Tabayyun dalam Islam adalah meneliti, memverifikasi, dan mengklarifikasi suatu informasi atau berita sebelum mengambil tindakan atau keputusan. Kata ini berasal dari bahasa Arab yang berarti “mencari kejelasan hingga jelas benar keadaannya”. Prinsip ini sangat penting untuk menghindari fitnah, salah paham, dan merugikan orang lain.
Tabayyun, periksa ulang, cek dan ricek, perkara penting yang diajarkan Islam pada orang-orang beriman. Allah Ta’ala berfirman:
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإࣲ فَتَبَیَّنُوۤا۟ أَن تُصِیبُوا۟ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةࣲ فَتُصۡبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِینَ }
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Ḥujurat: 6)
Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.”
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di saat menerangkan ayat di atas, beliau berkata, “Termasuk adab bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang dari orang kafir hendaknya dicek terlebih dahulu, tidak diterima mentah-mentah. Sikap asal-asalan menerima amatlah berbahaya dan dapat menjerumuskan dalam dosa. Jika diterima mentah-mentah, itu sama saja menyamakan dengan berita dari orang yang jujur dan adil. Ini dapat membuat rusaknya jiwa dan harta tanpa jalan yang benar. Gara-gara berita yang asal-asalan diterima akhirnya menjadi penyesalan.”
Sekali lagi untuk berita dari orang fasik, hendaklah benar-benar dilakukan kroscek dan cari kejelasan. Jika sudah dapat bukti akan benarnya berita tersebut, baru boleh diterima. Jika terbukti dusta, maka jelas harus didustakan dan tidak boleh diamalkan.”
As Sa’di menyatakan lagi selanjutnya, “Ayat tersebut juga jadi dalil bahwa berita dari orang yang jujur itu diterima. Sedangkan berita dari orang yang berdusta, tertolak. Sehingga berita dari orang fasik, maka didiamkan.
Oleh karenanya salaf tetap masih menerima riwayat dari orang Khawarij yang terkenal jujur walau ia fasik.” Demikian disebutkan oleh Syaikh dalam Taisir Al Karimir Rahman.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkaitan dengan kisah kesalahpahaman yang terjadi di antara para sahabat ketika menarik zakat Bani Musthaliq.
Berikut hadisnya: dari al-Harits bin Dhirar al-Khuza‘i radhiyallahu anhum berkata:
“Aku datang kepada Rasulullah saw, lalu beliau mengajakku masuk Islam, aku pun masuk Islam dan mengakuinya. Beliau juga mengajakku berzakat, maka aku pun mengakuinya. Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku akan kembali pada kaumku lalu mengajak mereka pada Islam dan menunaikan zakat. Siapa yang menanggapi seruanku, akan aku kumpulkan zakatnya, kemudian utuslah seorang utusan kepadaku pada waktu tertentu untuk membawa kepadamu zakat yang telah aku kumpulkan.’
Ketika al-Harits telah mengumpulkan zakat dari orang-orang yang menanggapi seruannya, dan telah sampai pada waktu yang ditentukan Rasulullah saw pun mengutus utusan padanya. Ternyata utusan itu tertahan dan tidak datang. Maka al-Harits mengira bahwa telah terjadi kemurkaan dari Allah dan Rasul-Nya. Lalu ia memanggil pemuka-pemuka kaumnya dan berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya Rasulullah saw telah menetapkan waktu untuk mengutus utusannya guna mengambil zakat yang ada padaku. Sedangkan Rasulullah saw tidak mungkin ingkar janji. Dan aku tidak melihat tertahannya utusannya kecuali karena adanya kemurkaan yang telah terjadi. Maka mari kita berangkat mendatangi Rasulullah saw.”
Pada saat yang sama, Rasulullah ﷺ mengutus al-Walid bin ‘Uqbah kepada al-Harits untuk mengambil zakat yang ada padanya. Tetapi ketika al-Walid sampai di tengah jalan, ia merasa takut lalu kembali. Ia pun datang kepada Rasulullah saw dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya al-Harits menolak zakat kepadaku dan hendak membunuhku’. Maka Rasulullah ﷺ pun mempersiapkan pasukan menuju al-Harits.
Adapun al-Harits sendiri telah berangkat bersama para sahabatnya. Hingga ketika pasukan Rasulullah keluar dari Madinah, mereka bertemu dengan al-Harits. Maka pasukan para sahabat berkata: ‘Itu dia al-Harits.’
Tatkala Al Harits mendekati pasukan Rasulullah, ia berkata: ‘Untuk siapa kalian diutus?’
Mereka menjawab: ‘Kepadamu.’ Ia bertanya: ‘Mengapa?’
Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah kepadamu, lalu ia mengaku bahwa engkau menolak zakat kepadanya dan hendak membunuhnya.’
Al-Harits berkata: ‘Tidak, demi Zat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan ia pun tidak datang kepadaku.’
