Setiap manusia pasti memiliki lembaran hidup yang ingin dilupakan. Masa lalu yang kelam. Ada yang pernah terjatuh dalam dosa, pernah salah mengambil keputusan, pernah menyakiti orang lain, atau pernah menjalani masa-masa yang membuatnya menyesal hingga hari ini.
Mungkin sebagian dari kita masih menyimpan luka itu dalam diam. Saat melihat orang lain tampak saleh dan baik, kita merasa tidak pantas. Ketika hendak melangkah ke masjid, mengikuti kajian, atau membuka Al-Qur’an, muncul bisikan, “Untuk apa? Masa lalumu terlalu buruk.”
Padahal, Islam justru datang sebagai agama yang penuh kasih bagi mereka yang pernah hancur dan ingin kembali.
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: Wahai hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
Betapa indahnya ayat ini. Allah memanggil mereka yang “melampaui batas”, bukan hanya orang-orang saleh yang tak pernah berbuat salah.
Segelap apa pun masa lalu seseorang, jika ia kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus, maka pintu ampunan-Nya tetap terbuka.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak mempunyai dosa.” (HR. Ibnu Majah)
Karena itu, jangan terus menghukum diri sendiri. Yang paling berhak menghakimi sudah mengatakan bahwa Dia Maha Pengampun.
Ada orang yang pernah menghabiskan masa mudanya dengan pergaulan yang salah. Bertahun-tahun ia jauh dari salat dan lebih akrab dengan kemaksiatan.
Namun ketika suatu hari ia kehilangan orang yang paling dicintainya, hatinya tersentuh. Ia mulai belajar salat, membaca Al-Qur’an, dan mendatangi majelis ilmu.
Meski terkadang masih menangis karena teringat masa lalunya, perlahan hidupnya berubah. Hari ini justru ia menjadi orang yang paling rajin mengingatkan keluarganya untuk mendekat kepada Allah.
Bisa jadi, masa lalu yang kelam justru menjadi jalan yang mengantarkannya kepada hidayah.
Masa Lalu yang Hancur Adalah Pupuk, Bukan Penjara
Nabi Adam Alaihissalam juga pernah melakukan kesalahan ketika memakan buah yang dilarang. Namun beliau tidak tenggelam dalam penyesalan.
Beliau berdoa: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)
Beliau bertaubat, dan Allah menerima taubatnya.
Karena itu, masa lalu yang pahit sebenarnya memiliki dua fungsi penting:
1. Membuat Kita Mengenal Diri
Kita sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, kita adalah manusia yang lemah dan mudah tergelincir.
2. Membuat Kita Lebih Dekat dengan Allah
Sering kali orang yang pernah jatuh justru memiliki doa yang lebih khusyuk. Air matanya lebih mudah mengalir. Sujudnya lebih lama. Ia tahu betapa mahalnya hidayah.
Seperti seorang yang pernah sakit keras. Setelah sembuh, ia lebih menghargai kesehatan. Ia menjaga pola hidup dan mensyukuri hal-hal kecil yang dahulu dianggap biasa.
Demikian pula orang yang pernah jauh dari Allah. Setelah merasakan pahitnya hidup tanpa petunjuk, ia akan lebih menghargai nikmat iman dan ibadah.
Tiga Langkah Berdamai dengan Masa Lalu
1. Akui Kesalahan dan Bertaubat
Mintalah ampun dengan sungguh-sungguh. Menyesal, menangis, dan merendahkan diri di hadapan Allah bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda hati yang masih hidup.
2. Tutup Pintu Maksiat dan Ganti dengan Amal Saleh
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus kesalahan-kesalahan.”
(QS. Hud: 114)
Jika dahulu tangan kita digunakan untuk hal yang tidak baik, gunakanlah sekarang untuk bersedekah. Jika dahulu lisan kita sering menyakiti orang lain, gunakanlah untuk berdzikir dan berkata baik.
Seseorang yang dahulu menghabiskan malam untuk hal-hal sia-sia, kini menggantinya dengan membaca Al-Qur’an sebelum tidur. Sedikit demi sedikit kebiasaan buruk itu hilang dan digantikan dengan kebiasaan yang mendekatkannya kepada Allah.
Perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah.
3. Terus Melangkah
Masa depan tidak ditentukan oleh siapa kita kemarin, tetapi oleh keputusan yang kita ambil hari ini.
Setan selalu ingin membuat manusia terjebak dalam penyesalan tanpa akhir. Sebaliknya, Allah menginginkan hamba-Nya bangkit dan kembali kepada-Nya.
Karena itu, jika suatu hari setan membisikkan: “Kamu tidak pantas datang ke masjid. Masa lalumu terlalu kotor.”
Jawablah: “Justru karena masa laluku kotor, aku membutuhkan masjid, membutuhkan Al-Qur’an, dan membutuhkan ampunan Allah.”
Allah Mencintai Hamba yang Terus Kembali
Allah tidak membutuhkan hamba yang sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna.
Yang Allah cintai adalah hamba yang terus kembali ketika terjatuh, yang terus mengetuk pintu ampunan-Nya, dan yang tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
Sebagaimana tanah yang pernah retak karena kemarau justru menjadi subur setelah turun hujan, demikian pula hati yang pernah hancur karena dosa bisa kembali hidup dengan taubat dan rahmat Allah.
Semoga Allah Ta’ala menghapus luka dan dosa masa lalu kita, menggantinya dengan kehidupan yang lebih berkah, hati yang lebih tenang, serta akhir yang husnul khatimah.
Āamīn yā Rabbal ‘ālamīn. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments