9. Etika Digital dalam Ibadah Kurban
Jamaah yang dirahmati Allah, agar media sosial tetap menjadi sarana kebaikan, ada beberapa etika yang perlu kita pegang:
- Pertama, luruskan niat sebelum mengunggah. Tanyakan kepada diri sendiri: apakah unggahan ini untuk syiar dan manfaat, atau untuk mencari pujian?
- Kedua, jangan menjadikan diri sebagai pusat ibadah. Bila perlu dokumentasi, tampilkan kegiatan secara wajar. Hindari penonjolan nama, wajah, harga hewan, atau jumlah kurban secara berlebihan.
- Ketiga, jaga martabat penerima. Hindari mengambil gambar wajah penerima secara dekat tanpa izin dan tanpa kebutuhan yang jelas. Lebih baik tampilkan suasana umum, paket yang tersusun rapi, atau aktivitas panitia secara sopan.
- Keempat, hindari konten penyembelihan yang vulgar. Ibadah kurban harus ditampilkan dengan adab, kebersihan, dan penghormatan terhadap hewan yang disembelih.
- Kelima, gunakan bahasa yang rendah hati. Hindari kalimat yang membandingkan, menyindir, menonjolkan kemampuan ekonomi, atau membuat orang lain merasa kecil.
- Keenam, bila dokumentasi dilakukan oleh lembaga atau panitia, utamakan transparansi: jumlah hewan, jumlah penerima, wilayah distribusi, dan ucapan terima kasih kepada jamaah secara umum, bukan glorifikasi individu.
- Ketujuh, sediakan ruang untuk amal yang tersembunyi. Tidak semua kebaikan perlu menjadi status. Tidak semua ibadah perlu menjadi konten. Amal yang paling aman sering kali adalah amal yang cukup diketahui Allah.
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
Artinya: Dan seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya, sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
HR. Bukhari dan Muslim
Hadis ini mengajarkan keutamaan amal yang tersembunyi. Bukan berarti semua amal harus selalu disembunyikan, tetapi seorang mukmin perlu memiliki bagian amal yang tidak diketahui manusia.
Bagian amal yang sunyi itulah yang sering menjaga keikhlasan hati.
10. Kurban Harus Melahirkan Kepedulian, Bukan Kesombongan
Kurban adalah ibadah sosial. Dagingnya dibagikan agar kebahagiaan Idul Adha tidak hanya dirasakan oleh orang yang mampu.
Kurban mengingatkan bahwa harta tidak boleh berhenti di tangan orang kaya. Sebagian rezeki harus mengalir kepada saudara-saudara yang membutuhkan.
Dalam kurban, ada latihan untuk melepas kepemilikan, mengalahkan ego, dan menumbuhkan kasih sayang.
Karena itu, kurban yang benar tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi. Kurban yang benar justru membuat hati semakin rendah.
Orang yang berkurban tidak boleh merendahkan orang yang belum mampu berkurban. Bisa jadi orang yang belum mampu memiliki niat yang sangat kuat, tetapi belum diberi kelapangan rezeki.
Bisa jadi kerinduannya untuk berkurban lebih jujur daripada kebanggaan orang yang berkurban tetapi haus pujian.
Ukuran keberhasilan kurban bukan seberapa banyak orang melihat unggahan kita. Ukuran keberhasilan kurban adalah seberapa jauh kita semakin dekat kepada Allah, seberapa luas manfaat yang dirasakan sesama, seberapa lembut hati kita terhadap orang miskin, dan seberapa mampu kita menyembelih sifat sombong dalam diri.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Artinya: Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.
QS. Al-An’am: 162
Ayat ini harus menjadi kompas hidup seorang muslim. Salatku untuk Allah. Ibadah kurbanku untuk Allah. Hidupku untuk Allah. Matiku untuk Allah.
Bukan untuk tepuk tangan manusia, bukan untuk citra media sosial, bukan untuk komentar pujian, dan bukan untuk menunjukkan bahwa diri kita lebih baik daripada orang lain.
11. Muhasabah Akhir Khutbah
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Pada hari Idul Adha ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri dengan jujur.
Ketika kita berkurban, siapa yang paling kita harapkan melihatnya?
Ketika kita memberi, apakah kita masih menuntut pujian?
Ketika kita mengunggah kebaikan, apakah hati kita benar-benar ingin mengajak kepada Allah, atau ingin manusia mengagumi kita?
Media sosial akan terus berubah. Unggahan akan tenggelam. Foto akan terlupakan. Video akan tergantikan oleh konten baru.
Namun, niat tidak akan hilang dari catatan Allah.
Daging kurban akan habis dibagikan, darahnya akan hilang dari tanah, dan namanya akan dilupakan manusia. Akan tetapi, keikhlasan akan tetap hidup sebagai saksi di hadapan Allah.
Maka jadikanlah kurban sebagai jalan untuk menyembelih ego, bukan untuk memberi makan kesombongan.
Jadikanlah media sosial sebagai alat syiar, bukan panggung pamer.
Jadikanlah Idul Adha sebagai hari ketika hati kita kembali belajar berkata: semua ini hanya untuk Allah.
Marilah kita berdoa agar Allah menerima ibadah kurban kaum muslimin, membersihkan niat kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas.
Semoga Allah menjadikan media digital di tangan kita sebagai jalan dakwah, bukan jalan kesombongan; sebagai ruang syiar, bukan ruang pamer; sebagai sarana manfaat, bukan sarana merendahkan sesama.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا، وَنُسُكَنَا، وَقُرْبَانَنَا، وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا.
Ya Allah, terimalah salat kami, ibadah kami, kurban kami, sedekah kami, dan seluruh amal saleh kami.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْهَا لِأَحَدٍ غَيْرِكَ شَيْئًا.
Ya Allah, jadikanlah amal-amal kami ikhlas hanya untuk mengharap wajah-Mu yang mulia. Jangan Engkau jadikan dalam amal kami bagian untuk selain-Mu.
Ya Allah, bersihkan hati kami dari riya’, ujub, sombong, dengki, dan haus pujian. Lindungilah kami dari amal yang tampak indah di hadapan manusia, tetapi kosong nilainya di sisi-Mu.
Ya Allah, bimbinglah kami dalam menggunakan media digital. Jadikan jari-jari kami menyebarkan kebaikan, bukan kesombongan. Jadikan tulisan kami mengingatkan kepada-Mu, bukan meninggikan diri kami. Jadikan gambar dan video yang kami bagikan sebagai syiar yang beradab, bukan pamer yang merusak pahala.
Ya Allah, muliakan saudara-saudara kami yang lemah. Lapangkan rezeki orang-orang miskin. Kuatkan para pekerja, petani, nelayan, pedagang kecil, anak yatim, janda, lansia, dan semua hamba-Mu yang sedang memikul kesulitan hidup.
Jadikan daging kurban yang dibagikan sebagai sebab hadirnya kegembiraan, persaudaraan, dan keberkahan.
Ya Allah, berkahilah para pekurban. Terimalah niat baik mereka. Gantilah harta yang mereka keluarkan dengan keberkahan yang lebih luas. Jauhkan mereka dari kesombongan. Jadikan kurban mereka sebagai saksi ketaatan di hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna kecuali orang yang datang kepada-Mu dengan hati yang selamat.
Ya Allah, kuatkan para panitia kurban. Berilah mereka kejujuran, kesabaran, kesehatan, ketertiban, dan kemampuan menjaga amanah. Jauhkan mereka dari perselisihan. Jadikan kerja mereka sebagai amal saleh yang Engkau terima.
Ya Allah, sebagaimana Engkau mengajarkan ketaatan kepada Nabi Ibrahim a.s. dan kepasrahan kepada Nabi Ismail a.s., tanamkanlah dalam hati kami ketaatan, kesabaran, keikhlasan, dan keberanian untuk mengorbankan apa yang kami cintai demi ridha-Mu.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, pasti kami termasuk orang-orang yang rugi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.





0 Tanggapan
Empty Comments