Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merawat Nalar, Meneguhkan Langkah: Reaktualisasi Khittah Mahasiswa Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Merawat Nalar, Meneguhkan Langkah: Reaktualisasi Khittah Mahasiswa Muhammadiyah
(Foto: Mohammad Jihad Abdillah)
Oleh : Mohammad Jihad Abdillah Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Pertanian (Komperta) Umsida

Darul Arqam Madya atau DAM bukan sekadar jenjang formal dalam sistem perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia adalah ruang pembentukan kader yang lebih dalam, lebih reflektif, dan lebih strategis.

Di dalam DAM, kader tidak hanya menerima materi. Mereka ditempa untuk membaca zaman, menguatkan identitas, membangun kepercayaan diri, serta meneguhkan arah gerakan.

Sebab, IMM tidak lahir untuk menjadi organisasi mahasiswa yang hanya sibuk dengan agenda seremonial. IMM lahir sebagai gerakan intelektual, gerakan moral, dan gerakan sosial yang berpijak pada nilai Islam berkemajuan.

Melalui DAM, kader IMM seharusnya mampu naik kelas; dari sekadar aktivis organisasi menjadi kader yang memiliki kejernihan berpikir, keteguhan sikap, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat. Karena itu, DAM perlu dipahami sebagai ruang inkubasi kepemimpinan, bukan hanya forum perkaderan biasa.

Di dalam forum perkaderan, saya sengaja menegaskan sebuah kegelisahan: kader IMM hari ini tidak boleh datang hanya untuk meratapi keadaan. Kita harus hadir dengan kesadaran penuh untuk memperkuat kembali fondasi gerakan yang mulai goyah.

Lewat momentum Darul Arqam Madya (DAM) ini, sudah saatnya kita merekatkan kembali sekat-sekat yang longgar, menajamkan kembali analisis yang tumpul, serta menancapkan kompas Trilogi dan Trikoda IMM sedalam-dalamnya di dalam dada.

Refleksi ini menjadi sangat krusial karena tantangan yang dihadapi oleh kader IMM hari ini sama sekali tidak sederhana. Kita sedang hidup di tengah kepungan zaman yang bergerak teramat cepat, penuh dengan distraksi digital, pragmatisme politik, budaya instan, hingga melemahnya daya kritis mahasiswa di ruang publik. Jika kita kehilangan kompas ideologis yang jelas, kita akan sangat mudah tergerus dan terseret oleh arus zaman.

Kita harus menyadari satu hal secara mendalam: masa depan bangsa ini tidak sedang menunggu kita di luar sana. Masa depan itu justru sedang kita bentuk dan kita pertaruhkan di dalam ruangan perkaderan ini, detik ini juga.

Reaktualisasi Trilogi IMM

Trilogi IMM, yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan, harus dibaca ulang dalam konteks zaman hari ini. Ia tidak cukup hanya dihafalkan dalam forum formal, tetapi harus dihidupkan dalam tindakan nyata.

Pada aspek keagamaan, kader IMM tidak boleh membiarkan kesalehan berhenti pada batas ritual pribadi. Kesalehan harus bergerak menjadi kekuatan pencerahan sosial. Di era digital, ruang publik dipenuhi oleh dua kecenderungan ekstrem: narasi keagamaan yang keras dan dangkal, atau sebaliknya, sikap keagamaan yang kehilangan kedalaman nilai.

Di sinilah kader IMM harus mengambil peran. Nilai Islam berkemajuan perlu hadir sebagai penyejuk di tengah riuhnya ujaran kebencian, polarisasi, dan dangkalnya percakapan publik. Kader IMM harus mampu menjadikan agama sebagai sumber etika, ilmu, dan pembebasan, bukan sekadar identitas simbolik.

Pada aspek kemahasiswaan, tantangannya tidak kalah serius. Mahasiswa hari ini menghadapi penyakit baru bernama apatisme digital. Banyak mahasiswa terlihat aktif, tetapi sebenarnya pasif secara gagasan. Mereka hadir di kampus, mengejar IPK, menyelesaikan kuliah, lalu masuk ke dunia kerja tanpa pernah benar-benar mengasah kepekaan sosial dan keberanian intelektual.

Siklus pragmatis seperti ini berbahaya. Jika mahasiswa hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, maka fungsi mahasiswa sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa akan melemah. Karena itu, DAM harus menjadi ruang untuk mendefinisikan ulang makna kemahasiswaan.

Kader IMM bukan hanya mahasiswa yang membaca buku di perpustakaan. Kader IMM harus menjadi transformator gagasan. Ia harus mampu menguasai ilmu, memahami teknologi, membaca perubahan sosial, dan menawarkan jalan keluar atas persoalan masyarakat.

