Halal bi Halal keluarga besar PPI AMF beberapa waktu lalu.
Bagi Pak Suko, Pak Malik adalah guru sekaligus sosok ayah yang patut diteladani. Ia menerima nasihat tersebut ketika sedang mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran yang mengharuskannya berkomunikasi secara intensif dengan Pak Malik.
Nasihat, atau lebih tepatnya pesan-pesan Pak Malik, begitu hidup dan relevan dengan realitas kekinian, terutama bagi para pimpinan yang dipercaya Persyarikatan untuk mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi.
Karena itu, pesan tersebut relevan untuk diungkap kembali.
Memimpin AUM ataupun menakhodai sebuah perguruan tinggi di era sekarang ibarat mengendarai jet coaster: penuh kelokan tajam, tanjakan terjal, dan membutuhkan kecepatan tinggi.
Hal ini sangat dipahami oleh sosok yang dikenal sebagai begawan pendidikan Indonesia tersebut.
Menteri Pendidikan Nasional era Presiden Megawati ini menyampaikan mantra sakti berupa tiga pesan visioner, seni tingkat tinggi dalam merawat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), yaitu kesiapan “ngeloni” AUM, menjaga kredibilitas, dan melakukan inovasi tanpa henti.
Pemimpin AUM Harus Ngeloni
Ngeloni dalam bahasa Jawa menggambarkan seorang ibu yang memeluk, menjaga, dan menemani anaknya tidur dengan penuh kasih sayang.
Namun, bagi Pak Malik istilah ini bertransformasi menjadi filosofi kepemimpinan yang luar biasa.
Menurutnya, pimpinan AUM —termasuk menjadi rektor— harus senantiasa terjaga dan mampu menjaga, merawat, mengembangkan, serta membesarkan institusinya secara total.
Totalitas ini, lanjutnya, menyangkut keseluruhan potensi intelektual, spiritualitas, dan moral.
Pasalnya, mengelola AUM bukan sekadar urusan birokrasi, tekad membara, dan semangat mengabdi semata karena yang mereka hadapi adalah dunia yang berubah sangat cepat dan menuntut antisipasi yang cepat, tepat, dan strategis. Ia tidak boleh lengah sekejap pun.
Ketika seorang pemimpin ngeloni institusinya, hakikatnya ia sedang mengayomi seluruh warga, merawat, dan memberikan kenyamanan yang berdampak pada meningkatnya komitmen dan produktivitas kerja.
Simon Sinek dalam Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull Together and Others Don’t (2014) menyebut bahwa pemimpin hebat adalah mereka yang menciptakan Circle of Safety (lingkaran keamanan) bagi institusinya.
Tugas dan fungsi ngeloni oleh seorang pimpinan adalah menebarkan harmoni dan memberi rasa nyaman kepada semua pihak yang terlibat dalam agenda road map institusi, menjamin kesejahteraan guru, dosen, karyawan, dan mahasiswa. Selain itu juga merawat iklim akademik dan nonakademik sepenuh hati menuju keberhasilan institusi.
Jaminan lingkungan belajar yang aman dan nyaman dapat memicu loyalitas dan fokus penuh untuk membesarkan AUM bersama-sama tanpa perlu khawatir terhadap gangguan dari dalam.
Pemimpin yang ngeloni adalah mereka yang paling dahulu bertindak, memberi contoh, dan paling akhir berhenti bekerja. Ia bukan sekadar datang dan pergi tanpa makna.
Ngeloni adalah soal komitmen, tanggung jawab, kerja keras, kesungguhan, ketulusan, dan empati.
Kredibilitas dan Rumus Kepercayaan
Pak Suko mendeskripsikan pesan kedua ini secara aksioma matematis-filosofis. Seorang pemimpin AUM harus memiliki kredibilitas diri dengan rumus kepercayaan.
Reputasi seorang pemimpin terletak pada kesiapan dan kemampuannya menjaga kepercayaan serta kredibilitas diri sendiri. Kredibilitas = Integritas + Kapasitas – Self Interest.
Dalam bahasa sederhana, jika seseorang memiliki kejujuran (integritas) yang tinggi dan kemampuan (kapasitas) yang mumpuni, tetapi ego serta kepentingan pribadi (self interest) juga tinggi, maka nilai kredibilitasnya di mata publik akan merosot tajam dan hancur.
Pemimpin dengan kredibilitas tinggi sanggup menekan ego pribadinya demi kemaslahatan sumber daya insani, lingkungan, dan kemajuan institusi.
Konsep ini selaras dengan apa yang ditulis Stephen M.R. Covey dalam bukunya The Speed of Trust: The One Thing That Changes Everything (2006), yang menjelaskan bahwa kepercayaan (trust) dibangun dari dua pilar utama: Character (integritas, niat, dan komitmen) serta Competence (kapasitas dan rekam jejak).
Ketika seorang pemimpin mampu membuktikan kompetensinya dan tetap menempatkan integritas di atas kepentingan pribadi, roda organisasi akan bergerak jauh lebih cepat dan efisien karena seluruh anggota menaruh kepercayaan kepadanya.
Di berbagai lembaga formal maupun nonformal, baik pemerintah maupun masyarakat, bahkan organisasi seperti Muhammadiyah maupun NU sekalipun, sering dijumpai praktik-praktik culas dan manipulatif yang merusak nilai organisasi serta meruntuhkan marwah kepemimpinan.
Hal itu terjadi karena pemimpinnya lebih mementingkan diri sendiri, mengumbar nafsu serakah dengan cara menguasai dan menentukan kebijakan yang menguntungkan dirinya dan kelompoknya.
Tidak jarang, pemimpin seperti ini juga memproduksi kelompok pendukung yang membelanya secara membabi buta.
Pembiaran terhadap kondisi ini sewaktu-waktu dapat membawa institusi menuju jurang kehancuran.
Inovasi Tiada Henti
Dunia berubah sangat cepat. Apa yang terjadi saat ini dapat berganti hanya dalam hitungan detik.
Karena itu, adaptasi dan quick response mutlak dibutuhkan seorang pemimpin AUM.
Kemampuan adaptif dan respons cepat dapat menjaga eksistensi sekaligus memajukan organisasi. Pembaruan harus berjalan secara berkelanjutan dan terus-menerus. Untuk itu, pemimpin tidak boleh cepat puas.
AUM tidak boleh mandek dan hanya menjadi “menara gading” yang sunyi.
Masa depan merupakan hasil imajinasi yang melahirkan inovasi tanpa henti. Tanpa inovasi yang berkelanjutan, AUM sama saja dengan merencanakan kematian diri.
Pesan Pak Malik ini sejalan dengan pemikiran pakar strategi bisnis legendaris, Gary Hamel.
Dalam Leading the Revolution (2000), Hamel secara provokatif berargumen bahwa di zaman yang berubah sangat cepat, kunci keberlanjutan organisasi bukan sekadar melakukan efisiensi, melainkan melakukan “inovasi model bisnis” secara terus-menerus.
Model inovasi ini selalu terbuka dan siap menangkap peluang sekecil apa pun yang muncul di hadapannya.
Di tangan pemimpin inovatif, segala hambatan berubah menjadi tantangan menarik yang mampu menstimulasi growth mindset, sehingga melahirkan ide-ide brilian yang dapat memecut organisasi berlari sangat cepat menembus batas-batas disrupsi zaman.
Dalam konteks ini, seorang pemimpin AUM dituntut memiliki imajinasi yang menuntunnya untuk melihat peluang masa depan yang belum dipikirkan orang lain.
AUM, secara demikian, dipacu agar selalu melahirkan lompatan-lompatan kreatif dan inovatif sehingga tetap relevan serta menjadi motor penggerak dan pionir perubahan.
Sari Pati Pemikiran
Tiga pesan Pak Malik kepada Pak Suko merupakan kompas komprehensif yang saling mendukung dan melengkapi.
Pemimpin yang ngeloni menunjukkan tanggung jawab tinggi, kerja keras, komitmen sepenuh hati, kasih sayang, dan empati.
Rumus kredibilitas berbicara tentang karakter dan etika, sedangkan imajinasi–inovasi berbicara tentang visi masa depan.
Ketiganya merupakan resep paten dan mantra sakti yang dapat mengantarkan institusi melesat tinggi, maju, dan unggul.***





0 Tanggapan
Empty Comments