Konten Viral dan Pengaruh Sosial
Salah satu video paling berpengaruh yang membuat namanya mendunia adalah kisah tentang Hadiya Nassar, seorang nenek Palestina berusia 80 tahun yang ia temui pada 2024. Dalam video itu, Saleh menunjukkan kartu identitas sang nenek sambil berkata bahwa Hadiya “lebih tua dari negara Israel.” Kalimat itu menyentuh banyak hati dan menjadi simbol panjangnya penderitaan rakyat Palestina.
Beberapa bulan kemudian, ketika Hadiya tewas tertembak sniper Israel, Saleh menyampaikan kabar duka itu dengan penuh emosi. Unggahannya viral dan disaksikan jutaan orang di seluruh dunia.
Selain kisah tersebut, banyak video Saleh memperlihatkan keberanian luar biasa — melaporkan langsung dari lokasi pengeboman atau berdiri di depan rumah sakit yang baru diserang. Dengan suara bergetar dan mata berkaca, ia tetap menyampaikan berita. Gaya reportasenya yang penuh empati menjadikannya sosok yang dicintai banyak orang, terutama generasi muda Palestina.
Suara di Tengah Perang Informasi
Dalam perang modern, media sosial menjadi medan pertempuran narasi. Saleh memahami hal ini dengan baik. Ia memanfaatkan platform digital bukan hanya untuk melaporkan peristiwa, tetapi untuk menggugah kesadaran dunia.
Kalimat pembuka khasnya, “Lihatlah kami, kami manusia seperti kalian,” menggambarkan misi kemanusiaannya. Ia ingin dunia melihat Gaza bukan hanya sebagai zona perang, tetapi sebagai rumah bagi orang-orang yang punya impian dan keluarga.
Dengan alat sederhana, ia menjadikan ponsel sebagai senjata kesadaran publik. Di era digital, pengaruhnya bahkan bisa menandingi lembaga media besar. Banyak media internasional menggunakan video-videonya sebagai sumber lapangan dan bukti visual kondisi nyata Gaza.
Kontroversi dan Tuduhan
Popularitas besar tidak datang tanpa bayangan. Saleh sempat dituduh sebagai penyebar propaganda atau memanfaatkan tragedi untuk ketenaran. Ada pula pihak yang menudingnya menyalahgunakan dana donasi untuk rumah sakit anak di Gaza. Namun tuduhan itu tak pernah terbukti, dan banyak aktivis menilai hal itu hanyalah upaya untuk menjatuhkan kredibilitasnya.
Rekan-rekan jurnalis dan relawan internasional membelanya. Mereka menyebut Saleh sebagai simbol keberanian jurnalis independen yang bekerja tanpa perlindungan lembaga resmi, menghadapi ancaman fisik, tekanan psikologis, dan fitnah politik sendirian.
Hubungan dengan Hamas dan Kompleksitas Politik
Kehidupan di Gaza selalu bersinggungan dengan Hamas sebagai penguasa de facto. Saleh berada di posisi sulit antara menjaga independensi dan berinteraksi dengan pihak yang menguasai wilayah. Meski dikenal dekat dengan beberapa aktivis yang berafiliasi dengan Hamas, ia tak pernah menjadi bagian dari struktur politik mana pun.
Posisinya yang netral sering menimbulkan persepsi ganda — sebagian menilai ia berpihak, sebagian lagi melihatnya sebagai jurnalis yang hanya berusaha menunjukkan kenyataan. Di tengah konflik antar milisi dan ketegangan internal Gaza, peran publik seperti yang diemban Saleh memang penuh risiko.
Kematian Tragis
Tragedi menimpa Saleh pada 12 Oktober 2025 di kawasan Sabra, Kota Gaza. Ia tewas tertembak saat meliput bentrokan bersenjata antara pasukan keamanan Hamas dan kelompok milisi lokal Doghmush. Saksi mata menyebut Saleh mengenakan rompi bertuliskan “PRESS” ketika peluru menghantam tubuhnya.
Kabar kematiannya memicu gelombang duka luar biasa. Ribuan warga menghadiri pemakamannya, sementara linimasa media sosial dipenuhi ungkapan belasungkawa. Tagar #RIPSalehAlJafarawi dan #VoiceOfGaza menjadi trending global.
Banyak tokoh dunia menyoroti betapa berbahayanya menjadi jurnalis di wilayah konflik, di mana batas antara peliputan dan bahaya sering kali menghilang. Dalam sekejap, Saleh berubah dari penyampai berita menjadi bagian dari berita itu sendiri.





0 Tanggapan
Empty Comments