Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya 2015-2020 menegaskan pentingnya penguatan ukhuwah sebagai fondasi utama dalam membangun dakwah Islam yang berkemajuan.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan silaturahmi yang dihadiri oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Semampir, kader, Amal Usaha Muhammadiyah dan masyarakat setempat.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa istilah silaturahim berasal dari bahasa Arab, yaitu silah yang berarti menyambung dan rahim yang berarti kekerabatan.
Sementara dalam bahasa Indonesia, istilah tersebut diserap menjadi “silaturahmi” dan telah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
“Silaturahim bukan sekadar pertemuan atau aktivitas sosial, tetapi upaya menyambung hubungan yang dilandasi kasih sayang dan tanggung jawab,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa persoalan besar umat Islam saat ini bukan hanya pada aspek ibadah, melainkan lemahnya ukhuwah, baik dalam skala lokal, nasional, maupun global.
Menurutnya, konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia menjadi gambaran bahwa persatuan umat masih menghadapi tantangan serius.
Lebih lanjut, Dr. Mahsun menjelaskan bahwa ukhuwah memiliki cakupan yang luas, meliputi ukhuwah Islamiyah (sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (sesama bangsa), dan ukhuwah insaniyah (sesama manusia).
Ia menekankan bahwa Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada semua manusia tanpa harus mencampuradukkan keyakinan.
“Ukhuwah harus dimulai dari hal-hal kecil, dari lingkungan terdekat. Kita memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada seluruh manusia,” jelasnya.
Dalam membangun ukhuwah, ia menekankan pentingnya konsep silah atau menyambung, yang tidak hanya dimaknai sebagai hubungan fisik, tetapi juga pertukaran pemikiran.
Ia menyebut konsep silatul afkar sebagai bentuk ukhuwah yang lebih produktif melalui dialog dan kolaborasi ide.
Selain itu, ia juga memaparkan lima karakter utama Islam berkemajuan, yaitu tauhid yang murni, berpegang pada al-Quran dan Sunnah, mengedepankan ijtihad dan tajdid (pembaharuan), mengutamakan wasathiyah (moderasi), serta berorientasi pada kemajuan dan kemaslahatan umat.
Menurutnya, dakwah ke depan harus mampu menjawab tantangan zaman dan tidak terjebak pada pola yang monoton. Dakwah berkemajuan harus menjadi gerakan yang mencerahkan, memberdayakan, dan menyatukan umat.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan dan membangun sinergi dalam mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments