Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengkristalkan Syukur Menjadi Karya

Iklan Landscape Smamda
Mengkristalkan Syukur Menjadi Karya
Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd Guru SD Muhammadiyah 1 dan Sekbid Dakwah PDPM Malang

Syukur aku sembahkan ke hadirat-Mu, Tuhan…

Setiap bulan Agustus tiba, kita kembali melihat merah putih berkibar di berbagai sudut negeri. Upacara digelar, perlombaan diadakan, lagu-lagu perjuangan dinyanyikan. Ada kegembiraan, ada kebanggaan, dan ada pula rasa haru ketika mengingat perjuangan para pendahulu.

Semua itu baik. Bahkan penting. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.

Tetapi, di balik semua kemeriahan itu, barangkali ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: seperti apa sebenarnya cara kita mensyukuri kemerdekaan?

Apakah cukup dengan upacara, memasang bendera, lalu setelah itu kita kembali pada kesibukan masing-masing?

Saya kira tidak.
Sebab kemerdekaan Kemerdekaan semestinya membuat kita tidak hanya pandai bersyukur, tetapi juga terdorong untuk berbuat lebih.

Sebaik-baik kesyukuran adalah ketika darinya tumbuh semangat untuk berkarya, lahir keberanian untuk memperbaiki, dan muncul kesediaan untuk memberdayakan. Syukur tidak seharusnya berputar hanya di lisan dan perasaan. Ia perlu menemukan bentuknya dalam kehidupan.

Syukur yang hidup melahirkan karya. Syukur yang matang melahirkan perbaikan. Dan syukur yang benar menghadirkan kebermanfaatan.

Al-Hasan Al-Bashri pernah mengatakan:

“ _Ya ibna Adam, innama anta ayyām, fa idzā dzahaba yaumun dzahaba ba‘dhuka.”_

Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dari dirimu.

Kalimat ini sederhana, tetapi terasa dalam jika kita renungkan dalam kehidupan sebuah bangsa. Indonesia pun sedang berjalan dari hari ke hari. Usianya bertambah, sementara kesempatan untuk berbuat semakin berkurang.

Maka pertanyaannya bukan hanya berapa tahun Indonesia telah merdeka, tetapi apa yang telah kita tumbuhkan selama kemerdekaan itu?

Apakah ilmu?
Apakah akhlak?
Apakah karya?
Apakah kepedulian?

Atau waktu hanya berlalu tanpa meninggalkan jejak yang berarti?

Karena itu, kemerdekaan seharusnya membuat kita malu jika hanya menjadi penonton.

Anak-anak kita perlu diajarkan bahwa mencintai Indonesia bukan hanya dengan menghafal lagu kebangsaan atau mengikuti upacara. Mencintai Indonesia juga berarti belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga adab, menghormati orang tua dan guru, gemar membaca, berpikir kritis, menguasai ilmu, dan kelak menggunakan ilmu itu untuk kemaslahatan masyarakat.

Para remaja pun tidak cukup hanya menjadi generasi yang sibuk mengejar popularitas. Mereka perlu tumbuh menjadi generasi yang memiliki karakter, kepedulian, karya, dan cita-cita.

Kita ingin melihat wajah-wajah anak penghafal Al-Qur’an yang tumbuh dengan akhlak dan ilmu. Kita ingin melihat geliat remaja saleh dan salehah yang bukan hanya memenuhi masjid ketika Ramadan, tetapi ikut memakmurkannya dengan kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Kita ingin sekolah melahirkan anak-anak yang bukan hanya pandai menjawab soal, tetapi juga mampu menjawab tantangan kehidupan.

Dan kita ingin keluarga menjadi tempat pertama bagi tumbuhnya manusia-manusia yang memiliki iman, ilmu, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Sebab masa depan Indonesia sesungguhnya sedang dibentuk dari tempat-tempat sederhana: ruang kelas, rumah, masjid, tempat kerja, sawah, pasar, dan dari setiap hati yang masih memiliki kepedulian.

Seorang guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh sedang menyiapkan masa depan bangsa.

Seorang petani yang bekerja dengan jujur sedang memberi makan negeri.

SMPM 5 Pucang SBY

Seorang pedagang yang amanah sedang menjaga kepercayaan.

Seorang santri yang tekun belajar sedang menyiapkan dirinya menjadi bagian dari solusi.

Bahkan seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya pun sedang mengambil bagian dalam memperbaiki bangsa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“ _Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās.”_
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Mungkin inilah bentuk syukur yang paling sederhana sekaligus paling nyata: menjadikan keberadaan kita sebagai sebab hadirnya kebaikan bagi orang lain.

Tidak semua orang harus menjadi pejabat. Tidak semua harus menjadi tokoh. Tidak semua harus berdiri di panggung. Tetapi setiap orang dapat menjadi manfaat.

Maka mari kita ubah pertanyaan kita.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah negara berikan kepada saya?”

Sesekali tanyakan, “Apa yang sudah saya berikan untuk negeri ini?”

Tidak harus sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari hal sederhana: menjadi guru yang sungguh-sungguh mendidik, orang tua yang hadir, pelajar yang tekun, pekerja yang jujur, tetangga yang peduli, dan warga yang tidak mudah menyebarkan kebencian.

Sebab kita tidak ingin Indonesia hanya bertahan.

Kita ingin Indonesia bertumbuh.

Dirgahayu negeriku tercinta.

Usiamu sebagai sebuah negeri mungkin masih belia dibanding panjangnya sejarah peradaban manusia. Namun harapan kami tersimpan di hari-hari depanmu: pada wajah anak-anak penghafal Al-Qur’an, pada geliat remaja saleh dan salehah pemakmur masjid, pada setiap langkah generasi muda yang akan kami suburkan dengan istighfar dan karya, lalu kami genapkan dengan tahmid dan produktivitas.

Sebab tujuan kita bernegara bukan hanya untuk bertahan.

Kita bercita-cita agar negeri ini hidup, tumbuh, dan memberi manfaat hingga seribu windu lamanya.

Para pendahulu telah memberikan kita kemerdekaan dengan darah dan air mata.

Kini giliran kita mengisinya dengan ilmu, akhlak, karya, dan pengabdian.

Semoga syukur kita tidak berhenti menjadi kata. Semoga cinta kepada Indonesia tidak hanya terasa setiap bulan Agustus. Dan semoga kemerdekaan yang kita nikmati hari ini kelak menjadi warisan yang lebih baik bagi anak cucu kita.

Merdeka untuk belajar.
Merdeka untuk berkarya.
Merdeka untuk berbuat baik.
Dan merdeka untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Sebab barangkali, itulah cara paling indah untuk mengkristalkan syukur: menjadikan kemerdekaan bukan sekadar sesuatu yang kita rayakan, tetapi sesuatu yang kita isi dengan kebaikan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 17/08/2026 09:08
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu