Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik semakin meluas. Temuan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Accounting Open tahun 2026 menunjukkan bahwa akademisi akuntansi kini semakin sering memanfaatkan AI untuk membantu penyusunan karya ilmiah.
Penelitian yang dilakukan Jesse Gardner, Nicholas R. Krupa, dan Babak Mammadov itu menganalisis lebih dari 3.500 artikel yang diterbitkan pada 10 jurnal akuntansi terkemuka. Hasilnya menunjukkan peningkatan sekitar 75 persen pada kemunculan pola kata tertentu yang selama ini dikenal sebagai indikator teks hasil bantuan AI sejak hadirnya platform model bahasa besar pada 2024.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI paling banyak digunakan pada bagian abstrak, pendahuluan, dan kesimpulan. Ketiga bagian tersebut dianggap paling strategis karena berfungsi merangkum ide utama dan hasil penelitian secara singkat.
Para peneliti menemukan bahwa tingkat penggunaan AI lebih tinggi pada kalangan akademisi muda, dosen di perguruan tinggi dengan anggaran riset terbatas, serta penulis yang menerbitkan karya di jurnal lapis kedua. Sementara itu, akademisi senior yang telah lama berkecimpung dalam penelitian cenderung tetap mempertahankan metode penulisan konvensional tanpa banyak bantuan teknologi AI.
Untuk memastikan akurasi temuannya, tim peneliti melakukan validasi menggunakan 52 artikel yang secara terbuka mengungkapkan penggunaan AI dalam proses penulisannya. Hasilnya menunjukkan bahwa artikel-artikel tersebut memiliki kemunculan kata penanda AI hampir dua kali lebih banyak dibandingkan artikel yang tidak menyatakan penggunaan teknologi tersebut.
Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan bantuan Gemini API untuk mengumpulkan informasi mengenai tahun kelulusan doktor para penulis guna memetakan perbedaan tingkat adopsi AI berdasarkan generasi akademisi.
Meski penggunaan AI semakin meningkat, studi tersebut juga menyoroti persoalan transparansi dalam dunia akademik. Sejak 2024, Asosiasi Akuntansi Amerika (AAA) sebenarnya telah mewajibkan penulis untuk mengungkapkan penggunaan AI dalam penyusunan naskah ilmiah.
Namun, data menunjukkan adanya kesenjangan antara penggunaan dan pengakuan resmi. Sekitar 11 persen abstrak artikel terindikasi menggunakan bantuan AI, tetapi hanya sekitar 5 persen penulis yang mencantumkan deklarasi penggunaan teknologi tersebut.
Penelitian ini juga menemukan bahwa jurnal-jurnal bergengsi seperti The Accounting Review memiliki tingkat kepatuhan deklarasi yang lebih tinggi dibandingkan jurnal lain. Para peneliti menduga sebagian akademisi masih enggan mengakui penggunaan AI karena khawatir mendapatkan penilaian negatif dari reviewer maupun tim penilai promosi jabatan akademik.
Menariknya, sebagian besar penulis yang secara terbuka menyatakan penggunaan AI mengaku hanya memanfaatkan platform seperti ChatGPT atau Claude untuk membantu memeriksa tata bahasa, ejaan, dan meningkatkan keterbacaan tulisan, bukan untuk menyusun keseluruhan isi penelitian.
Temuan ini memperlihatkan bahwa AI mulai menjadi bagian dari proses kerja akademik modern. Di sisi lain, transparansi penggunaan teknologi tersebut dipandang tetap penting untuk menjaga integritas dan kepercayaan terhadap publikasi ilmiah di masa depan.





0 Tanggapan
Empty Comments