Hizbul Wathan Football Club (HWFC) U-17 mendapat tambahan kekuatan dari tiga siswa SMA Muhammadiyah 10 Surabaya (SMAMX). Ketiganya dipercaya memperkuat skuad HWFC U-17 dalam kompetisi sepak bola kelompok usia muda.
Tiga pemain tersebut adalah Alifansyah Dava Dermawan, Achmad Fachrul Ali Rachman, dan Vino Ibramsyah. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya HWFC mengembangkan talenta muda sekaligus memberikan ruang kepada pelajar untuk mengasah kemampuan melalui kompetisi.
Direktur HWFC, Ir. Sudarusman, menjelaskan bahwa keberadaan pemain dari kalangan pelajar merupakan hal positif dalam proses pembinaan sepak bola usia muda.
Menurutnya, pemain muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Mereka juga membutuhkan pengalaman bertanding, disiplin, mental kompetisi, serta lingkungan yang mendukung perkembangan bakat.
“Kami melihat anak-anak ini memiliki potensi. Yang terpenting bukan hanya kemampuan bermain sepak bola, tetapi bagaimana mereka mendapatkan pengalaman dan pembinaan yang baik. Karena itu, kesempatan bermain di HWFC U-17 menjadi bagian dari proses membangun karakter dan prestasi mereka,” ujar Sudarusman kepada PWMU.CO, Jumat (21/8/2026).
Dia menilai dukungan sekolah juga memiliki peran penting. Pemain muda membutuhkan keseimbangan antara pendidikan dan olahraga agar keduanya dapat berkembang secara bersamaan.
Keterlibatan tiga siswa SMAMX di HWFC U-17 sekaligus menunjukkan bahwa sekolah memiliki perhatian terhadap pengembangan potensi peserta didik di luar bidang akademik.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang untuk menemukan dan mengembangkan bakat. Termasuk bakat di bidang olahraga.
Dukungan terhadap siswa yang berprestasi di sepak bola menjadi bentuk kepedulian sekolah terhadap talenta muda. Apalagi, kompetisi usia muda dapat menjadi pintu bagi pemain untuk memperoleh pengalaman yang lebih luas dan membuka peluang menuju jenjang prestasi berikutnya.
Sudarusman berharap kolaborasi antara sekolah dan klub dapat terus diperkuat.
“Anak-anak membutuhkan dukungan. Ketika sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai talentanya, sementara klub memberikan pembinaan dan pengalaman kompetisi, maka ekosistem olahraga akan tumbuh lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMAMX Surabaya, Salim Bahrisy, menegaskan, sekolah berkomitmen memberikan ruang kepada setiap siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi dan talenta yang dimiliki.
Menurutnya, prestasi siswa tidak selalu harus diukur dari capaian akademik. Bidang olahraga, seni, kepemimpinan, maupun keterampilan lainnya juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
“Setiap anak memiliki talenta yang berbeda. Tugas sekolah adalah menemukan, mendampingi, dan memberikan ruang agar talenta itu berkembang menjadi prestasi. Kalau ada siswa yang memiliki potensi di sepak bola, tentu kami mendukung agar mereka mendapatkan pengalaman dan pembinaan yang terbaik,” ujar Salim.
Dia menilai kesempatan tiga siswa SMAMX memperkuat HWFC U-17 menjadi pengalaman penting. Mereka tidak hanya belajar tentang teknik dan strategi sepak bola, tetapi juga tentang disiplin, kerja sama tim, sportivitas, tanggung jawab, dan mental menghadapi kompetisi.
Salim menambahkan, pendidikan dan prestasi olahraga seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila siswa mendapatkan pendampingan yang baik.
“Sekolah harus menjadi tempat yang memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh secara utuh. Prestasi akademik penting, tetapi prestasi di bidang olahraga juga harus diapresiasi. Kami ingin anak-anak memiliki keberanian untuk mengejar prestasi sesuai dengan passion dan talentanya,” katanya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments