Di tengah derasnya arus digital yang kian menguasai kehidupan sehari-hari, satu pesan penting kembali ditegaskan kepada para orang tua: Anak tidak membutuhkan orang tua yang tampak sempurna di layar, tetapi yang benar-benar hadir dalam kehidupan mereka.
Pesan ini mengemuka dalam kegiatan parenting yang berlangsung di TK Al Azizi Wage pada Sabtu (11/07/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut menghadirkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz), Heni Dwi Utami SSos SPd Gr sebagai pemateri utama.
Mengusung tema “Dari Generasi Motorik ke Generasi Digital: Menjaga Akhlak Anak di Tengah Gempuran Zaman,” kegiatan ini berlangsung hangat dan interaktif.
Perubahan Dunia Anak
Dengan dukungan media laptop serta brosur materi, penyampaian dilakukan secara komunikatif sekaligus mengajak para orang tua merefleksikan kembali pola pengasuhan yang selama ini dijalani.
Sejak awal sesi, Heni Dwi Utami mengajak peserta melihat realitas yang terjadi saat ini. Dunia anak telah mengalami perubahan yang sangat cepat.
Jika dahulu anak-anak tumbuh sebagai generasi motorik yang aktif bergerak, bermain di luar rumah, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, kini banyak anak yang lebih akrab dengan layar gawai.
Perubahan ini, menurutnya, bukan sekadar pergeseran kebiasaan, tetapi juga perubahan cara anak tumbuh dan berkembang. Anak-anak masa kini menghadapi tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pengasuhan yang lebih sadar dan terarah.
“Anak-anak kita tumbuh di zaman yang berbeda. Tantangannya bukan pada anaknya, tetapi pada kesiapan kita sebagai orang tua dalam mendampingi mereka” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena yang semakin umum terjadi, yaitu penggunaan gawai sebagai alat penenang anak.
Tidak sedikit orang tua yang menjadikan perangkat digital sebagai solusi cepat ketika anak rewel atau membutuhkan hiburan. Tanpa disadari, kebiasaan ini perlahan mengurangi kualitas interaksi antara orang tua dan anak.
Menurutnya, permasalahan utama bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada cara penggunaannya.
Gawai dapat menjadi sarana yang bermanfaat jika digunakan dengan bijak, namun dapat pula berdampak negatif jika tanpa batas dan tanpa pendampingan.
“Yang perlu kita waspadai bukan gawai-nya, tetapi ketika anak lebih dekat dengan layar daripada dengan orang tuanya sendiri” tutur Heni.
Periode Emas Perkembangan Anak
Dalam pemaparannya, Heni juga menekankan pentingnya masa usia dini sebagai periode emas dalam perkembangan anak.
Pada fase ini, sebagian besar perkembangan otak terjadi sehingga anak sangat membutuhkan stimulasi yang tepat, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
Interaksi langsung dengan orang tua menjadi kunci utama dalam proses tersebut. Aktivitas sederhana seperti bermain bersama, mendengarkan cerita anak, atau sekadar bercengkerama memiliki dampak besar dalam membangun kedekatan emosional sekaligus membentuk karakter anak.
Dalam suasana yang semakin reflektif, ia kemudian menyampaikan pesan inti yang menjadi penegasan dari seluruh materi yang disampaikan.
“Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna di hadapan layar, mereka mendambakan orang tua yang hadir seutuhnya di dunia mereka” tegasnya.
Pesan tersebut seketika mengundang keheningan sekaligus perenungan di antara para peserta. Kalimat sederhana itu mengandung makna yang mendalam: Anak tidak menuntut kesempurnaan, tetapi membutuhkan kehadiran yang tulus dan utuh dari orang tuanya.
Beberapa peserta tampak mengangguk, bahkan ada yang mengabadikan pesan tersebut sebagai pengingat dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah Pengasuhan yang Sehat
Untuk membantu orang tua menerapkan pola pengasuhan yang lebih sehat, Heni juga membagikan langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan di rumah.
Di antaranya adalah menetapkan batas penggunaan gawai, menciptakan waktu dan ruang bebas layar, serta mengganti waktu layar (screen time) dengan waktu kebersamaan (connect time).
Ia juga mendorong orang tua untuk membangun komunikasi yang hangat dengan anak, misalnya melalui obrolan ringan sebelum tidur atau yang dikenal dengan istilah pillow talk.
Momen sederhana ini dinilai efektif untuk memperkuat ikatan emosional dan membuka ruang komunikasi yang lebih jujur.
Kegiatan parenting ini tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga ruang berbagi pengalaman antar orang tua.
Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa banyak orang tua menghadapi tantangan yang serupa dalam mendampingi anak di era digital.
Melalui kegiatan ini, SD Mumtaz menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga harus diperkuat melalui pengasuhan yang tepat di lingkungan keluarga.
Di tengah dunia yang semakin digital, kehadiran orang tua tetap menjadi fondasi utama bagi anak. Sebab, pada akhirnya, yang paling diingat anak bukanlah kecanggihan teknologi yang dimiliki, melainkan momen kebersamaan dan kedekatan yang mereka rasakan bersama orang tuanya.





0 Tanggapan
Empty Comments