Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya dikemas dengan konsep kreatif dan edukatif, Rabu (26/8/2026). Tak hanya syarat makna keagamaan, ajang ini mengajak para siswa belajar berbagi, mencintai kebersihan, hingga mengasah keberanian tampil di panggung.
Rangkaian acara diawali dengan salat Dhuha berjamaah di lapangan sekolah, dilanjutkan pembukaan resmi, serta aksi unik tukar kue.
Setiap siswa membawa tiga jenis kue dari rumah. Satu kue ditukarkan antar-teman untuk dinikmati bersama di kelas, sementara dua kue sisanya dikumpulkan untuk dibagikan kepada warga dan masyarakat sekitar lingkungan sekolah.
Koordinator Lapangan, Nurun Naharo SAg MPd, sigap mengarahkan para siswa teknis penukaran kue seusai ibadah Dhuha.
“Setelah salat Dhuha, anak-anak silakan mengambil satu kue untuk ditukarkan dengan teman dan dinikmati bersama,” pimpin Nurun Naharo.
Meneladani Akhlak Rasulullah lewat Kebersihan dan Berbagi
Sebelum aksi tukar kue dimulai, Kepala SD Musix Surabaya, Munahar SHI MPd, memberikan pesan mendalam kepada seluruh peserta didik agar menjadikan momen Maulid Nabi untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW.
“Anak-anak, Rasulullah SAW memiliki dua sifat utama yang sangat menonjol, yaitu gemar berbagi dan sangat mencintai kebersihan,” tutur Munahar.
Ia menambahkan agar seluruh siswa senantiasa menjaga kebersihan tempat acara, tidak menyisakan atau membuang makanan, serta tertib membuang bungkus kue ke tempat sampah. Menurutnya, memperingati kelahiran Nabi tak cukup sebatas seremoni, melainkan harus diwujudkan dalam tabiat sehari-hari.
Asah Karya dan Keberanian lewat Kolase serta Pildacil
Ketua Panitia, M Al Amin SHI MPd, menjelaskan bahwa konsep Maulid Nabi tahun ini sengaja dibuat berbeda dari tahun sebelumnya. Jika tahun lalu sekolah menghadirkan pendongeng luar, kali ini panitia memberi ruang ekspresi sepenuhnya kepada para siswa.
“Jika tahun lalu kita mengundang pendongeng, kali ini anak-anak kita ajak langsung berkarya. Kelas rendah mengikuti lomba kolase, sedangkan kelas tinggi mengikuti lomba Pilihan Dai Cilik (Pildacil),” jelas Al Amin.
Teknis perlombaan digelar bertahap. Pada tahap penyisihan, seluruh siswa berpartisipasi di kelas masing-masing. Siswa kelas 1–3 membuat karya kolase didampingi wali kelas dan guru Ummi, sementara kelas 4–6 mengikuti seleksi Pildacil.
Peserta terbaik dari tiap kelas kemudian melaju ke babak final Pildacil yang digelar di Masjid Sholihin kompleks sekolah. Para finalis tampil percaya diri menyampaikan dakwah Islam dengan gaya khas anak-anak yang mengesankan.
Rangkaian Peringatan Maulid Nabi 1448 H di SD Musix diakhiri dengan pengumuman pemenang dan pembagian hadiah. Melalui kombinasi aksi berbagi, kebersihan, seni kolase, hingga syiar Pildacil, siswa diajak memahami bahwa mencintai Rasulullah SAW paling utama diwujudkan melalui amalan nyata. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments