Termasuk belajar tentang praktik tentang cara mengeluarkan darah, juga tentang proses penyembuhan patah tulang, dan kauterisasi (buat mendeteksi penyakit jantung).
Rumah sakit inipun memiliki bangsal khusus buat penderita kusta yang disebut Dar al- Judhama. Bangunannya itu terpisah, tetapi dekat rumah sakit Al-Qayrawan.
Rumah Sakit jadi Rumah Sehat
Menurut catatan United State National Library of Medicine, hal menarik dari Islam dalam urusan kesehatan adalah prinsip egaliter.
Rumah sakit Islam sejak mula sangat memegang prinsip tidak membedakan pelayanan berdasarkan status sosial, kultur dan finansial.
Baik sipil dan militer, kaya dan miskin, pria dan wanita, tua dan muda, Arab dan ajam, dewasa dan anak-anak, sakit berat dan ringan, bahkan muslim dan non-muslim semua diperlakukan sama dalam pelayanan dan pengobatannya. Sikap Egaliter ini saja sudah merubah pandangan dunia bahwa Rumah Sakit Islam menjadi Rumah Sehat.
Karena semua pasien tidak lagi dibeda-bedakan dalam perawatan dan pengobatan di Rumah Sakit Islam sudah membuat pasien dan keluarganya senang bahagia.
Pasien yang sakit sudah merasa sehat karena penyakitnya akan diobati tanpa ada diskriminasi pelayanan dan pengobatan dari para petugas medis. Apalagi berbagai kebutuhan dan peralatan sudah lengkap dalam melayani mereka benar-benar dirasakan.
Rumah Sakit Islam yang terorganisir pertama dibangun di Kairo antara tahun 872-874, yaitu Rumah Sakit Ahmad ibn Tulun. Rumah sakit ini merawat dan memberikan obat kepada semua pasien secara gratis.
Disediakan pula berbagai fasilitas lain, 1. Dua kolam pemandian, satu untuk pria dan satu untuk wanita, 2. perpustakaan yang kaya dengan buku, dan 3. Layanan psikiatri (psiko logis). Rumah sakit yang seperti ini seakan telah berubah menjadi rumah sehat.
Selain itu Rumah sakit Islam Tulun merupakan institusi kesehatan yang cukup maju pada zaman nya. Setiap pasien telah disediakan tempat untuk menitipkan pakaiannya sehari-hari dan barang- barang berharga mereka kepada pihak rumah sakit yang tercatat.
Barang itu disimpan sebelum pasien memakai pakaian bangsal dan kemudian ditempatkan di tempat tidur yang sudah disedia -kan.
Bahkan setiap pasien itu diberikan jaminan sosial selama dalam perawatan dan sesudahnya. Menurut Dr. Ahmad Zaki Yamani (1978), tidak hanya biaya rumah sakit yang ditanggung negara dari Baitul Mal, tetapi juga sejumlah uang untuk keluarganya selama pasien tidak bekerja mencari nafkah.
Termasuk yang membuat pasien merasa sehat sebelum sembuh, pada saat berada di rumah sakit adalah pelayanan maksimal yang diberikan tenaga medis.
Keikhlasan dan kesungguhan tenaga medis dalam memberikan pelayanan tidak dapat diragukan. Apalagi mereka bekerja karena ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla.
Selain itu, kesejahteraan hidup tenaga medis pun sudah terjamin oleh negara yang makmur dan barokah. Dikeluarkan dari Baitul Mal (kas negara) yang sudah direalisasikannya sejak zaman Khulafaur Rasyidin.
Pasien berada di rumah sakit Islam tidak merasa seperti dipenjara atau dipasung. Apalagi urusan perut dan kebutuhan hidup mereka, termasuk buat keluarga yang ditinggal terpenuhi.
Keperluan hidup mereka dijamin bukan saja yang berkaitan dengan fisik dan jasmani, melainkan juga mental dan spiritual. Makanan dan buah- buahan cukup tersedia termasuk buat penunggunya.
Pembinaan rohani dan spiritual diberikan kepada para pasien agar mereka tetap ingat pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bersyukur dan bertawakal kepada-Nya
Bagi pasien yang sudah sembuh dari pengobatan dan perawatan di rumah sakit disediakan bangsal khusus. Sebelum mereka pulang mendapatkan hiburan dari para penyair, penyanyi dan pelawak hingga mereka bergembira.
Merekapun diberikan hadiah dan pakaian baru, serta sejumlah uang buat keperluan mereka kembali ke rumah atau untuk keluarganya.
Hal ini yang membuat mereka selama berada dalam pengobatan dan perawatan merasa tidak berada di rumah sakit tapi berada di dalam rumah sehat. Hal-hal ini layak menjadikan uswah bagi rumah-rumah sakit Islam di zaman modern sekarang ini.





0 Tanggapan
Empty Comments