اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Pada pagi yang mulia ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa adalah pakaian terbaik seorang mukmin. Takwa bukan hanya tampak pada banyaknya amal lahiriah, tetapi juga pada kejujuran niat, kebersihan hati, dan kesediaan seorang hamba untuk tunduk kepada perintah Allah meskipun tidak sedang disaksikan manusia.
Idul Adha mengajarkan bahwa ibadah yang paling agung sering kali menuntut pengorbanan yang paling dalam. Nabi Ibrahim a.s. mengajarkan ketaatan yang tidak ditawar. Nabi Ismail a.s. mengajarkan kepasrahan yang tidak setengah hati. Keluarga mulia itu menunjukkan bahwa puncak iman bukan sekadar ucapan, melainkan kesediaan menyerahkan sesuatu yang dicintai kepada Allah.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya: Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.
QS. Al-Kautsar: 2
Ayat ini pendek, tetapi pesannya sangat besar. Salat dan kurban harus diarahkan kepada Allah. Ibadah tidak boleh berubah menjadi alat untuk meninggikan diri. Kurban tidak boleh menjadi panggung untuk memperlihatkan kemampuan ekonomi. Kurban adalah sarana untuk menundukkan ego, melembutkan hati, dan mendekat kepada Allah.
1. Kurban di Era Digital: Fenomena Baru yang Perlu Ditimbang dengan Takwa
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah.
Kita hidup di zaman ketika hampir semua peristiwa dapat masuk ke ruang digital. Kegiatan keluarga, pekerjaan, perjalanan, makanan, sedekah, bahkan ibadah, dapat direkam dan dibagikan dalam hitungan detik.
Kurban pun demikian. Foto sapi atau kambing kurban diunggah. Proses penyembelihan direkam. Pembagian daging dibuat menjadi konten. Nama pekurban diumumkan dalam poster digital. Video singkat kurban tersebar di berbagai media sosial.
Fenomena ini tidak otomatis salah. Media sosial hanyalah alat. Pisau juga alat; ia bisa digunakan untuk menyembelih hewan kurban sesuai syariat, tetapi bisa pula digunakan untuk keburukan. Begitu pula media sosial. Ia bisa menjadi sarana dakwah, transparansi, edukasi, dan ajakan kebaikan. Namun, ia juga bisa menjadi pintu masuk riya’, ujub, pamer, persaingan status, dan kesombongan yang halus.
Karena itu, pertanyaan yang harus kita bawa ke dalam hati bukan hanya: bolehkah kegiatan kurban diunggah? Pertanyaan yang lebih dalam adalah: untuk apa kita mengunggahnya? Siapa yang sebenarnya ingin kita tuju? Apakah kita sedang mengajak manusia kepada Allah, atau sedang menarik perhatian manusia kepada diri kita sendiri?
2. Yang Sampai kepada Allah adalah Takwa, Bukan Tampilan Luar
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
QS. Al-Hajj: 37
Ayat ini adalah inti dari khutbah kita. Allah tidak membutuhkan daging kurban kita. Allah tidak membutuhkan darah hewan yang kita sembelih. Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya.
Yang Allah nilai adalah takwa yang hidup di dalam dada. Yang Allah lihat adalah keikhlasan, ketaatan, dan kerendahan hati seorang hamba.
Maka, seekor kambing yang dikurbankan dengan hati yang ikhlas dapat lebih mulia daripada seekor sapi besar yang dikurbankan untuk kebanggaan diri. Seekor hewan yang dibeli dari hasil kerja keras dan diserahkan dengan hati tunduk dapat lebih bernilai daripada kurban yang ramai dipuji tetapi kosong dari ketulusan.
Ukuran manusia sering berhenti pada tampilan luar, sedangkan penilaian Allah menembus sampai ke kedalaman hati.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.
HR. Muslim
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan bentuk luar dan kekayaan. Di dunia digital, manusia dapat menata gambar, memilih sudut terbaik, mengatur pencahayaan, menulis keterangan yang indah, dan membangun citra diri.
Namun, di hadapan Allah, tidak ada filter yang dapat menutupi hati. Allah mengetahui apakah amal itu lahir dari takwa atau dari keinginan untuk dipuji.
3. Niat adalah Ruh Ibadah
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.
HR. Bukhari dan Muslim
Hadis ini menjadi timbangan utama dalam membahas kurban dan media sosial.
Dua orang bisa sama-sama mengunggah kegiatan kurban, tetapi nilainya di sisi Allah tidak sama. Orang pertama mengunggah untuk memberi laporan kepada jamaah, menumbuhkan kepercayaan, mengajak orang lain ikut berkurban, atau mendidik anak-anak tentang kepedulian.
Orang kedua mengunggah karena ingin dilihat dermawan, ingin dianggap mampu, ingin mendapatkan komentar pujian, atau ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Secara tampilan, dua unggahan itu mungkin mirip. Keduanya menampilkan hewan kurban. Keduanya menampilkan pembagian daging. Keduanya menggunakan kalimat yang terlihat religius.
Namun, nilai batinnya berbeda. Amal yang sama dapat menjadi ibadah, dapat pula berubah menjadi beban di akhirat, tergantung pada niat yang menggerakkannya.
Inilah sebabnya seorang muslim perlu rajin memeriksa hati. Niat tidak cukup diperiksa sekali di awal. Niat harus dijaga sebelum amal, ketika amal dilakukan, dan setelah amal selesai.
Seseorang bisa mulai berkurban dengan niat baik, tetapi setelah dipuji, hatinya berubah. Seseorang bisa mulai mengunggah untuk syiar, tetapi setelah banyak komentar, ia mulai menikmati perhatian manusia. Di sinilah keikhlasan diuji.
4. Syiar dan Pamer: Tampak Berdekatan, Hakikatnya Berlawanan
Syiar adalah menampakkan tanda-tanda agama untuk mengingatkan manusia kepada Allah. Syiar mengarah ke atas, menuju ridha Allah. Syiar membuat orang lain terdorong melakukan kebaikan. Syiar tidak menjadikan diri sebagai pusat perhatian, tetapi menjadikan Allah sebagai tujuan.
Pamer adalah menampakkan amal untuk mencari perhatian manusia. Pamer mengarah ke diri sendiri. Pamer membuat pelakunya ingin dipuji, ingin diakui, ingin dianggap lebih saleh, lebih kaya, lebih dermawan, atau lebih berpengaruh.
Pamer tidak selalu tampil dengan kata-kata sombong. Kadang pamer memakai bahasa yang halus, bahkan memakai kalimat agama, tetapi hatinya sedang meminta tepuk tangan manusia.
Syiar berkata:
“Mari kita ingat Allah dan berbagi kepada sesama.”
Pamer berkata:
“Lihatlah aku yang sedang berbuat baik.”
Maka, ukuran utama bukan sekadar tampak atau tidak tampak. Sebab ada amal yang ditampakkan tetapi ikhlas karena diperlukan untuk syiar dan pertanggungjawaban. Ada juga amal yang disembunyikan tetapi tetap disertai ujub, yaitu rasa bangga di dalam hati.
Karena itu, masalah terdalam bukan hanya kamera, unggahan, atau media sosial. Masalah terdalam adalah hati yang mengarahkan amal.





0 Tanggapan
Empty Comments