Pada aspek kemasyarakatan, kritik terbesar harus diarahkan kepada diri sendiri. Apakah advokasi IMM masih menyentuh akar rumput? Atau justru gerakan mahasiswa terlalu asyik dengan politik elite organisasi?

Masyarakat hari ini menghadapi ketimpangan ekonomi, krisis pendidikan, disrupsi digital, kerusakan lingkungan, dan hilangnya ruang hidup. Dalam kondisi seperti itu, gerakan kemasyarakatan IMM tidak boleh berhenti pada slogan.

Ia harus berubah menjadi aksi yang lebih konkret, seperti pemberdayaan ekonomi kreatif, literasi digital bagi masyarakat rentan, pendampingan komunitas, serta advokasi kebijakan publik berbasis data.

SMPM 5 Pucang SBY

Riuh di jalanan tanpa konsep tidak cukup. Kader IMM harus mampu menggabungkan keberanian moral dengan ketajaman analisis.

Trikoda sebagai Kompas Moral Kader

Selain Trilogi, Trikoda IMM juga harus diletakkan sebagai kompas moral kader. Religiusitas, intelektualitas, dan humanitas bukan sekadar istilah indah dalam dokumen perkaderan. Ketiganya adalah fondasi gerak.

Religiusitas hari ini harus menjadi benteng moral. Di tengah dunia yang serba instan, batas etika sering dikorbankan demi popularitas, jabatan, atau keuntungan sesaat. Maka, religiusitas kader IMM harus tampak dalam integritas. Kader IMM tidak boleh mudah dibeli oleh kepentingan pragmatis. Ia harus berani berdiri di atas nilai, meskipun jalan itu tidak selalu populer.

Intelektualitas juga perlu dimaknai secara lebih maju. Intelektual bukan orang yang hanya pandai menghafal istilah asing atau menang dalam perdebatan. Intelektualitas hari ini berarti kemampuan membaca data, memahami perkembangan teknologi, menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) secara etis, menyaring hoaks, dan menyusun solusi konkret.

Kader IMM harus akrab dengan sains, teknologi, big data, literasi media, dan analisis sosial. Tanpa itu, gerakan mahasiswa akan tertinggal. Kritik tanpa pengetahuan hanya akan menjadi kemarahan kosong.

Sementara itu, humanitas menjadi ujian paling nyata. Empati tidak boleh berhenti pada repost instastory, petisi daring (online), atau ucapan belasungkawa. Humanitas kader IMM harus bergerak. Kader harus hadir saat terjadi bencana, bersuara ketika hak kemanusiaan diinjak, dan merangkul kelompok yang tersisih oleh modernitas.

Humanitas abad ke-21 menuntut kader untuk lebih peka, lebih hadir, dan lebih bekerja. Sebab, keberpihakan kepada manusia adalah salah satu ukuran kematangan gerakan.

Meneguhkan Khittah Berkemajuan

Kader Madya tidak boleh gagap membaca konstelasi kebangsaan hari ini. Indonesia sedang menghadapi pragmatisme politik, krisis keteladanan, apatisme moral, dan melemahnya budaya dialog. Dalam situasi seperti ini, IMM tidak boleh menjadi penonton.

Meneguhkan Khittah Berkemajuan berarti menjadikan IMM sebagai alternatif arah baru bangsa. IMM harus tetap berpijak pada nilai Muhammadiyah, yakni dakwah pencerahan, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan keberpihakan pada kemajuan umat.

Kader IMM adalah anak zaman yang dididik untuk memimpin, bukan mengekor. Karena itu, kader tidak boleh kehilangan keberanian untuk berpikir, keberanian untuk bersikap, dan keberanian untuk bergerak.

DAM harus melahirkan kader yang mampu merawat tradisi kesalehan, mengasah pisau intelektual, dan melebarkan sayap kemanusiaan. Bukan kader yang hanya fasih berbicara di forum, tetapi lemah dalam kerja nyata. Bukan kader yang hanya bangga dengan simbol organisasi, tetapi miskin kontribusi.

Pada akhirnya, perjuangan kader IMM harus tetap memiliki rasa. Sebab, rasa itulah yang merawat nalar agar tidak kering. Rasa membuat gerakan tidak berubah menjadi ambisi kosong. Rasa menjaga intelektualitas agar tetap berpihak pada manusia.

Atas nama cinta, kita berjuang. Dengan cinta, kita bergerak. Dengan ilmu, kita meneguhkan arah. Dengan iman, kita menjaga langkah.

Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 24/05/2026 09:55
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