Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Di Balik Gema Takbir, Ada Rindu Santri yang Tak Terucap

Iklan Landscape Smamda
Di Balik Gema Takbir, Ada Rindu Santri yang Tak Terucap
Pelaksanaan salat Iduladha di Halaman SMA Muhammadiyah 06 Pondok Pesantren Karangasem Paciran Lamongan. (Nailul Khoir/PWMU.CO)
Oleh : Nailul Khoir

Takbir menggema menembus langit pagi, membawa rindu yang diam-diam tumbuh di dalam hati. Di antara embun yang belum sepenuhnya pergi, langkah para santri menuju tempat salat dipenuhi harapan, doa, dan kenangan tentang rumah yang jauh di sana.

Hari raya bukan sekadar tentang gema takbir dan hewan kurban, tetapi juga tentang cinta keluarga yang selalu hidup dalam ingatan.

Suasana haru, khidmat, dan penuh kebersamaan menyelimuti pelaksanaan salat Iduladha di Halaman SMA Muhammadiyah 06 Pondok Pesantren Karangasem Paciran Lamongan.

Sejak matahari belum sepenuhnya terbit, para santri telah bersiap mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menyambut hari raya yang penuh makna tersebut.

Takbir yang berkumandang dari pengeras suara masjid menambah syahdu suasana pagi, mengingatkan setiap hati akan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kebersamaan yang menjadi inti dari Iduladha.

Ratusan jamaah dari kalangan santri dan masyarakat sekitar tampak memadati lokasi pelaksanaan salat. Mereka berdiri dalam satu saf tanpa membedakan latar belakang, usia, maupun status sosial.

Momentum tersebut menjadi gambaran indah tentang persatuan umat Islam yang terjalin erat dalam semangat ukhuwah dan kepedulian sosial.

Para santri Pondok Karangasem juga terlihat aktif membantu jalannya kegiatan. Ada yang menyiapkan tempat salat, mengatur sandal jamaah, membersihkan lingkungan, hingga membantu pelaksanaan penyembelihan hewan kurban setelah salat selesai.

Keterlibatan mereka menunjukkan semangat gotong royong dan rasa tanggung jawab yang tumbuh dalam kehidupan pesantren.

Di balik kebahagiaan menyambut Hari Raya Kurban, terselip pula rasa rindu yang mendalam dari para santri kepada keluarga mereka di rumah.

Bagi sebagian santri, Iduladha tahun ini menjadi momen yang mengingatkan kenangan berkumpul bersama orang tua dan saudara tercinta.

Salah satu santri Pondok Karangasem, Muhammad Wildan Maulana, mengungkapkan bahwa suasana Iduladha di pesantren tetap terasa hangat, meskipun kerinduan kepada keluarga tidak bisa dipungkiri.

“Saya senang bisa merayakan Iduladha bersama teman-teman dan masyarakat di pondok. Namun di sisi lain, saya juga sangat rindu suasana Iduladha bersama bapak, ibu, dan saudara di rumah. Biasanya kami makan bersama setelah sholat Id dan membantu pembagian daging kurban di kampung,” ungkapnya dengan penuh haru.

SMPM 5 Pucang SBY

Santri lainnya, Syifaul Huda, juga menyampaikan bahwa kebersamaan di pondok sedikit mengobati rasa rindu kepada keluarga.

“Takbir pagi tadi membuat saya teringat rumah. Saya kangen berkumpul bersama keluarga, terutama momen saling bersalaman setelah salat Id. Tetapi di Pondok Karangasem kami merasa seperti keluarga sendiri karena semua saling menguatkan dan berbagi kebahagiaan,” tuturnya.

Sementara itu, masyarakat sekitar menyambut positif semangat para santri yang ikut terlibat dalam berbagai kegiatan Iduladha.

Kehadiran para santri dinilai memberikan warna tersendiri dalam perayaan hari raya, terutama dalam membangun suasana religius dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Usai pelaksanaan sholat, kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban yang dilakukan secara gotong royong.

Para santri bersama warga bekerja sama mulai dari proses penyembelihan hingga pendistribusian daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kebersamaan tersebut mencerminkan nilai luhur Iduladha sebagai momentum berbagi dan mempererat tali persaudaraan.

Di penghujung hari, ketika gema takbir perlahan mereda dan langit mulai memeluk senja, para santri kembali menyimpan rindu di sudut hati mereka.

Rindu kepada bapak yang biasa menggenggam tangan selepas salat Id, kepada ibu yang menyiapkan hidangan sederhana penuh kasih, dan kepada saudara yang menghadirkan tawa di rumah. Namun di Pondok Karangasem, mereka belajar bahwa pengorbanan juga berarti menahan rindu demi ilmu dan harapan.

Sebab sejauh apa pun langkah pergi, doa keluarga akan selalu menjadi jalan pulang bagi setiap hati yang merindu.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 27/05/2026 20:42
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu