Enam delegasi dari tiga negara sahabat di Asia Tenggara, yakni Kamboja, Laos, dan Vietnam, datang ke Indonesia untuk mempelajari secara langsung Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Program tersebut diinisiasi Institut Leimena bersama sejumlah mitra dari lembaga pendidikan dan keagamaan.
Para delegasi mengikuti Program Immersion LKLB selama hampir sepekan di Jakarta, 19–23 Agustus 2026. Mereka mendengarkan paparan sekaligus mengobservasi pengalaman Indonesia dalam menjalankan program yang telah melatih lebih dari 11.000 guru dan pendidik.
Delegasi tersebut sebagian besar berasal dari lembaga pemerintah di masing-masing negara. Mereka antara lain berasal dari Kementerian Kultus dan Agama Kerajaan Kamboja serta Universitas Buddha Preah Sihanouk Raja di Phnom Penh, Departemen Etnis dan Urusan Keagamaan di bawah Kantor Perdana Menteri Laos, serta Akademi Nasional Politik Ho Chi Minh yang merupakan lembaga setingkat kementerian di bawah pimpinan tertinggi negara Vietnam, yakni Politburo Partai Komunis.
“Kita ingin berbagi pengalaman yang kita miliki di Indonesia karena Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini bertujuan membangun kohesi sosial dan berkaitan erat dengan upaya bangsa kita dalam mengelola keberagaman,” kata Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Matius mengatakan kehadiran para delegasi untuk mengikuti Program Immersion LKLB mendapat sambutan baik dari Pemerintah Indonesia. Selama di Indonesia, mereka mengikuti berbagai sesi paparan dan audiensi dengan kementerian/lembaga untuk mendengarkan pengalaman pemerintah dalam menjalankan Program LKLB bersama Institut Leimena dan para mitranya.
“Kami memandang baik berbagi pengalaman Program LKLB ini dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Bukan mencoba meniru apa yang kita lakukan di Indonesia karena setiap negara pasti mempunyai konteks berbeda. Kami ingin mereka melihat bahwa berdasarkan apa yang dipelajari dari Indonesia, ada hal-hal baik yang bermanfaat untuk negara mereka dan dari sana kita bisa membangun kerja sama,” ujarnya.
Matius menjelaskan, Program Immersion LKLB telah dilaksanakan empat kali sejak 2025. Secara keseluruhan, sebanyak 24 delegasi dari empat negara ASEAN, yakni Kamboja, Filipina, Laos, dan Vietnam, telah datang ke Indonesia untuk mempelajari Program LKLB.
Menurutnya, Program Immersion memberikan pengalaman menyeluruh kepada delegasi ASEAN dalam mempelajari model LKLB Indonesia. Salah satunya, delegasi dari Kementerian Pendidikan Dasar, Tinggi, dan Teknis Wilayah Otonom Bangsamoro di Mindanao (BARMM), Filipina, diajak melihat pelaksanaan Program LKLB untuk Perdamaian di Ambon, Maluku, yang memiliki kemiripan dengan konteks trauma akibat konflik sosial.
Tiga Kompetensi LKLB
Mantan Menteri Luar Negeri sekaligus Senior Fellow Institut Leimena Alwi Shihab mengatakan Program LKLB berkontribusi dalam membangun toleransi dan kerja sama di kawasan Asia Tenggara melalui penguatan kompetensi untuk hidup dalam masyarakat majemuk.
Menurut Alwi, LKLB mencakup tiga kompetensi utama, yaitu kompetensi pribadi, komparatif, dan kolaboratif.
“Dimulai dari kompetensi pribadi, artinya kita mengetahui betul inti dari ajaran agama kita dalam memandang orang lain yang berbeda. Misalnya, Islam tidak pernah mengajarkan intoleransi, bahkan Islam menganjurkan kita bekerja sama,” kata Alwi.
Ia menjelaskan, Program LKLB di Indonesia berawal dari kegelisahan terhadap tingginya angka intoleransi di kalangan guru agama berdasarkan survei UIN Syarif Hidayatullah tahun 2019.
Atas dasar itu, Program LKLB yang dimulai pada 2021 awalnya menyasar pelatihan bagi guru madrasah. Program tersebut kemudian berkembang menjadi pelatihan sosial-kultural bagi aparatur sipil negara (ASN) sebagai bagian dari upaya memperkuat peran mereka sebagai perekat bangsa.
Peneliti International Institute of Social Studies (ISS) Erasmus University Rotterdam Yuyun Wahyuningrum mengatakan terdapat keingintahuan di kalangan negara-negara ASEAN untuk mengenal LKLB dan memahami bagaimana pendekatan tersebut diterapkan dalam konteks Indonesia.
Ia menegaskan LKLB tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga doable atau dapat diterapkan dalam berbagai konteks masyarakat.
“LKLB merupakan salah satu metodologi yang dianggap bisa direplikasikan di konteks negara-negara Asia Tenggara,” kata Yuyun.
Yuyun mengatakan ASEAN telah mengadopsi pendekatan LKLB ke dalam cetak biru Visi Komunitas ASEAN 2045, khususnya pada pilar Komunitas Sosial Politik dan pilar Sosial Budaya. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mendukung tercapainya kohesi sosial, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan.
“LKLB adalah kerja keras, kerja bersama, kerja terus-menerus, dan kerja meluas. Jadi, karena setiap orang berbeda, konteks juga berbeda, maka harus dilakukan terus-menerus. Inilah yang dilakukan Institut Leimena, tidak hanya dengan guru agama di Indonesia, tetapi juga aktor-aktor penting di luar Indonesia,” ujarnya.
Maha Nayaka Sangha Agung Indonesia Bhante Partono Nyana Suryanadi Mahathera mengatakan, dalam konteks ASEAN, keberagaman bukan sekadar kenyataan sosial, melainkan kekuatan yang harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi sumber konflik.
Menurutnya, pendekatan LKLB berhasil mempertemukan berbagai perspektif keagamaan dalam suasana yang setara.
“Saya melihat bahwa LKLB ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memperluas dialog,” kata Partono.
Sementara itu, Wakil Asia di Dewan Gereja-gereja Sedunia sekaligus Senior Fellow Institut Leimena Pdt. Henriette T. Hutabarat menegaskan bahwa agama dan budaya merupakan dua elemen yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Karena itu, menurutnya, transformasi masyarakat hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan kedua aspek tersebut.
“LKLB adalah ruang aman untuk menanyakan hal-hal yang dianggap sensitif karena kita harus meresponsinya secara jujur dengan tetap menghargai perbedaan yang ada,” kata Henriette.
Program Immersion LKLB menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah dan tokoh agama sebagai narasumber, di antaranya Alwi Shihab, Pdt. Henriette, dan Bhante Partono. Selain mengikuti paparan, para delegasi juga melakukan audiensi ke Kementerian Luar Negeri dan mengunjungi Masjid Istiqlal.
Para delegasi dari Kamboja, Laos, dan Vietnam juga mengobservasi workshop LKLB di Jakarta yang berlangsung Jumat (21/8/2026) hingga Ahad (23/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 40 guru dari sejumlah provinsi di Indonesia.
Dalam workshop tersebut, para delegasi melihat secara langsung bagaimana pendekatan LKLB diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di sekolah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments