Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta terus memperkuat komitmennya sebagai kampus yang inklusif melalui penerapan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Multikultural bagi mahasiswa non-Muslim.
Program yang telah berjalan selama satu tahun pada Tahun Akademik 2025/2026 ini menjadi implementasi pembelajaran agama berbasis multikultural di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).
Selama ini, Unisa Yogyakarta telah menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang agama. Di lingkungan kampus, mahasiswa Muslim dan non-Muslim memperoleh hak serta kewajiban yang sama tanpa adanya perlakuan berbeda.
Salah satu tantangan yang kerap muncul ketika perguruan tinggi menerima mahasiswa lintas agama adalah penyelenggaraan pendidikan agama sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Unisa Yogyakarta mulai menerapkan AIK Multikultural bagi mahasiswa non-Muslim.
Melalui kebijakan ini, mahasiswa non-Muslim tidak mengikuti mata kuliah AIK sebagaimana mahasiswa Muslim, melainkan mendapatkan mata kuliah pengganti berupa Islam dan Agama-Agama Dunia serta Etika sebagai pengganti mata kuliah Kemanusiaan dan Keimanan serta Ibadah, Akhlak, dan Muamalah.
Pada Tahun Akademik 2025/2026, sebanyak 50 mahasiswa dari berbagai program studi mengikuti dua mata kuliah tersebut.
Selama dua semester, para mahasiswa memperoleh pembelajaran agama dengan perspektif multikultural yang menekankan pentingnya memahami keberagaman sebagai sebuah keniscayaan.
Pendekatan tersebut mengajak mahasiswa untuk saling mengenal, memahami, dan menghormati perbedaan agama dalam kehidupan bermasyarakat.
Penerapan AIK Multikultural merupakan wujud pelaksanaan mandat Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah yang mendorong seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah mengembangkan pembelajaran AIK bagi mahasiswa non-Muslim.
Unisa Yogyakarta menjadi salah satu PTMA yang mengimplementasikan kebijakan tersebut secara penuh selama dua semester.
Dosen AIK Unisa Yogyakarta, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa pembelajaran AIK Multikultural tidak hanya berisi materi teori, tetapi juga diperkaya dengan berbagai tugas dan proyek kolaboratif.
“Pembelajaran AIK Multikultural dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran. Ada teori, ada tugas dan ada project. Ketiganya ini diramu dalam pembelajaran online dan ofline. Sehingga Mata Kuliah AIK Multikultural lebih banyak membangun dialog antar mahasiswa yang berbeda agama dan juga mengenalkan Muhammadiyah kepada mahasiswa dalam bentuk project yang dilaksanakan oleh mahasiswa,” sebagaimana dituturkan kepada Arief Hartanto pada Jumat pagi, 31 Juli 2026.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman akademik, tetapi juga pengalaman berdialog secara langsung dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang agama.
Penerapan AIK Multikultural menjadi bagian dari upaya Unisa Yogyakarta dalam menghadirkan lingkungan kampus yang inklusif, terbuka, dan ramah terhadap keberagaman.
Program ini diharapkan mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang perbedaan agama, sekaligus memperkuat semangat toleransi, dialog, dan penghargaan terhadap kemajemukan di lingkungan perguruan tinggi.





0 Tanggapan
Empty Comments