2. Membebani orang lain
Orang malas itu membebani dan menyusahkan orang lain. Bagi seorang anak yang pemalas jelas membebani orang tuanya. Syekh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah suatu kesempatan pernah ditanya, “Ada seorang pemuda, ia mampu bekerja tapi enggan (malas) bekerja. Apa pendapat anda?
“Beliaupun menjawab: “Pendapatku sama dengan pendapat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, katanya, ‘Aku melihat seorang pemuda, ia membuatku jadi kagum. Lalu aku bertanya kepada orang- orang mengenai pekerjaannya. Merekapun mengatakan bahwa ia tidak (malas) bekerja. Seketika itu juga pemuda tersebut jatuh martabatnya di mataku”.
Sebab itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa memberi kemudaratan (kerugian/kesusahan) kepada seorang muslim, maka Allah akan memberi kemudaratan kepada nya. Dan barang siapa menyusahkan (merepotkan) orang lain, maka Allah akan menyusahkan dirinya” (HR. Tirmidzi).
3. Menjadi orang berdosa
Malas dapat menjadi perbuatan dosa. Salah satu bentuk dosa dari kemalasan itu yakni mentelantarkan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya.
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seseorang itu sudah cukup dikatakan sebagai pendosa jika ia menelantarkan orang- orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Ahmad no.6842).
Selain itu diceritakan kepada Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam tentang orang-orang yang amat semangat sekali dalam beribadah, maka beliau berkata,
“Itulah puncak semangat (pengamalan) Islam dan kesungguhannya. Setiap semangat itu akan mencapai puncaknya, dan setiap puncaknya akan ada masa kemalasan”.
“Barangsiapa yang waktu malasnya dalam batas wajar dan tetap dalam sunnah, maka dia telah menempuh jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang kemalasannya melakukan kemaksiatan, maka itulah yang celaka (dosa)”. (HR. Ahmad, 2/165. Dihasankan oleh Al-Albany dalam kitab As-Shahihah no. 2850).
4. Tidak dipercaya orang
Bagi orang-orang yang malas dan pemalas tidaklah mungkin dapat dipercaya oleh orang lain. Apa lagi orang munafik. Tertulis di dalam Rasulullah sabda shalallahu ‘alaihi wasallam ciri-ciri mereka,
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: Jika ia berbicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari, dan jika ia diberikan amanah berkhianat.” (HR. Bukhari no. 2459, 31 78 dan Muslim, no. 58).
Pemalas dalam urusan dan aktivitas dunia juga tidak bisa dipercaya, termasuk oleh Allah Azza Wa Jalla. Sebab yang dipercaya dan dicintai Nya adalah orang-orang yang rajin bekerja secara professional.
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakannya (mengerjakan secara profesional)”. (HR. Thabrani dalam Syu’abul Iman dan dihasankan Al Bani dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 1113).).
5. Amal ibadahnya ditolak
Pemalas tidak akan diterima amal ibadahnya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai firman Nya,
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkah mereka melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sholat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (malas).” (QS. At-Taubah: 9).
6. Sengsara dunia akhirat
Orang malas akan merasakan kesengsaraan dan penderitaannya di dunia dan akhirat. Pengemis atau peminta-minta atau yang malas bekerja untuk mencari rezeki, mereka yang kelak akan merasakan kesengsaraan dan penderitaannya. Di dunia mereka seakan mencakar-cakar wajahnya sendiri.
Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Meminta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya”. (At-Tirmidzi no. 681, Abu Dawud no.1639, an-Nasai V/100 no. 2392, Ahmad V/10, 19, Ibnu Hibban no. 3377, ath- Thabrani VII/182-183, no. 6766-6772), dan Abu Nu’aim VII/418, no. 11076).





0 Tanggapan
Empty Comments