Kala itu terdapat Standard Operational Procedure (SOP) yang digunakan sebagai acuan penanganan bagi penderita lumpuh dan lepra, juga pasien buta.
Awalnya, rumah sakit Islam disebut dengan Bimaristan, dari bahasa Persia. Bimar artinya sakit, luka dan cedera. Satan artinya tempat.
Bimaristan yang berarti “tempat orang sakit”, tidak hanya tempat pengobatan tetapi juga tempat operasi dan perawatan pasien yang sakit, terluka, cedera dan berbagai penyakit lainnya yang diderita masyarakat.
Di zaman Khalifah Umayyah bimaristan sudah berdiri di kota Damaskus. Di tempat ini rumah sakit sudah melibatkan sejumlah dokter, tenaga ahli kesehatan dan apoteker yang bergaji. Dengan demikian rumah sakit Islam saat itu sudah dikelola secara modern dan profesional dengan sistem penggajian yang jelas.
Di zaman Khalifah Abbasiyah Baristan juga tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Rumah Sakit Islam di zaman ini antara lain didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid (786-803 M).
Dokter-dokter yang terlibat dalam rumah sakit itu tidak hanya dari kalangan muslim saja, tapi juga dari umat Kristen. Adalah Abu Sa’id Al- Ubaidillah bin Bakhtyashu (940-1058) berasal dari keluarga dokter Kristen.
Pada tahun 982 M di Baghdad telah didirikan rumah sakit oleh Amir Adud al-Daulah yang konon mempekerjakan sekitar 25 dokter dari berbagai spesialis.
Termasuk didalamnya ahli onkologi (berkaitan kanker), bedah dan tulang. Di Mesir rumah sakit Islam disebut al-Mustasyfa. Nama ini baru dikenal saat didirikan rumah sakit Abu Zu’bal di Kairo, Mesir, pada 1825 M yang mengusung konsep modern dan profesional.
Di Damaskus pada abad ke-12, umat Islam memiliki rumah sakit yang lebih besar lagi. Yaitu Rumah Sakit Nuri.
Di rumah sakit ini pengajaran medis diberikan. Selain itu disediakan apoteker, tukang cukur rambut, dan ahli ortopedi, serta ahli mata dan dokter umum. Dewasa ini tidak ada satupun rumah sakit yang menyediakan tukang cukur seperti rumah sakit tersebut.
Rumah sakit Islam zaman itu juga menangani bukan hanya penyakit tubuh, tapi juga penyakit jiwa. Sebuah rumah sakit di Baghdad pada abad ke-9, tempat sarjana kedokteran Al-Razi bekerja, telah memiliki ruang atau bangsal khusus untuk penderita gangguan jiwa.
Di rumah sakit ini soal pengobatan dan perawatan pasien tubuh dan jiwa ini benar-benar mendapatkan pelayanan secara baik tanpa di beda-bedakan.
Rumah sakit Islam semacam ini terus menyebar ke seluruh dunia Muslim, mencapai Andalusia di Spanyol, Sisilia, dan Afrika Utara.
Bahkan Rumah sakit Islam Al-Qayrawan pada abad kesembilan di Tunisia, sudah merupakan lembaga kesehatan yang canggih.
Di dalamnya terdapat aula-aula yang tertata rapi, termasuk ruang tunggu bagi pengunjung dan untuk perawat wanita. Di dalamnya dibangunkan pula masjid bagi pasien yang ingin berdoa, shalat dan beribadah lainnya.
Rumah sakit Islam tersebut juga menyediakan tempat belajar bagi dokter tetap dan para Fuqaha al-Badan. Yaitu sekelompok ulama yang sedang belajar mempraktikkan kedokteran dan layanan medis.





0 Tanggapan
Empty Comments