Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Nabi Isa Berdoa Meminta Hidangan dari Langit: Pelajaran Iman, Syukur, dan Ujian

Iklan Landscape Smamda
Nabi Isa Berdoa Meminta Hidangan dari Langit: Pelajaran Iman, Syukur, dan Ujian
Nabi Isa Berdoa Meminta Hidangan dari Langit: Pelajaran Iman, Syukur, dan Ujian
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Dosen AIK Universitas Muhammadiyah Malang

Kisah Nabi Isa berdoa agar Allah SWT menurunkan hidangan dari langit atas desakan Bani Israil disampaikan Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 111–115.

وَ اِذۡ اَوۡحَيۡتُ اِلَى الۡحَـوَارِيّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِىۡ وَبِرَسُوۡلِىۡ‌ۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَاشۡهَدۡ بِاَنَّـنَا مُسۡلِمُوۡنَ‏

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia, “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab, “Kami telah beriman, dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim).”
QS. al-Maidah ayat 111.

اِذۡ قَالَ الۡحَـوَارِيُّوۡنَ يٰعِيۡسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ هَلۡ يَسۡتَطِيۡعُ رَبُّكَ اَنۡ يُّنَزِّلَ عَلَيۡنَا مَآٮِٕدَةً مِّنَ السَّمَآءِ‌ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰهَ اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ

(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, “Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.”
QS. al-Maidah ayat 112.

قَالُوۡا نُرِيۡدُ اَنۡ نَّاۡكُلَ مِنۡهَا وَتَطۡمَٮِٕنَّ قُلُوۡبُنَا وَنَـعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَـنَا وَنَكُوۡنَ عَلَيۡهَا مِنَ الشّٰهِدِيۡنَ‏

Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu agar tenteram hati kami dan agar kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan (hidangan itu).”
QS. al-Maidah ayat 113.

قَالَ عِيۡسَى ابۡنُ مَرۡيَمَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَيۡنَا مَآٮِٕدَةً مِّنَ السَّمَآءِ تَكُوۡنُ لَـنَا عِيۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنۡكَ‌ۚ وَارۡزُقۡنَا وَاَنۡتَ خَيۡرُ الرّٰزِقِيۡنَ

Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”
QS. al-Maidah ayat 114.

قَالَ اللّٰهُ اِنِّىۡ مُنَزِّلُهَا عَلَيۡكُمۡ‌ۚ فَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡكُمۡ فَاِنِّىۡۤ اُعَذِّبُهٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُهٗۤ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِيۡنَ

Allah berfirman, “Sungguh, Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah (turun hidangan) itu, maka sungguh, Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam).”
QS. al-Maidah ayat 115.

Secara umum, ayat-ayat tersebut menjelaskan bagaimana umat Nabi Isa AS diberikan nikmat berupa hidangan dari langit sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan sekaligus ujian keimanan.

Dikisahkan, Nabi Isa memerintahkan para Hawariyyun dan umatnya untuk berpuasa selama 30 hari. Setelah itu, mereka meminta diturunkan hidangan dari langit sebagai tanda diterimanya ibadah mereka dan agar hati menjadi tenang.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Nabi Isa sempat menasihati mereka agar bertakwa dan tidak melampaui batas. Namun, karena mereka tetap bersikeras, beliau pun berdoa dengan penuh kerendahan diri—menundukkan kepala, menangis, dan memohon kepada Allah SWT agar permintaan tersebut dikabulkan.

Doa itu pun dijawab. Hidangan turun dari langit melalui sela-sela awan dan disaksikan langsung oleh umatnya. Nabi Isa berdoa agar hidangan tersebut menjadi nikmat, bukan azab.

Hidangan itu disebut terdiri dari tujuh ikan dan tujuh roti, serta berbagai makanan lainnya. Namun, ketika diperintahkan untuk makan, sebagian mereka justru ragu dan enggan.

Akhirnya, Nabi Isa memerintahkan orang-orang fakir, sakit, dan lemah untuk terlebih dahulu menikmatinya. Atas izin Allah, mereka yang memakan hidangan tersebut mendapatkan kesembuhan.

Hidangan dari langit itu awalnya turun setiap hari. Setelah terbukti membawa manfaat, semakin banyak orang yang berani memakannya. Namun, mereka hanya mendapatkan rasa kenyang tanpa keistimewaan seperti sebelumnya.

Kemudian, hidangan tersebut turun selang sehari. Allah SWT juga memerintahkan agar hidangan hanya diberikan kepada orang fakir dan membutuhkan.

Keputusan ini memicu protes dari sebagian orang kaya dan munafik. Akibatnya, Allah SWT menghentikan turunnya hidangan dan memberikan hukuman kepada mereka yang melanggar.

Kisah ini juga diperkuat oleh hadis mauquf yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir, bahwa umat Nabi Isa diperintahkan untuk tidak berkhianat dan tidak menimbun makanan tersebut. Namun, sebagian melanggar sehingga mendapat hukuman.

Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai kisah ini. Jumhur ulama meyakini bahwa hidangan benar-benar diturunkan secara nyata, sesuai dengan teks Al-Qur’an. Sementara itu, Imam Mujahid dan Hasan al-Bashri berpendapat bahwa peristiwa tersebut bersifat kiasan.

Wallahu a’lam bish-shawaab.

Revisi Oleh:
  • Satria - 18/04/2026 12:41
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