Tempat sudah disiapkan. Materi sudah dicetak agar mudah dipahami dan dibaca kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, tetapi yang datang baru beberapa orang.
Bahkan pemateri sudah hadir, sementara peserta yang datang masih sekitar 5–10 orang. Setelah ditunggu 30 menit, jumlah peserta tidak juga bertambah. Akhirnya kajian dimulai dengan jumlah jamaah yang ada.
Harapannya, peserta akan terus berdatangan. Namun kenyataannya tidak demikian. Meski begitu, saya tetap menyampaikan materi dengan antusias. Semangat jamaah yang hadir untuk mengikuti kajian rutin PCA juga tidak berkurang.
Sebab saya percaya, dakwah tidak selalu dimulai dari keramaian. Kadang perubahan besar justru lahir dari majelis kecil yang dijaga dengan cinta dan keistikamahan.
Sebaliknya, ketika ada kegiatan yang sifatnya lebih meriah, seperti peringatan Milad Muhammadiyah, Milad Aisyiyah, senam, atau jalan sehat, masyarakat justru sangat antusias untuk hadir.
Apakah hal ini membuktikan bahwa masyarakat lebih menyukai kegiatan yang bersifat seremonial, hiburan, dan gebyar dibandingkan kajian rutin yang sejatinya menjadi ruang pembinaan menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah?
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi para dai dalam berdakwah. Dakwah tidak harus selalu berada di atas podium, di dalam masjid yang dilengkapi berbagai fasilitas mewah, atau dihadiri oleh banyak jamaah.
Dakwah yang sesungguhnya justru sering dimulai dari kelompok kecil yang rutin dan istiqamah. Tidak menjadi masalah jika yang hadir hanya sedikit, selama keistikamahan tetap terjaga. Meski jamaah yang hadir hanya 7–15 orang, materi tetap harus disampaikan dengan jelas dan gamblang.
Dari kelompok kecil inilah kelak akan lahir generasi penerus umat. Saya belajar bahwa dakwah tidak boleh berhenti hanya karena sedikitnya jamaah.
Rasulullah SAW pun memulai dakwah dari lingkaran kecil yang dibina dengan penuh kesabaran. Sebab hakikat dakwah bukan tentang ramainya ruangan, melainkan tentang menjaga cahaya ilmu agar tetap menyala.
Bisa jadi, dari sepuluh orang yang hadir itu akan lahir keluarga-keluarga yang lebih baik, anak-anak yang lebih saleh dan salehah, serta lingkungan yang lebih damai.
Dalam berdakwah, perlu dibangun suasana yang menenangkan, tidak menakut-nakuti, dan tidak marah-marah. Sebab cara penyampaian yang keras justru dapat membuat jamaah menjauh dari majelis ilmu.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Haedar Nashir dalam Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis, 24 Mei 2018:
“Kurangi dakwah yang marah-marah. Umat sudah hidup dalam kesusahan, jangan dimarahi terus. Mereka justru lari.”
Beliau juga menyampaikan:
“Dakwah Muhammadiyah harus mendamaikan, menyatukan, dan memperkokoh nilai keagamaan, keumatan, dan kebangsaan.”
Apa yang disampaikan Prof. Haedar Nashir tentang pentingnya mengurangi dakwah yang marah-marah terasa sangat dekat dengan realitas masyarakat saat ini.
Banyak orang sebenarnya ingin belajar agama, tetapi mereka ingin didekati dengan kelembutan, bukan dihakimi. Karena itu, majelis kecil yang hangat dan menenangkan justru menjadi penting untuk terus dijaga keberadaannya.
Sebagai warga Aisyiyah, peran dalam berdakwah sebenarnya tidak terbatas pada ceramah di atas podium. Dakwah dapat hadir melalui keteladanan, kepedulian, dan aktivitas sederhana yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Seorang ibu yang sabar mendidik anak dengan nilai-nilai agama, membiasakan salat berjamaah, bertutur kata lembut, dan menanamkan akhlak mulia di rumah, sejatinya sedang melakukan dakwah yang sangat penting. Dari keluarga yang baik akan lahir generasi yang membawa kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.
Selain dalam keluarga, dakwah juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Warga Aisyiyah dapat berdakwah melalui majelis taklim, TPQ, pendampingan anak, maupun melalui berbagai kegiatan keterampilan ibu-ibu seperti memasak, menjahit, kerajinan tangan, atau usaha kecil.
Dari kegiatan sederhana tersebut tumbuh silaturahmi, semangat saling membantu, dan ruang untuk berbagi persoalan kehidupan.
Dakwah menjadi lebih membumi karena hadir bersama kebutuhan masyarakat. Dengan cara seperti inilah dakwah terasa lebih menyenangkan, dekat, dan mampu menumbuhkan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an, Surat At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing, mendidik, dan mengajak keluarganya kepada kebaikan.
Dakwah tidak harus dimulai dari mimbar besar, tetapi dapat dimulai dari rumah melalui nasihat, keteladanan, pendidikan akhlak, dan pembiasaan ibadah sehari-hari.
Allah SWT juga berfirman dalam Q.S. Thaha ayat 132:
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa dakwah keluarga dilakukan dengan kesabaran dan keteladanan yang terus-menerus.
Hal ini sangat sesuai dengan peran warga Aisyiyah yang berdakwah melalui keluarga, pendidikan anak, dan pembinaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Mari menjadikan dakwah sebagai jalan untuk menebar kedamaian, bukan sekadar menyampaikan nasihat.
Dakwah yang lembut, hangat, dan penuh kepedulian akan lebih mudah menyentuh hati masyarakat dibandingkan kata-kata yang keras.
Jangan menunggu mimbar besar untuk berdakwah, karena dakwah dapat dimulai dari rumah sendiri, dari cara mendidik keluarga, menyapa tetangga, membantu kerabat, dan menguatkan teman yang sedang lelah menjalani kehidupan.
Sebagai warga Aisyiyah, kita perlu menjaga keistikamahan meski jamaah belum ramai. Sebab kebaikan yang terus dilakukan dengan ikhlas akan menjadi cahaya yang perlahan menghidupkan masyarakat.
Dakwah adalah milik semua golongan, hadir untuk merangkul, menguatkan, dan menghadirkan perdamaian bagi sesama manusia.





0 Tanggapan
Empty Comments