Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Malas Penyakit Hati Penghambat Rezeki

Iklan Landscape Smamda
Malas Penyakit Hati Penghambat Rezeki
Oleh : Muhsin MK

Manusia dalam aktivitasnya sehari-hari minimal ada dua kategori, rajin dan malas. Mereka yang rajin wajar jika sukses dalam hidupnya.

Berbeda dengan mereka yang malas tidak mengherankan jika hidupnya mengalami kegagalan. Dalam dunia Pendidikan, seorang pelajar yang rajin walau tidak cerdas, akan berhasil meraih hasil lebih baik dari pada mereka yang pintar tapi pemalas.

Ternyata malas itu berhubungan dengan qalbu. Dalam hatinya ada keengganan atau ketiadaan motivasi untuk melakukan kebaikan.

Walaupun orang itu sebenarnya memiliki kemampuan fisik atau mental untuk melakukannya. Dalam KBBI malas artinya, tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, segan dan tidak suka; atau tidak bernafsu:.

Dalam pandangan ulama, malas (al-kasal) adalah hilangnya semangat dan ketidak mampuan untuk berbuat. Sebab itu malas ialah penyakit hati yang berbahaya.

Ulama membaginya menjadi tiga hal: 1. Hilangnya semangat beribadah karena penyakit hati (kasal), 2. Hilangnya semangat setelah sebe-lumnya giat (futur). 3. Ketidakmampuan fisik dirinya padahal hati ingin beramal (ajz).

Sebab Musabab Malas

Malas tidak berdiri sendiri. Penyakit ini berkaitan dengan faktor-faktor lainnya yang berada dalam qalbu. Faktor-faktor itulah yang membuat orang malas untuk melakukan sesuatu yang berguna bukan saja buat orang lain, melainkan juga bagi kepentingan dirinya sendiri.

Beberapa faktor yang menjadi sebab-musabab timbulnya malas dan kemalasan diantaranya sebagai berikut:

1. Kurang iman

Bukti konkrit malas sebagai penyakit hati karena kurang atau lemah iman adalah orang munafik. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur’an ini.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) manusia dan tidak menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa:42, At Taubah:54).

2. Banyak dosa dan maksiat

Dosa dapat membuat seseorang malas dalam beribadah dan menurunkan semangat untuk melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya Ad-Daa’wa Ad-Da’waa’ menegaskan bahwa dosa menghalangi seseorang dari melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam Kitab Lathaiful Ma’arif, bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, “Mengapa kami tidak mampu melakukan salat malam?” Beliau pun menjawab, “Dosa-dosa kalian telah menghalangi kalian.”

Di antara hukuman atas dosa-dosa menurut Ibnu Qayyim dalam kitabnya Ad-Da’waa adalah bahwa maksiat itu membutakan hati.

Jika tidak membu- takannya, maka ia pasti melemahkan pandangan nya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa maksiat pasti melemahkan hati.

Ketika hati menjadi buta dan lemah, ia akan kehilangan pengetahuannya tentang petunjuk serta kekuatan untuk (malas) menjalankannya.

3. Beramal yang berlebih-lebihan.

Jika seseorang beramal berlebih-lebihan suatu saat akan bosan. timbullah malas dan kemalasan. Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Wahai manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sebab, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus- menerus dikerjakan walaupun itu sedikit.” (HR. Bukhari). Sabda Rasulullah lainnya juga telah menyatakan,

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan seseorang tidak akan memberatkan agama melainkan aga- ma itu akan mengalahkannya (membuat bosan/lelah/dan malas). Sebab itu, berlakulah lurus dan sederhana (pertengahan), dan bergembiralah… ” (HR. Bukhari).

4. Godaan setan.

Ternyata malas juga disebabkan oleh godaan setan. Sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Setan mengikat tiga simpul di bagian belakang kepala seseorang ketika ia tidur. Setiap simpul ia pukul seraya berkata: ‘Malam masih panjang, tidurlah!’

Jika orang tersebut bangun lalu berdzikir kepada Allah, maka terlepas lah satu simpul. Jika ia berwudhu, maka terlepas lah satu simpul lagi.

Jika ia kemudian melaksanakan shalat, maka terlepas lah seluruh simpul tersebut. Akhirnya, ia akan bangun dalam keadaan bersemangat dan jiwa yang baik. Namun, jika tidak, maka ia akan bangun dalam keadaan jiwa yang buruk dan malas.” (HR. Bukhari).

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 06/07/2026 13:47
  • Danar Trivasya Fikri - 06/07/2026 11:53
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu