Menjelang pendudukan Jepang, Muhammadiyah di Bengkulu mencatatkan pertumbuhan fantastis.
Seperti di beritakan oleh media Adil (12/02/1942), tercatat ada 80 cabang dan ranting yang tersebar luas mulai dari afdeeling, Onderafdeeling serta wilayah pelosok Bengkulu.
Berkat ekspansi ini, Bengkulu dinobatkan sebagai salah satu wilayah dengan perkembangan Muhammadiyah paling pesat di seluruh Nusantara kala itu.
Penyebab Persebaran
Jika ditelaah lebih dalam mengenai penyebab persebaran Muhammadiyah yang begitu masif hingga menyentuh pelosok desa, terdapat 6 (enam) faktor fundamental yang menjadi mesin penggeraknya:
Faktor pertama adalah militansi para kader dan dai Muhammadiyah, baik yang asli Minangkabau maupun yang berasal dari Jawa.
Sejak tahun 1930-an, para dai dan guru lulusan Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta serta para penggerak dari Minangkabau mulai berdatangan ke Bengkulu.
Mereka memiliki daya adaptasi dan kesabaran yang luar biasa di tengah medan yang berat.
Para pejuang dakwah ini tidak hanya berhadapan dengan tantangan alam—seperti berjalan kaki menerobos hutan rimba dan menyeberangi sungai demi mencapai pedalaman—tetapi juga tekanan politik yang hebat.
Mereka sering kali diancam, ditolak, bahkan diburu polisi kolonial karena dituduh sebagai anggota PERMI yang radikal.
Namun, segala keterbatasan dan ancaman tersebut tidak sedikit pun menyurutkan langkah mereka untuk terus menyebarkan ideologi pembaruan.
Faktor kedua adalah sikap teguh Muhammadiyah yang memilih untuk menghiraukan berbagai bentuk intimidasi, baik dari elemen masyarakat yang kontra maupun pejabat kolonial.
Alih-alih larut dalam konflik berkepanjangan, para dai dan guru Muhammadiyah tetap konsisten menjalankan Amal Usaha di bidang pendidikan, tabligh, kepanduan (Hizbul Wathan), gerakan kewanitaan (Aisyiyah), hingga pelayanan kesehatan (PKU).
Bahkan, dalam dokumen resmi Belanda, “Memori Van Overgave” (Memori serah terima jabatan) Residen Zieck tahun 1932, keberadaan organisasi otonom seperti Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan PKU telah tercatat sebagai entitas yang eksis di Bengkulu (Zieck, 1932).
Lambat laun, masyarakat mulai menyadari bahwa kehadiran Muhammadiyah bukan sekadar membawa paham baru, melainkan memberikan solusi nyata dan menjawab kebutuhan sosial di masa transisi tersebut.
Faktor ketiga adalah Hoofdbestuur (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah di Yogyakarta sangat menjaga agar gerakan di daerah tetap selaras dengan garis organisasi.
Melalui manifesto yang ditegaskan dalam surat kabar De Locomotief, Muhammadiyah secara sadar membatasi geraknya hanya pada bidang sosial dan pendidikan, serta menjauh dari politik praktis (De Locomotief, 9 februari 1929).
Langkah ini adalah strategi diplomasi untuk menghindari pembubaran paksa oleh pemerintah kolonial yang sangat sensitif terhadap gerakan radikal.
Salah satu tindakan nyata adalah penggantian Yunus Jamaludin, Konsul Muhammadiyah Bengkulu yang dinilai terlalu konfrontatif terhadap pemerintah kolonial, dengan Hassan Din (ayahanda Ibu Fatmawati) yang lebih lunak.
Perubahan nakhoda ini merupakan respons strategis atas laporan Residen Groeneveldt kepada HB Muhammadiyah Yogyakarta, demi menyelamatkan eksistensi organisasi di tengah situasi politik yang memanas (Groeneveldt, 1936).
Faktor keempat adalah perkembangan sektor perkebunan dan pertambangan di pedalaman Bengkulu, seperti di Kabawetan dan Lebong, menciptakan magnet ekonomi baru.
Dusun-dusun di sekitarnya tumbuh menjadi daerah penyangga yang ramai.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh para kader Muhammadiyah asal Minangkabau yang mayoritas adalah pedagang untuk berdiaspora membuka usaha sandang, pangan maupun papan.
Situasi ini diperkuat oleh dampak “Malaise” (krisis ekonomi global) yang melanda Hindia Belanda tahun 1930.
Sulitnya ekonomi di pusat kota memaksa para pedagang mengalihkan fokus ke pedalaman yang kaya sumber daya alam.
Banyak dari mereka yang akhirnya menetap di pinggiran kota maupun pelosok desa untuk bertani demi mengamankan kebutuhan pangan keluarga (Hooykas, 1938).
Kehadiran para saudagar yang sekaligus kader Muhammadiyah ini secara otomatis membawa ideologi organisasi ke jantung pemukiman baru di pedalaman.
Faktor kelima, elit tradisional (Pasirah dan Demang) mulai menyadari bahwa garis keturunan saja tidak lagi cukup untuk mempertahankan kedudukan.
Mereka membutuhkan akses pendidikan modern sebagai satu-satunya agar bisa mempertahankan posisinya walau hanya sebagai juru tulis atau birokrat kolonial.
Namun, krisis ekonomi membuat pemerintah kolonial melakukan penghematan besar-besaran, termasuk menutup banyak sekolah rakyat di pedesaan karena menjadi beban keuangan.
Pada tahun 1934, dari sembilan sekolah rakyat yang ada, hanya tersisa satu (Groeneveldt, 1936).
Di tengah vakum tersebut, hanya Muhammadiyah yang hadir menawarkan sistem pendidikan modern yang massif hingga ke desa.
Para elit tradisional akhirnya memilih sekolah Muhammadiyah karena ingin anak mereka pintar namun tetap memiliki akar agama yang kuat.
Hal ini meruntuhkan tembok resistensi; cara pandang masyarakat berubah, hingga nantinya banyak jabatan strategis seperti Pasirah justru dipegang oleh kader Muhammadiyah.
Dan faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah karakteristik sosiologis masyarakat Bengkulu yang cenderung terbuka dan adaptif.
Berbeda dengan desa-desa di wilayah lain yang mungkin memegang tradisi secara kaku, masyarakat desa di Bengkulu memiliki fleksibilitas tinggi; jika mereka menemukan nilai-nilai baru yang dirasa lebih baik, mereka tidak ragu untuk mengadopsinya.
Ketertarikan ini terutama muncul dari kalangan anak muda yang terpikat oleh simbol-simbol kemodernan yang dibawa Muhammadiyah.
Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan yang menampilkan atraksi akrobatik dan kemegahan drumband, publikasi media yang luas, hingga gaya berpakaian modern seperti penggunaan jas dan celana panjang (pentalon), menjadi daya tarik visual yang luar biasa.
Dengan bergabung ke Muhammadiyah, mereka merasa telah menjadi bagian dari masyarakat modern yang progresif.
Dapat disimpulkan bahwa masifnya persebaran Muhammadiyah hingga ke pelosok desa di Bengkulu bukan semata-mata karena daya tarik paham keagamaan yang puritan, melainkan karena momentum kemodernan yang diusung organisasi ini mampu merebut simpati dan menjawab aspirasi masyarakat akan kemajuan pada masa itu.***





0 Tanggapan
Empty Comments