Sebanyak 14 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) turut ambil bagian dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berlangsung pada Jumat–Ahad, 10–12 Juli 2026.
Mengusung tema “Membumikan Dakwah Berkemajuan: Mengembangkan Ekosistem Seni dan Budaya yang Kreatif dan Inklusif,” kegiatan ini digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, serta Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kehadiran para delegasi PTMA menjadi salah satu kekuatan penting dalam Rakernas. Sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan sumber daya manusia, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem seni dan budaya Muhammadiyah yang berkelanjutan.
Adapun PTMA yang mengikuti Rakernas meliputi Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Universitas ‘Aisyiyah Bandung, Universitas Muhammadiyah Purworejo, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Muhammadiyah Lamongan, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Universitas Sains dan Teknologi Muhammadiyah, Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), serta Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta (UTM Jakarta).
Selama forum berlangsung, para utusan PTMA aktif menyampaikan gagasan, pengalaman, serta berbagai masukan mengenai pengembangan seni dan budaya di lingkungan kampus Muhammadiyah. Berbagai pandangan tersebut menjadi bahan penting dalam merumuskan arah kebijakan LSB PP Muhammadiyah ke depan.
Salah satu isu yang mengemuka adalah pentingnya menghidupkan atmosfer seni dan budaya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Para peserta menilai kampus merupakan ruang strategis untuk melahirkan seniman, budayawan, akademisi, sekaligus kader Muhammadiyah yang mampu menjadikan seni sebagai media dakwah yang mencerahkan.
Selain itu, peserta juga mendukung pengembangan program studi seni dan budaya di lingkungan PTMA. Dukungan tersebut tidak hanya menyangkut pendirian program studi baru, tetapi juga penyusunan kurikulum, kesiapan sumber daya manusia, serta desain lulusan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri kreatif.
Dr. Daroe Iswatiningsih, delegasi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengungkapkan bahwa atmosfer seni budaya di kampusnya telah berkembang dengan baik. Menurutnya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sansekerta menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan berbagai ekspresi seni, mulai dari karawitan, membatik, hingga berbagai aktivitas pelestarian budaya lainnya.
Ia juga menyampaikan bahwa UMM terus memperkuat perhatian terhadap bidang humaniora. Salah satu langkah yang dilakukan adalah perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora, sebagai bentuk komitmen dalam memperluas pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis budaya dan kemanusiaan.
Sementara itu, Dodi Pranata, M.Pd., dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung menyampaikan kabar menggembirakan mengenai pengembangan pendidikan seni di lingkungan PTMA. Pada tahun akademik ini, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung resmi membuka Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang seni.
Menurutnya, kehadiran program studi tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem seni budaya Muhammadiyah sekaligus menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya untuk mengembangkan program-program serupa sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
Ketua LSB PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasinya atas semakin tumbuhnya atmosfer seni dan budaya di berbagai kampus Muhammadiyah. Ia menilai Perguruan Tinggi Muhammadiyah selama ini telah memberikan kontribusi besar dalam melahirkan karya-karya seni dan budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Selama ini sering dikatakan Muhammadiyah adalah organisasi yang kering akan budaya. Padahal sejak lama karya-karya seni lahir dari warga Muhammadiyah. Kita harus mencari peluang agar seni budaya menjadi ornamen dakwah yang hadir di tengah masyarakat dan menyempurnakan dakwah Islam di negeri ini,” tegasnya.
Rakernas LSB PP Muhammadiyah menjadi momentum penting untuk mempererat kolaborasi antara LSB dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan ekosistem seni yang lebih kuat melalui pengembangan pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat, pembinaan komunitas kreatif, hingga lahirnya program studi seni yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Melalui keterlibatan aktif PTMA, Muhammadiyah optimistis seni dan budaya akan semakin meneguhkan posisinya sebagai instrumen dakwah kultural yang kreatif, inklusif, dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan,” pungkasnya . (*)





0 Tanggapan
Empty Comments