Maka ketika al-Harits masuk menemui Rasulullah saw, beliau bersabda: ‘Engkau menolak zakat dan hendak membunuh utusanku?!’. Ia menjawab: ‘Tidak, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran. Aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan ia pun tidak datang kepadaku. Dan aku tidak datang kemari melainkan karena tertahannya utusan Rasulullah saw, aku khawatir itu pertanda adanya kemurkaan dari Allah dan Rasul-Nya.’
Maka turunlah firman Allah:
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإࣲ فَتَبَیَّنُوۤا۟ أَن تُصِیبُوا۟ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةࣲ فَتُصۡبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِینَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” [QS Al-Ḥujurat: 6-8 (HR Ahmad, dishahihkan Al Albani)
Tabayyun, Sifat Orang Beriman
Allah membuka ayat ini dengan menyeru orang-orang beriman. Keimanan mereka akan membuat mereka menjawab seruan Allah, merenungkan, mengamalkan dan merasakan manfaatnya.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu pernah berkata:
إِذَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا، فَارْعِهَا سَمْعَكَ، فَإِنَّهُ خَيْرٌ تُؤْمَرُ بِهِ، أَوْ شَرٌّ تُنْهَى عَنْهُ..
“Jika engkau mendengar Allah berfirman ‘Wahai orang-orang yang beriman!’, maka pasanglah baik-baik pendengaranmu, karena sesungguhnya itu pasti berisi kebaikan yang engkau diperintahkan untuk melakukannya, atau keburukan yang engkau dilarang darinya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Begitulah dalam urusan Tabayyun ini, orang beriman adalah orang yang semangat mengamalkannya sehingga ia pun selamat dan tidak mencelakai orang lain.
Adapun orang yang tidak beriman atau tipis imannya, standar dia dalam menerima informasi adalah hawa nafsunya. Jika sesuai hawa nafsu, dia terima dan follow up (tindak lanjuti), jika tak sesuai hawa nafsu dia tolak dan diamkan.
Berita Orang Fasik
Orang fasik adalah orang yang terbiasa untuk mengerjakan dosa-dosa besar, dia biasa mabuk-mabukan, biasa berjudi, biasa berzina dan lain sebagainya. Ada penyakit dalam hatinya sehingga dosa-dosa besar tersebut biasa saja dia kerjakan bahkan kadang dipamerkan pada manusia.
Maka, seorang mukmin harus hati-hati terhadap berita yang datang dari orang semacam ini. Hatinya tidak bertakwa pada Allah, sehingga boleh jadi dan mudah saja dia menyebar berita dusta untuk tujuan-tujuan tertentu.
Sebaliknya, berita orang yang jujur dan bertakwa, maka ia bisa diterima. Syaikh as Sa’di mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat ini.
فَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ خَبَرَ الصَّادِقِ مَقْبُولٌ، وَخَبَرَ الْكَاذِبِ مَرْدُودٌ، وَخَبَرَ الْفَاسِقِ مُتَوَقَّفٌ فِيهِ كَمَا ذَكَرْنَا
“Pada ayat ini terdapat dalil bahwa berita dari seseorang yang jujur diterima, berita dari seorang pendusta ditolak, berita dari seorang fasik mesti diteliti kembali sebagaimana kami sebutkan.” (Tafsir as sa’di)
Bagaimana Jika Tak Tabayyun?
Allah sebutkan dua hal buruk jika tidak bertabayyun atau kroscek ulang:
Mencelakakan suatu kaum dengan kebodohan.
• Penyesalan atas perbuatan tersebut.
Tidak tabayyun dengan berita yang dicurigai tidak benar bisa menimbulkan kezaliman pada orang lain. Boleh jadi ada kehormatan yang ternodai, ada harta yang diambil, ada silaturahmi yang terputus bahkan ada darah yang tertumpah karena menelan mentah-mentah berita orang fasik.
Bukan hanya mengorbankan satu orang, bahkan boleh jadi mengorbankan satu masyarakat. Terjadilah kezaliman karena kecerobohan menerima berita. Sangat banyak kejadian dan kenyataan yang mungkin pernah kita lihat terkait hal ini.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita dalam hadits
إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan sebuah kalimat yang tidak ditabayyunkan sebelumnya, karena kalimat itu ia jatuh ke neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur & barat.” (HR.Bukhari)
• Dosa Menzalimi Orang Lain Yang Terus Mengalir
Dan ingat, kezaliman kepada sesama hamba ini akan terbawa terus sampai hari kiamat dan akan menjadi penyesalan bagi pelakunya dan orang-orang yang bersamanya.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ.
“Jagalah diri kalian dari kezaliman, karena kezaliman itu akan menjadi kegelapan di hari Kiamat.” (HR. Muslim). (*)





0 Tanggapan
Empty Comments