Dua pekan pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT), kebutuhan penyintas bergeser. Jika pada fase awal penanganan lebih banyak berkutat dengan trauma dan cedera, kini tim medis mulai menghadapi peningkatan kasus penyakit infeksi di tengah kondisi pengungsian.
Perubahan situasi itu terlihat dari layanan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah melalui Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah. Sepanjang 17–28 Agustus 2026, tim medis tersebut telah memberikan layanan kesehatan kepada 2.222 pasien.
Layanan itu merupakan bagian dari program Indonesia Siaga. EMT Muhammadiyah masih menjalankan masa tugas selama 30 hari untuk membantu masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah Flores, NTT.
Data tersebut disampaikan berdasarkan laporan pelayanan kesehatan EMT Muhammadiyah yang diterima Lazismu. Rumah sakit lapangan yang telah memenuhi standar World Health Organization (WHO) itu melayani penyintas dari berbagai kelompok usia, mulai bayi hingga lansia.
Dari total pasien, 1.328 merupakan perempuan dan 894 laki-laki. Sebanyak 13 pasien di antaranya merupakan ibu hamil.
Berdasarkan kelompok usia, layanan diberikan kepada 54 bayi, 128 balita, 178 anak-anak, 78 remaja, 1.317 dewasa, dan 467 lansia.
Ketua EMT Muhammadiyah, dr. Corona Rintawan, mengatakan pola kasus yang ditangani tim medis mengalami perubahan seiring berjalannya masa tanggap darurat.
Pada hari-hari awal, tim masih banyak menangani pasien dengan trauma atau cedera akibat gempa. Namun, kasus tersebut mulai menurun setelah mendapatkan penanganan medis.
Sebaliknya, penyakit infeksi mulai meningkat. Kondisi lingkungan di sekitar tempat pengungsian menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian.
“Setelah mendapat penanganan dari tim medis darurat, data yang ada menunjukkan penurunan kasus trauma atau cedera dan kenaikan penyakit infeksi yang kemungkinan muncul akibat kondisi lingkungan di sekitar pengungsian,” ujar Corona dari Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah, Senin (31/8/2026).
Data pelayanan menunjukkan infeksi saluran pernapasan menjadi kasus terbanyak dengan 437 kasus. Berikutnya adalah myalgia atau nyeri otot dan pegal-pegal sebanyak 372 kasus.
Kasus hipertensi tercatat 233 pasien. Sementara gangguan pencernaan berupa dyspepsia mencapai 186 kasus. Adapun cephalgia atau sakit kepala dan nyeri pada bagian leher hingga tengkuk ditemukan pada 153 pasien.
Perubahan pola penyakit tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti ketika korban luka mulai tertangani. Setelah fase akut berlalu, persoalan kesehatan di tempat pengungsian justru dapat berkembang menjadi tantangan baru.
Sanitasi dan Air Bersih Jadi Perhatian
Corona menilai edukasi kesehatan kepada penyintas perlu semakin diperkuat. Pola hidup bersih dan sehat harus menjadi bagian dari keseharian selama masyarakat masih berada di lokasi pengungsian.
Pemanfaatan sanitasi secara baik dan pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi dua hal penting untuk mencegah munculnya penyakit berbasis lingkungan.
“Dengan demikian, penyintas dapat mencegah penyebaran penyakit sekaligus menjaga kesehatan dasar di lingkungan sekitar tenda pengungsian,” tuturnya.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting karena jumlah pengungsi masih sangat besar. Berdasarkan data visual antarmuka BNPB per 31 Agustus 2026, sebanyak 183.673 jiwa masih mengungsi di tujuh kabupaten terdampak di Flores.
Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 50.556 jiwa dan Nagekeo 50.276 jiwa. Berikutnya Manggarai Timur 30.098 jiwa, Manggarai Barat 27.564 jiwa, Ngada 19.369 jiwa, Sikka 5.658 jiwa, dan Ende 152 jiwa.
Sementara itu, masa status keadaan darurat bencana yang ditetapkan Bupati Manggarai Barat melalui Surat Keputusan Nomor 229/KEP/HK/2026 telah berakhir. Status tersebut berlaku selama 14 hari, sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.
Namun, berakhirnya status keadaan darurat tidak serta-merta mengakhiri kebutuhan pelayanan kesehatan. Di tengah masih banyaknya masyarakat yang tinggal di pengungsian, layanan medis dan psikososial tetap dibutuhkan untuk memastikan penyintas dapat melalui fase pemulihan dengan aman.
Pemerintah juga masih melakukan penanganan krisis kesehatan. Hingga 26 Agustus 2026, Kementerian Kesehatan telah menerjunkan 392 tenaga kesehatan ke tujuh kabupaten di Kepulauan Flores. Dua rumah sakit lapangan berbasis tenda juga didirikan untuk memperkuat layanan medis, khususnya bagi penyintas dengan kondisi luka berat.
Di tengah fase pemulihan tersebut, EMT Muhammadiyah melanjutkan layanan kesehatan selama masa tugas 30 hari.
Pergeseran kasus dari trauma menuju penyakit infeksi menjadi pengingat bahwa dalam penanganan bencana, menyelamatkan korban hanyalah tahap awal. Menjaga kesehatan mereka selama berada di pengungsian adalah pekerjaan berikutnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments