Mengenakan kemeja putih lengan panjang yang khas, Muh. Kholid Asyadulloh berdiri mengurai posisi arsip tua di bawah sorotan lampu ruang DAFAM Pacific Caesar Surabaya, Ahad (9/8/2026) malam. Redaktur PWMU.CO itu memaparkan teknik menyusun tulisan sejarah agar tetap menarik dibaca masyarakat umum tanpa mengorbankan keakuratan data dalam agenda Akademi Sejarah Muhammadiyah 2026 Batch 2. Yang intinya, bahasa boleh ringan, tapi data wajib serius.
Kegiatan pelatihan yang diinisiasi oleh Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah bersama LAZISMU Pusat pada 7–11 Agustus 2026 ini mendorong para penulis sejarah Muhammadiyah memanfaatkan media popular sebagai jembatan riset. Penulisan sejarah diminta tidak sekadar memaparkan angka tahun berdiri, tetapi diawali dengan pertanyaan pemantik dan penggalian unsur human interest di balik peristiwa.
“Menulis sejarah untuk publik itu jangan cuma menyuguhkan susunan angka tahun yang kaku. Coba masukkan detail-detail kecil seperti suasana kota atau alat transportasi zaman dulu. Misalnya saat KH Ahmad Dahlan naik dokar dari stasiun Semut ke Peneleh. Supaya pembaca bisa merasakan ruang masa lalu itu hidup kembali,” ujar pria yang pernah menggawangi PWMU.CO 2016-2018 itu.
Dalam sesi ini, Kholid juga memberi warning penting. Bahwa, dalam penulisan sejarah, AI hanya boleh ditempatkan sebagai alat bantu. Bukan sebagai penjawab segala data. Apalagi, tambah Kholid, banyak arsip tentang Muhammadiyah yang belum ter-online-kan.
“Tetapi ingat, meskipun kemasannya popular dan bahasanya kita buat renyah, kita tidak boleh asal tebak. Apalagi mengandalkan AI untuk hal-hal yang mendasar. Bahasa boleh sederhana dan ringan, tapi datanya wajib tetap serius dan akurat,” jelas Pemimpin Redaksi Majalah Matan 2011-2018 itu.
Ia menjabarkan lima prinsip utama dalam menulis sejarah popular. Yaitu data akurat, cerita menarik, sumber data kuat, bahasa ringan, serta memiliki makna yang relevan. Penulis disarankan menggunakan detail spesifik seperti nama jalan, kondisi kota, susunan acara, hingga alat transportasi zaman dulu agar suasana ruang masa lalu kembali hidup.
Guna menjaga bobot tulisan, Kholid mewajibkan verifikasi ketat melalui triangulasi sumber. Bahan cerita dapat digali dari notulen kongres, memori warga, hingga koran tua Belanda seperti De Locomotief dan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië. Langkah ini juga bermanfaat untuk menghidupkan latar geografis tanpa terjebak anakronisme atau istilah yang salah zaman.
Kholid juga mengingatkan peserta untuk selalu memverifikasi tiga elemen paling vital sebelum memublikasikan berita sejarah. Yakni ketepatan nama tokoh, kebenaran tanggal atau tahun, serta kejelasan lokasi. “Sebab, kesalahan dalam penyebutan tiga item ini akan membuat tulisan sejarah kehilangan kredibilitasnya.”
Di kesempatan yang sama, Direktur PWMU.CO Azrohal Hasan menegaskan komitmen lembaganya dalam menyediakan ruang publikasi bagi kerja-kerja kearsipan tersebut. Media digital yang dipimpinnya kini telah genap berumur satu dekade dan terus membuka pintu bagi artikel sejarah berbasis bukti faktual.
“PWMU.CO sudah berumur satu dekade dan tidak ada batasan jumlah artikel yang diunggah. Selama narasi dibangun sesuai data dan fakta lapangan, ruang selalu terbuka,” kata Azrohal.
Sesi interaktif yang berlangsung hangat itu juga membedah penelusuran nama-nama penting yang belum banyak terungkap, seperti sosok Hasan Suradi yang merupakan teman HOS Tjokroaminoto. Juga Tjokroaminoto sendiri yang berpindah-pindah kontrakan di Surabaya maupun Yogyakarta. Termasuk bagaimana memunculkan tokoh penting yang “tenggelam” karena pada zamannya terdapat tokoh yang terlalu besar.





0 Tanggapan
Empty Comments