Hari Bermain Sedunia menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kepedulian terhadap anak-anak, khususnya dalam memberikan ruang bermain yang sehat, aman, dan menyenangkan. Bermain bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, tetapi bagian penting dari proses tumbuh kembang anak yang perlu mendapat perhatian dan perlindungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
Bagi anak-anak, bermain merupakan aktivitas yang selalu dinantikan setelah menjalani berbagai kegiatan belajar. Melalui bermain, mereka dapat melepaskan ketegangan, menyalurkan energi, serta mengembangkan kemampuan sosial dan emosional. Berlari bersama teman, bermain bola, lompat tali, maupun permainan tradisional lainnya menjadi sarana yang menghadirkan keceriaan sekaligus pengalaman berharga.
Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa bermain merupakan hak anak yang harus dipenuhi. Fasilitas bermain tidak selalu harus mahal. Lingkungan rumah, sekolah, maupun ruang terbuka di sekitar tempat tinggal dapat menjadi sarana bermain yang menyenangkan selama dilakukan dengan pengawasan dan pengaturan waktu yang baik.
Bermain memberikan banyak pelajaran kehidupan. Dari aktivitas sederhana tersebut, anak belajar bekerja sama, menghargai teman, memahami aturan, menerima kemenangan maupun kekalahan, serta menumbuhkan sikap sportif. Pengalaman-pengalaman inilah yang kelak menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka.
Pada Kamis, 11 Juni 2026, dunia memperingati Hari Bermain Internasional (International Day of Play) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penetapan ini merupakan hasil perjuangan panjang sejak 2018 untuk mengangkat pentingnya hak anak dalam bermain.
Tahun ini, peringatan tersebut mengusung tema “Protect Play, Protect Childhood” atau Lindungi Bermain, Lindungi Masa Kecil. Tema tersebut mengingatkan bahwa bermain harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri, mengembangkan kreativitas, serta membangun mimpi dan cita-cita mereka.
Kita tentu masih sering mendengar bagaimana anak-anak dengan penuh semangat menyebut cita-citanya. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, tentara, polisi, pengusaha, atlet, bahkan presiden. Meski belum sepenuhnya memahami profesi yang mereka impikan, semangat dan keyakinan itu menunjukkan betapa besar harapan yang tumbuh dalam diri mereka.
Perlindungan terhadap anak dalam bermain merupakan bentuk kasih sayang sekaligus tanggung jawab orang tua. Kehadiran orang tua, kedekatan emosional, perhatian, dan keteladanan menjadi fondasi utama yang akan membentuk karakter anak.
Dari permainan, anak belajar berkolaborasi daripada berkonfrontasi. Mereka belajar menyusun strategi, berpikir logis, berlatih jujur, menghormati orang lain, dan membangun kepercayaan diri. Nilai-nilai tersebut tidak selalu diperoleh melalui pelajaran formal di ruang kelas, tetapi tumbuh secara alami melalui pengalaman bermain.
Namun di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi anak semakin kompleks. Kesibukan orang tua sering kali membuat anak kehilangan pendampingan yang cukup. Sebagai gantinya, mereka diberikan akses yang luas terhadap gawai dan dunia digital.
Jika tidak diawasi dengan baik, kondisi ini dapat membuat anak terpapar berbagai konten yang tidak sesuai dengan usianya. Permainan digital yang mengandung kekerasan, pornografi, hingga paham ekstrem dapat menjadi ancaman serius bagi perkembangan anak. Tidak sedikit pula anak yang mengalami kecanduan gim sehingga mengurangi interaksi sosial dan aktivitas fisik mereka.
Karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting. Anak-anak membutuhkan kehadiran nyata orang tua, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan materi. Keteladanan yang diberikan orang tua dalam kehidupan sehari-hari akan tertanam kuat dalam memori anak.
Ketika anak melihat orang tuanya menjaga ibadah, mereka belajar tentang spiritualitas. Saat melihat orang tua bertutur kata dengan santun, mereka belajar tentang adab. Ketika menyaksikan orang tua berbagi kepada sesama, mereka belajar tentang kepedulian sosial.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 56:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat tersebut mengingatkan pentingnya menjaga dan membimbing anak agar tidak terjerumus dalam berbagai bentuk kerusakan. Pendampingan yang konsisten akan membantu anak memilih aktivitas yang bermanfaat dan menjauhkan mereka dari pengaruh negatif.
Permainan tradisional maupun permainan edukatif sesungguhnya menyimpan banyak nilai pembelajaran. Bermain ular tangga, misalnya, mengajarkan tentang proses, strategi, dan konsekuensi dari setiap langkah. Permainan dakon melatih ketelitian, kemampuan berhitung, serta kejujuran dalam bermain.
Di tengah peringatan Hari Bermain Sedunia, kita juga tidak boleh melupakan anak-anak di berbagai belahan dunia yang belum dapat menikmati masa kecilnya dengan tenang. Anak-anak di Gaza, Palestina, misalnya, masih hidup di tengah ancaman konflik dan kekerasan yang berkepanjangan. Jangankan bermain, untuk menjalani kehidupan sehari-hari saja mereka menghadapi berbagai keterbatasan dan risiko.
Karena itu, Hari Bermain Sedunia hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setiap anak berhak merasakan kebahagiaan, keamanan, dan kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.
Mari kita hadirkan ruang bermain yang sehat dan menyenangkan bagi anak-anak. Lindungi mereka dari berbagai ancaman yang dapat merusak masa depannya. Sayangi mereka melalui keteladanan, perhatian, dan pendampingan yang penuh kasih.
Sebab dari permainan yang sederhana hari ini, bisa lahir generasi masa depan yang kreatif, mandiri, berkarakter, dan mampu memberikan karya terbaik bagi bangsa dan kemanusiaan.





0 Tanggapan
Empty Comments