Suara papan ketik bersahut-sahutan di ruang Lembaga Kerja Sama dan Internasionalisasi (LKI) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Rabu pagi, 22 Juli 2026.
Di beberapa meja, staf sibuk menuntaskan pekerjaan yang telah menunggu sejak pagi. Tumpukan dokumen, layar komputer yang menyala, dan sesekali dering telepon menjadi irama keseharian sebuah unit yang mengurusi kerja sama dan internasionalisasi kampus.
Di salah satu sudut ruangan, saya duduk sebagai peserta magang.
Di layar laptop, sebuah video kuliah bertajuk Conflict and Peace Studies berbahasa Inggris sedang diputar dari YouTube. Sesekali video itu saya hentikan untuk mencatat beberapa istilah penting di atas selembar kertas yang sudah penuh coretan.
Pulpen berpindah dari satu baris ke baris lain, berusaha menangkap gagasan yang saya dengar agar tidak hilang begitu saja.
Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa. Sampai kemudian pintu ruangan terbuka.
Rektor Umsura Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., memasuki ruangan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Beliau sedang melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah unit kerja.
Bukan sidak yang bernada mencari kesalahan, melainkan kunjungan untuk melihat secara langsung bagaimana roda organisasi bekerja dari dekat.
Dia menyapa para staf, menanyakan pekerjaan yang sedang dikerjakan, mendengarkan laporan singkat mengenai progres program, lalu berpindah ke meja berikutnya.
Cara sederhana itu membuat dinamika setiap unit tampak lebih nyata daripada sekadar membaca laporan di atas meja kerja.
Setiap unit memiliki karakter dan tantangannya sendiri. LKI, misalnya, menjadi simpul berbagai urusan kerja sama dan internasionalisasi yang terus berkembang.
Melalui kunjungan langsung seperti itu, seorang pimpinan dapat menangkap denyut organisasi secara empiris—sesuatu yang sering kali tidak seluruhnya tergambar dalam dokumen administrasi.
Saya mengira Prof. Mundakir hanya akan melintas. Namun langkahnya berhenti tepat di depan meja tempat saya bekerja.
Dia sedikit membungkukkan badan, memperhatikan layar laptop yang masih menampilkan video kuliah berbahasa Inggris. Matanya lalu beralih ke lembaran catatan yang dipenuhi tulisan tangan.
Sambil tersenyum, beliau bertanya,
“Sedang belajar apa?”
Saya menjelaskan bahwa saya sedang mengikuti materi Conflict and Peace Studies.
Beliau tersenyum lagi.
“Paham bahasa Inggris-nya? Belajarnya lewat video YouTube begitu, ya… bisa paham?”
Pertanyaan itu sederhana. Disampaikan dengan nada bercanda, tanpa kesan menguji ataupun menghakimi.
Saya menjawab sebisanya. Percakapan pun mengalir ringan, hanya beberapa menit. Tidak ada diskusi tentang strategi besar universitas, tidak pula percakapan formal antara seorang rektor dengan peserta magang.
Yang hadir justru sebuah percakapan yang hangat.
Barangkali bagi orang lain, momen itu hanyalah selingan di tengah padatnya agenda seorang pimpinan.
Namun bagi saya, percakapan singkat tersebut meninggalkan kesan yang jauh lebih panjang daripada durasinya.
Di banyak organisasi, jarak sering kali tercipta bukan oleh ruang, melainkan oleh jabatan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin formal pula hubungan yang dibangun. Tidak sedikit peserta magang merasa dirinya hanya pelengkap dalam sebuah institusi besar.
Pengalaman pagi itu menghadirkan kenyataan yang berbeda.
Saya melihat bagaimana perhatian seorang pemimpin tidak berhenti pada pejabat struktural atau staf tetap. Seorang anak magang yang sedang belajar pun memperoleh ruang untuk disapa.
Di situlah saya menangkap pelajaran pertama.
Kepemimpinan yang inklusif tidak selalu diwujudkan melalui kebijakan besar. Ia bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana: menganggap setiap orang layak diajak berbicara, didengar, dan dihargai.
Tidak ada perbedaan perlakuan hanya karena status kepegawaian atau posisi dalam organisasi.
Pelajaran kedua muncul dari suasana percakapan itu sendiri.
Tidak ada kekakuan yang lazim melekat dalam hubungan antara atasan dan bawahan. Candaan ringan yang mengiringi pertanyaan beliau membuat suasana menjadi cair.
Sekat-sekat hierarkis seolah mengendur. Ketika komunikasi berlangsung hangat, lingkungan kerja pun terasa lebih nyaman.
Budaya seperti itu sesungguhnya bukan perkara sepele. Organisasi yang sehat bukan hanya dibangun oleh sistem kerja yang rapi, tetapi juga oleh hubungan antarmanusia yang saling menghargai. Orang bekerja lebih tenang ketika merasa keberadaannya diakui.
Pelajaran ketiga adalah tentang keteladanan.
Di ruang kerja itu saya menyadari bahwa jabatan bukanlah alasan untuk menciptakan jarak. Justru semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar kesempatan yang dimilikinya untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi orang-orang di sekitarnya.
Empati dan kerendahan hati menjadi bahasa kepemimpinan yang sering kali lebih kuat daripada instruksi.
Barangkali itulah mengapa banyak orang mengingat seorang pemimpin bukan semata-mata karena keputusan yang dihasilkannya, melainkan karena cara ia memperlakukan manusia.
Percakapan di meja kerja LKI pagi itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Tidak ada dokumentasi resmi. Tidak ada notulensi. Tidak ada pula pidato yang kemudian dikutip media.
Namun justru dari momen yang sederhana itulah saya belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu tampil dalam forum-forum besar.
Kadang ia hadir ketika seorang pemimpin memilih berhenti sejenak, menyapa seseorang yang nyaris tak terlihat, lalu bertanya dengan tulus, “Sedang belajar apa?”
Pertanyaan yang tampak biasa itu menyisakan pelajaran yang luar biasa.
Di balik tata kelola sebuah universitas yang terus bertumbuh, sentuhan kemanusiaan tetap menjadi fondasi yang menjaga organisasi tidak kehilangan ruhnya.
Sebab, pada akhirnya, institusi sebesar apa pun dibangun bukan hanya oleh sistem, melainkan oleh manusia-manusia yang merasa dihargai keberadaannya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments