Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Taman-Taman Kebajikan, Tempat Hati Menemukan Teduh

Iklan Landscape Smamda
Taman-Taman Kebajikan, Tempat Hati Menemukan Teduh
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM

Berbuat baik kepada orang lain dan melapangkan dada adalah dua hal yang saling terkait erat, di mana kebaikan akan mendatangkan ketenangan hati (lapang dada), sementara sikap lapang dada (ikhlas, sabar, memaafkan) memudahkan kita untuk terus berbuat baik.

Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya.

Mereka akan merasakan “buah”nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.

Pelaku suatu kebaikan adalah orang pertama yang merasakan hasil kebaikan itu, berupa ketenangan batin, kemudahan, pahala, maupun keberkahan, karena kebaikan kembali pada diri sendiri dan menjadi investasi amal jariyah serta bekal di akhirat.

Orang yang berbuat baik kepada sesama, seperti membantu yang kesulitan, juga akan ditolong Allah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Isra: 7

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ ٱلْءَاخِرَةِ لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”

Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya Anda akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati.

Sedekahilah orang yang papa, tolonglah orang-orang yang terzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang terkena musibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan Anda!

Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih.

Menebar senyum manis kepada orang-orang yang “miskin akhlak” merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

SMPM 5 Pucang SBY

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri adalah bagian dari sebuah hadis Nabi Muhammad saw yang menekankan pentingnya sikap ramah dan bersahabat, bahkan hal sepele seperti tersenyum (wajah berseri) saat bertemu saudara (sesama Muslim) adalah sedekah dan amal kebaikan, menunjukkan akhlak mulia dan menghilangkan permusuhan.

Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا.

“Dari Abu Hurairah berkata dari Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wasallam sesungguhnya seorang pelacur melihat seekor anjing suatu hari saat terik panas sedang mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan, kemudian dia menanggalkan sepatunya untuk memberi minum pada anjing tersebut, maka perempuan tersebut diampuni dosanya.” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 7/44)

Hadis di atas menunjukan keutamaan memberi minum hewan yang kehausan. Kebaikan tersebut tentu jadi pahala dan menjadi sebab Allah mengampuni dosa pelaku kebaikan tersebut, walaupun dia seorang pezina sekalipun, sebagaimana zahir hadis.

Dosa yang dimaksud tentu adalah adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa zina termasuk dosa besar, tidak akan terhapus hanya dengan memberi air minum kepada anjing yang kehausan saja, akan tetapi harus melakuakan pertaubatan dengan sebenar-benarnya.

Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong, dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan mendapatkan kelapangan dada dalam semua sisinya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu