Di bawah sinar matahari sore yang hangat, suara riuh penonton bercampur dengan denting gitar dari The Kick yang mengalun di sudut lapangan Karang, Kotagede.
Anak-anak berlarian di tepian lapangan. Sementara para sesepuh duduk santai, menatap pertandingan dengan mata berbinar.
Bukan sekadar sepak bola yang sedang dipertontonkan, tetapi sebuah cerita tentang persatuan, sejarah, dan kepedulian yang menjalar dari Kotagede hingga Palestina.
Turnamen ini dulunya dikenal sebagai PMKG Cup, singkatan dari Pemuda Muhammadiyah Kotagede. Namun, pada 2024, nama itu resmi berganti menjadi Kotagede Cup.
Menurut Primastri Jati, salah seorang penggeraknya, langkah rebranding ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi juga upaya membuka ruang inklusivitas.
“Dengan nama Kotagede Cup, orang akan tahu bahwa ini adalah turnamen asli Kotagede, dan semua bisa merasa terlibat,” ujarnya.
Perubahan ini ternyata membawa semangat baru. Kotagede Cup menjadi magnet bagi warga dari berbagai lapisan, tidak hanya anggota Muhammadiyah, untuk turut serta mendukung.
Lapangan Karang menjadi jantung kegiatan. Pertandingan berlangsung seru, penuh semangat persaingan sehat.
Tetapi pesonanya tidak berhenti di sana. Di luar arena, dua band, The Jeblogs dari Klaten dan The Kick dari Kotagede, menghadirkan suasana hangat dan meriah.
Pemuda Muhammadiyah juga menggelar “aktivasi jalan-jalan”, sebuah cara kreatif untuk mempromosikan sepak bola sekaligus mengenalkan sejarah Kotagede.
“Banyak yang belum tahu kalau bendahara PSSI dimakamkan di Pringgan, di Kotagede. Kami ceritakan itu sambil mengajak orang berkeliling,” kata Jati.
Ada satu prinsip yang tak tergoyahkan: seluruh keuntungan Kotagede Cup didonasikan untuk membantu warga Palestina.

Di tengah keterbatasan, panitia tetap gigih mencari dukungan, termasuk mengirimkan proposal sponsorship ke berbagai perusahaan yang terkait dunia sepak bola.
“Walau penonton dibatasi, hanya 100 tiket per ranting, kami ingin tetap memberi kenyamanan dan menjaga stabilitas tribun,” jelas Jati.
Bagi Jati, suksesnya Kotagede Cup bukan hanya soal lapangan penuh dan pertandingan lancar.
Lebih penting adalah kesadaran masyarakat untuk terlibat dan terbuka pada ide baru.
“Kalau kita tahu siapa pelaku utamanya, pendekatan bisa langsung ke komunitas. Jalan-jalan sambil bercerita membuat kita mengerti kebutuhan mereka,” ungkapnya.
Kini, Kotagede Cup bukan sekadar event olahraga. Ia menjadi jembatan antara sejarah, olahraga, dan semangat sosial-kemanusiaan.
Di lapangan yang sama, para pemuda, tokoh masyarakat, dan warga lintas generasi bersatu. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan gol demi gol, tetapi untuk merayakan identitas, kebersamaan, dan kepedulian.
Kotagede Cup adalah bukti bahwa di tengah gegap gempita pertandingan, ada denyut kemanusiaan yang tak pernah padam. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments