Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqam Kota Pasuruan, Ahad (14/6/2026), menghadirkan Ustadz dr. Tjatur Priambodo dari Surabaya dengan tema “Sehat dengan Istighfar.”
Turut dihadiri jamaah dari berbagai kalangan tersebut, beliau menjelaskan hubungan antara amalan istighfar, kesehatan tubuh, dan keseimbangan spiritual seorang muslim.
Pada awal pemaparannya, dr. Tjatur mengajak jamaah memahami keajaiban penciptaan manusia dari sudut pandang ilmu kesehatan. Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia tersusun dari triliunan sel yang menjadi unit terkecil kehidupan.
“Penyakit apa pun pada dasarnya berawal dari gangguan pada sel. Ketika sel sehat, jaringan dan organ akan sehat. Sebaliknya, ketika sel mengalami kerusakan, berbagai penyakit dapat muncul,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang menyebabkan kerusakan sel adalah kurangnya pasokan oksigen. Sel yang kekurangan oksigen dalam jangka panjang akan mengalami penurunan fungsi sehingga dapat memicu berbagai penyakit, seperti diabetes, asma, hipertensi, hingga gangguan organ lainnya.
Dalam kajiannya, dr. Tjatur menjelaskan bahwa istighfar yang dilakukan dengan penuh kesadaran dapat memberikan dampak positif terhadap proses pernapasan dan ketenangan jiwa. Kondisi tersebut membantu tubuh memperoleh suplai oksigen yang lebih baik.
Ia mengibaratkan oksigen sebagai bahan bakar yang dibutuhkan sel untuk menjalankan metabolisme, sedangkan karbon dioksida merupakan hasil sisa yang harus dikeluarkan dari tubuh.
“Ketika seseorang beristighfar dengan tenang dan khusyuk, tubuh menjadi lebih rileks. Proses pernapasan menjadi lebih baik sehingga kebutuhan oksigen sel dapat terpenuhi dengan optimal,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas oksigenasi akan membantu proses pemulihan sel-sel tubuh yang mengalami gangguan sehingga kesehatan secara keseluruhan dapat terjaga.
Meneladani Kebiasaan Rasulullah SAW
dr. Tjatur juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW, meskipun telah dijamin surga dan terjaga dari dosa, tetap memperbanyak istighfar setiap hari.
Ia mengutip sejumlah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW beristighfar antara 70 hingga 100 kali dalam sehari. Menurutnya, hal tersebut menjadi teladan bagi umat Islam untuk senantiasa memohon ampun kepada Allah sekaligus menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
“Kalau Rasulullah yang sudah dijamin masuk surga saja beristighfar sampai 100 kali sehari, maka kita tentu lebih membutuhkan istighfar dalam kehidupan sehari-hari,” katanya di hadapan jamaah.
Gaya Hidup Menentukan Kesehatan
Selain membahas istighfar, dr. Tjatur menekankan pentingnya gaya hidup sehat. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar penyakit yang dialami manusia modern berkaitan erat dengan pola hidup yang dijalani.
Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan yang dicontohkan Rasulullah SAW, seperti menjaga pola makan, memperbanyak ibadah, shalat tahajud, bersedekah, dan beristighfar merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
“Banyak penyakit muncul bukan semata-mata karena faktor keturunan, tetapi karena pola hidup yang kurang baik. Karena itu, memperbaiki gaya hidup merupakan bagian penting dari ikhtiar menjaga kesehatan,” tuturnya.
Istighfar sebagai Ikhtiar dan Bentuk Kerendahan Hati
Pada bagian akhir kajian, dr. Tjatur menegaskan bahwa istighfar bukan hanya sarana memohon ampun kepada Allah, tetapi juga melatih manusia untuk selalu rendah hati dan menjauhi sifat sombong.
Menurutnya, seseorang yang senantiasa beristighfar akan lebih mudah menyadari kekurangan dirinya sehingga terhindar dari sikap merasa paling benar atau paling baik.
“Orang yang banyak beristighfar akan semakin dekat kepada Allah dan semakin jauh dari kesombongan. Kesadaran akan kelemahan diri itulah yang membuat seseorang terus memperbaiki diri,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk membiasakan istighfar minimal 100 kali setiap hari sebagaimana teladan Rasulullah SAW, disertai keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.
Pengajian Ahad Pagi yang berlangsung sejak pukul 06.00 WIB tersebut berlangsung khidmat dan interaktif. Selain kajian keislaman, panitia juga menyediakan berbagai layanan bagi jamaah, seperti konsultasi kesehatan, konsultasi hukum, bazar, kopi gratis, serta pembagian doorprize. Acara ini menjadi bagian dari upaya Masjid Darul Arqam Kota Pasuruan dalam menghadirkan dakwah yang menyentuh aspek spiritual sekaligus memberikan manfaat praktis bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments