5. Lemahnya pendidikan agama.
Soal pendidikan agama juga dapat berpengaruh pada semangat seorang muslim. Lemahnya pendidikan agama akan lebih besar pengaruhnya pada kemalasan seseorang.
Sebab untuk menuju jalan Allah dan Rasulullah memerlukan semangat dan kesabar -an. Maka wajar orang lemah dalam pendidikan agama dapat membuat diri mereka malas dalam beribadah dan melakukan amal kebaikan lainnya.
Karena itu Allah telah mengajarkan pentingnya memperhatikan pendidikan agama pada umatnya agar mereka tidak menjadi lemah (QS. An Nisa :19, At- Taubah:122) dan pemalas.
Rasulullah pun shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan dalam sabdanya, “Setiap amal memiliki masa semangat dan setiap semangat itu akan diikuti dengan masa futur (kemalasan).
Barang siapa masa lemah (malas)-nya masih berada dalam jalanku (Islam), maka ia telah mendapatkan petunjuk. Namun, barang siapa masa lemah (malas)-nya membawanya ke selain jalanku, maka ia telah tersesat. “(Hadits ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al- Jami’).
Lemahnya pendidikan agama terhadap seorang muslim juga dapat menjadikan mereka pun malas dalam mencari rezeki. Akibatnya di antara mereka mencari rezeki dengan cara meminta-minta atau mengemis. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan.
“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian (dia) bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).
6. Hilangnya keikhlasan.
Dalam beramal ibadah dan berjuang (berjihad) memerlukan keikhlasan semata-mata karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keikhlasannya itu mendorong seorang muslim bersemangat dalam menjalankan amal ibadah dan perjuangannya.
Namun bila keikhlasan itu lemah atau tidak ada, maka mengerjakannya pun akan enggan dan malas. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman,
“Dan tidak ada yang menghalangi diterimanya infak mereka, kecuali karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mereka tidak mengerjakan shalat kecuali dengan malas, dan mereka tidak berinfak kecuali dengan rasa enggan (terpaksa). (QS. At-Taubah: 54, At Taubah:45-46,86, An Nisa:142).
Dampak dari Malas
Penyakit malas pada diri seseorang itu memberi pengaruh yang besar dalam hidup kehidupannya. Sebab kemalasan satu sifat orang munafik yang tidak disukai oleh Allah Azza Wa Jalla (QS. An Nisa:142). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak menyukai kemalasan mereka sebagai -mana sabdanya.
“Shalat yang paling berat bagi orang munafik itu adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut, niscaya mereka berusaha akan mendatanginya walaupun harus merangkak. (HR. Bukhari, no. 644 dan Muslim, no. 651).
Adapun dampak dari malas antara lain sebagai berikut:
1. Merugikan diri sendiri
Malas dan kemalasan dapat merugikan dirinya sendiri. (QS. Al Asr: 1-3, Al Baqarah:195, Fathir: 32). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
“Tidak boleh memadharati (merugikan) diri sendiri dan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 2341, Thabrani dalam Al Kabir no. 11806, dan disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7517).





0 Tanggapan
Empty Comments