Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Wariskan Al-Iradah Al-Kubra, Pesan Ketua PP Muhammadiyah untuk Wisudawan Umsura

Iklan Landscape Smamda
Wariskan Al-Iradah Al-Kubra, Pesan Ketua PP Muhammadiyah untuk Wisudawan Umsura
Kiai Saad Ibrahim saat menyampaikan tausiyah di Wisuda ke-54 Umsura di Dyandra Convention Center Surabaya, Senin (1/6/2026). Foto: Umsura
pwmu.co -

Di tengah kemeriahan Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Ketua PP Muhammadiyah Dr. KH. Saad Ibrahim menyampaikan pesan yang berbeda. Ia tidak banyak berbicara tentang gelar akademik, indeks prestasi, atau persaingan dunia kerja. Sebaliknya, Kiai Saad, begitu dia karib disapa, mengajak para wisudawan dan orang tua untuk mewariskan al-iraadah al-kubraa, yakni kemauan besar, tekad kuat, dan cita-cita tinggi yang mampu mengubah masa depan sebuah keluarga.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Saad saat memberikan sambutan pada Wisuda ke-54 Umsura di Dyandra Convention Center Surabaya, Senin (1/6/2026).

Di hadapan ratusan wisudawan, keluarga, dan tamu undangan, Kiai Saad mengawali sambutannya dengan mengingatkan sebuah ayat yang kerap menjadi penutup pidato-pidato Muhammadiyah. Yaitu, Nashrun minallaahi wa fathun qariib, yang berarti “Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat.”

Menurutnya, kalimat tersebut bukan sekadar doa atau ungkapan harapan. Sepanjang sejarah Muhammadiyah, ayat itu telah terbukti dalam berbagai perkembangan yang dialami persyarikatan.

“Insya Allah, Allah memberikan pengabulan. Faktanya Muhammadiyah menjadi organisasi yang begitu besar. Tidak lain dan tidak bukan karena pertolongan Allah,” ujarnya.

Kiai Saad menjelaskan, pertolongan Allah sering kali datang melalui jalan-jalan yang tidak terduga. Bahkan ketika Muhammadiyah belum hadir di suatu negara, Allah menggerakkan hati seseorang untuk mengenal, mencintai, lalu berkeinginan menghadirkan Muhammadiyah di tempat tersebut.

Dia kemudian menceritakan pengalaman yang disampaikan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof. Abdul Mu’ti. Dalam sebuah pengajian yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta pada 30 Mei 2026, Prof. Mu’ti bertemu dengan seorang mahasiswa asal Nigeria bernama Aminu Qhidir. Dia telah menempuh studi di Surakarta selama empat tahun. Mahasiswa itu menyampaikan kekagumannya terhadap Muhammadiyah.

Menurut cerita yang diterimanya dari para dosen, Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan memiliki cita-cita besar. Membangun masjid, sekolah, lembaga pendidikan, dan layanan kesehatan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. Kekaguman itu kemudian melahirkan sebuah keinginan yang tidak biasa.

“Mahasiswa dari Nigeria itu ingin mendirikan Muhammadiyah di negaranya,” ungkap Kiai Saad.

Bagi dirinya, kisah tersebut merupakan salah satu bentuk nyata pertolongan Allah dalam membesarkan Muhammadiyah.

“Kita percaya, itu adalah cara Allah menggerakkan manusia untuk mendirikan Muhammadiyah,” katanya.

Saat ini, Muhammadiyah telah berkembang menjadi salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia. Persyarikatan ini memiliki sekitar 164 perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, lebih dari 5.000 sekolah, serta ratusan rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang tersebar di berbagai daerah.

Nilai aset Muhammadiyah yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah, menurut Kiai Saad, tidak dapat dilepaskan dari pertolongan Allah yang terus menyertai gerak dakwah Muhammadiyah.

“Inilah pertolongan Allah untuk Muhammadiyah,” tegasnya.

Kiai Saad juga mencontohkan bagaimana Allah menggerakkan berbagai pihak untuk ikut membesarkan Muhammadiyah. Salah satunya melalui aset wakaf yang menjadi bagian dari perkembangan Rumah Sakit Roemani di Jawa Tengah, yang berasal dari pihak di luar Muhammadiyah.

“Allah menggerakkan siapa saja untuk membesarkan Muhammadiyah,” ujarnya.

Mahasiswa Nonmuslim Bangga jadi Bagian Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Saad juga membagikan pengalaman yang menurutnya sangat berkesan ketika berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Kupang (UM Kupang) beberapa tahun lalu.

Saat itu acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah oleh 12 mahasiswa. Dia memperhatikan bagaimana para mahasiswa tersebut menyanyikan Mars Muhammadiyah dengan penuh penghayatan. Terutama ketika melantunkan lirik:

Ya Allah Tuhan Rabiku/Muhammad Junjunganku/Al Islam agamaku/ Muhammadiyah gerakanku

Kiai Saad yang saat itu duduk berdampingan dengan Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang kemudian diberi tahu bahwa seluruh mahasiswa yang tampil menyanyikan Mars Muhammadiyah tersebut beragama nonmuslim. Namun, Kiai Saad masih belum percaya.

“Saya bilang kepada Pak Rektor, mereka itu Muslim semua,” ucapnya. Mendengar hal itu, sang rektor menjawab, “Saya ini rektornya, Pak. Saya tahu persis, mereka semua nonmuslim.”

Kiai Saad lalu mengemukakan alasannya. “Tadi waktu mereka menyanyikan lirik ‘Ya Allah Tuhan Rabbiku, Muhammad Junjunganku’, itu kan kalimat syahadat,” kata Kiai Saad.

Mendengar penjelasan tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang pun tersenyum.

Fakta itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Di tengah kondisi Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, para mahasiswa nonmuslim tersebut justru menunjukkan kedekatan emosional yang kuat dengan Muhammadiyah.

SMPM 5 Pucang SBY

Bahkan di sejumlah kampus Muhammadiyah di kawasan Indonesia Timur muncul istilah yang cukup populer, yakni “Krismuh” atau Kristen Muhammadiyah.

“Mereka sangat bangga terhadap Muhammadiyah. Mereka sangat loyal kepada Muhammadiyah,” kata Kiai Saad.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan Muhammadiyah bersifat universal dan dapat diterima oleh siapa pun tanpa memandang latar belakang agama.

Karena itu, Kiai Saad mengingatkan para wisudawan bahwa Muhammadiyah telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.

“Kalau yang nonmuslim saja merasa welcome dengan Muhammadiyah, maka tentu bagi yang Muslim, Muhammadiyah adalah bagian dari sejarah hidupnya,” ujarnya.

Kiai Saad juga menyampaikan terima kasih atas nama PP Muhammadiyah kepada seluruh orang tua dan wali mahasiswa yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Umsura.

Cita-Cita Besar yang Mengubah Nasib Keluarga

Pada bagian akhir sambutannya, Kiai Saad menyampaikan kisah yang paling membekas bagi para hadirin.

Dia menceritakan seorang tetangganya yang bekerja sebagai tukang bangunan. Setiap kali bertemu, orang tersebut selalu menyampaikan keinginan yang sama. Dia ingin belajar bahasa Inggris.

Pada awalnya, Kiai Saad mengaku sempat heran dengan keinginan tersebut. “Dalam hati saya berpikir, seorang tukang bangunan kok ingin kursus bahasa Inggris,” kenangnya.

Waktu terus berjalan. Keinginan itu tidak pernah terwujud. Beberapa tahun kemudian, tetangganya tersebut meninggal dunia tanpa sempat mengikuti kursus bahasa Inggris yang selalu diimpikannya.

Namun ternyata kisah itu tidak berhenti di sana. Belakangan Kiai Saad mengetahui bahwa salah satu anak dari tukang bangunan tersebut berhasil melanjutkan studi magister di Jerman.

Setelah itu, sang anak berkarier di Swiss dan menjadi bagian dari lingkungan kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Saat itulah dia menyadari bahwa dirinya telah salah menilai. Mimpi besar yang tidak sempat diwujudkan sang ayah ternyata diwariskan kepada anaknya.

Kemauan besar yang selama ini tersimpan dalam diri orang tua menjadi energi yang mendorong keberhasilan generasi berikutnya.

Dari kisah tersebut, Kiai Saad memperkenalkan sebuah istilah penting. Al-iraadah al-kubraa, yang berarti kemauan besar, tekad yang kuat, dan cita-cita yang tinggi.

“Karena itu, para orang tua harus mewariskan al-iraadah al-kubraa. Kalau tidak terwujud pada dirinya, insyaallah akan terwujud pada anak-anaknya,” katanya.

Pesan yang sama juga ditujukan kepada para wisudawan. Menurutnya, kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk membangun masa depan yang lebih besar.

Dia mengajak para lulusan Umsura untuk memiliki visi yang luas, tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi umat dan kemanusiaan.

Dalam pandangan Kiai Saad, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah harus menjadi sarana untuk mengabdi kepada masyarakat, memperkuat peradaban, dan memberikan kemaslahatan bagi sesama manusia.

Baik melalui Muhammadiyah maupun melalui jalan pengabdian yang lain. Setiap lulusan memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

“Bangunlah masa depan dengan kemauan yang besar. Berkhidmatlah untuk umat dan kemanusiaan. Dengan cara itulah, insyaallah masa depan kita tidak hanya baik di dunia, tetapi juga baik di akhirat,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 01/06/2026 23:08
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu