Musibah yang menimpa individu maupun suatu bangsa tidak datang tanpa sebab. Menurut KH Nadjih Ihsan, Al-Qur’an menjelaskan bahwa berbagai bencana dan kesulitan merupakan konsekuensi dari penyimpangan manusia terhadap petunjuk Allah, baik dalam aspek akidah maupun perilaku.
Hal itu disampaikan dalam kajian Kitab Tauhid ketika membahas tema Asbabu Hudutsil Mashaib wa Izalatiha (sebab-sebab terjadinya musibah dan cara menghilangkannya). Ia menegaskan bahwa pembahasan tersebut sepenuhnya berlandaskan dalil Al-Qur’an.
“Allah tidak mengubah nikmat yang diberikan kepada suatu kaum sampai mereka sendiri mengubah keadaan yang ada pada diri mereka,” ujarnya mengutip Surah Al-Anfal ayat 53, seperti dilansir di kanal Youtube Masjid Al-Millah Sidoarjo.
Menurut dia, ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah Maha Pengasih dan telah melengkapi manusia dengan petunjuk melalui para rasul.
Karena itu, ketika manusia mengabaikan aturan Allah, kerusakan dan musibah menjadi konsekuensi yang harus dihadapi.
Kiai Nadjih kemudian mengutip Surah Asy-Syura ayat 30 yang menyatakan bahwa musibah yang menimpa manusia merupakan akibat dari perbuatan tangan mereka sendiri.
Dia menjelaskan, kerusakan lingkungan, eksploitasi alam, hingga berbagai persoalan sosial banyak dipicu oleh ulah manusia.
“Rusaknya lingkungan, panas yang berlebihan, kualitas udara yang menurun, semua itu tidak lepas dari tangan manusia yang merusaknya,” kata anggta Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim.
Lebih lanjut, Kiai Nadjih menjelaskan, Al-Qur’an membedakan kerusakan menjadi dua bentuk. Pertama, kerusakan fisik (fasad madi), yakni rusaknya lingkungan dan tata kehidupan. Kedua, kerusakan moral (fasad maknawi), yaitu rusaknya iman, akidah, dan perilaku manusia.
Kata dia, kerusakan moral sering kali tidak tampak secara kasat mata, tetapi dampaknya jauh lebih besar. Judi, minuman keras, kebohongan, hingga perilaku menyimpang lainnya perlahan akan menghancurkan kehidupan masyarakat.
“Yang rusak bukan hanya lingkungannya, tetapi juga akidah dan perilakunya. Dampaknya kemudian meluas menjadi kerusakan sosial,” ujarnya saat menjelaskan Surah Ar-Rum ayat 41.
Dia juga mengingatkan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Karena itu, tugas manusia bukan merusak, melainkan menjaga dan memakmurkan kehidupan.
Nikmat Bisa Dicabut
Dalam kajian tersebut, Kiai Nadjih mengutip Surah An-Nahl yang menggambarkan sebuah negeri yang awalnya aman, tenteram, dan dilimpahi rezeki. Namun, karena penduduknya mengingkari nikmat Allah, negeri itu akhirnya diliputi kelaparan dan ketakutan.
Menurutnya, mengingkari nikmat bukan sekadar tidak mengakui bahwa rezeki berasal dari Allah, tetapi juga mengelola amanah secara tidak jujur, tidak adil, dan tidak transparan.
“Ketika potensi yang Allah berikan dikelola dengan cara yang tidak baik, rakyatlah yang akhirnya merasakan dampaknya,” jelasnya.
Kiai Nadjih menegaskan, solusi utama untuk menghindari berbagai musibah adalah kembali kepada tauhid yang benar.
Dia menjelaskan, tauhid tidak hanya sebatas mengucapkan kalimat syahadat, tetapi juga tercermin dalam kepatuhan terhadap seluruh ajaran Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
Kiai Nadjih mengingatkan, semakin jauh masyarakat dari tauhid, semakin besar peluang munculnya fitnah, konflik, dan berbagai musibah.
“Musibah tidak akan hilang kecuali manusia kembali mentauhidkan Allah dan menegakkan syariat-Nya, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.
Belajar dari Perang Uhud
Kiai Nadjih lantas mengangkat kisah Perang Uhud. Kekalahan kaum Muslim, menurutnya, bukan karena lemahnya jumlah pasukan, tetapi akibat sebagian sahabat tidak menaati perintah Rasulullah.
Dia menilai peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa satu bentuk pelanggaran terhadap perintah Allah dapat membawa dampak besar bagi kehidupan umat.
Karena itu, Kiai Nadjih mengajak umat Islam untuk memperbaiki akidah, menjaga ibadah, serta memastikan segala sesuatu yang dikonsumsi dan dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah.
“Kalau akidah sudah baik, ibadah baik, kejujuran ditegakkan, maka pertolongan Allah akan datang. Sebaliknya, jika manusia terus melakukan kemaksiatan, jangan menyalahkan Allah ketika musibah datang,” katanya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments