Dalam diskusi tentang kelahiran Soekarno antara PWMU.CO dan Begandring Soerabaia, Ahad (07/06/2026), peran sosok ini sangat krusial. Sambil menjalankan tugas guide tersertifikasi Kampung Heritage Peneleh, ia wira-wiri membawa salinan dokumen kelahiran Soekarno. Untuk membuktikan Soekarno benar-benar arek Suroboyo. (Diskusi dimaksud adalah: Patahkan Argumen Ploso Jombang, Ini 3 Alasan Kuat Soekarno Lahir di Surabaya)
Kertas fotokopi itu disimpan dalam sebuah map kecil. Berkali-kali dia membukanya. Kemudian mengeluarkan satu-dua dokumen. Lantas mengomentarinya. Itu dilakukan berulangkali oleh pria yang juga peserta Muhammadiyah Historical Walk di kawasan Ampel itu.
“Berbagai dokumen ini jelas menunjukkan Soekarno itu memang lahir di Surabaya,” jelas pria berperawakan tinggi besar itu, Toufan Hidayat. Dalam kesehariannya sebagai guide bersertifikat, dia selalu membawa tas ransel untuk menyimpan berbagai salinan dokumen tersebut.
Ketika membicarakan tentang nama “kota” dan “Keresidanan”, Toufan membuka dokumen Buku Induk Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) 1921. Pria yang suka bertopi itu lantas membandingkan milik Soekarno dan beberapa teman seangkatannya.
“Ini ada yang kelahiran Mojokerto, yang pada saat itu masuk Keresidenan Surabaya. Tapi di sini ditulis kota lahirnya adalah Mojokerto. Bukan Surabaya,” jelasnya bersemangat sambil menambahkan adanya mahasiswa yang ternyata kelahiran Peterongan, Jombang.
“Pada zaman kolonial, Peterongan itu merupakan sebuah kota yang telah eksis. Sehingga disebut juga sebagai tempat lahir. Dan, ia juga masuk Keresidenan Surabaya. Tapi lahirnya tetap ditulis Peterongan,” jelasnya berapi-api.
Selain fotokopian buku induk mahasiswa ITB, berbagai fotokopi dari arsip nasional juga dibawa oleh pria yang mengaku simpatisan Muhammadiyah itu. Sejarawan partikelir ini ingin menunjukkan secara tegas bahwa Soekarno memang lahir di Surabaya. Dan, berbagai tumpukan fotokopi dokumen itu selalu dibawanya saat menemani para pecinta sejarah mengelilingi Kampung Peneleh.

Bagi Muhammadiyah sendiri, Soekarno adalah salah satu tokoh pentingnya. Di Muhammadiyah, ia dikenal dengan berbagai slogannya yang popular. Dua di antaranya yang terkenal adalah “Sekali Muhammadiyah Selamanya Muhammadiyah” dan “Makin Lama Makin Cinta”.
Untaian kata “Makin Lama Makin Cinta” ini bahkan menjadi judul buku perayaan setengah Abad Muhammadiyah, 1962. Diterbitkan oleh Kementerian Penerangan yang saat itu diketuai Roeslan Abdulgani, Soekarno menyampaikan tahniah untuk Muhammadiyah yang dikenalnya sejak usia 15 tahun.
“Jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya,” tulis Soekarno yang sejak tahun 1938 secara resmi masuk menjadi anggota Muhammadiyah.





0 Tanggapan
Empty Comments