Keikhlasan merupakan salah satu amal hati yang paling agung dalam Islam. Namun, tidak semua orang memahami bahwa ada perbedaan antara mukhlis dan mukhlas. Keduanya sama-sama berkaitan dengan keikhlasan, tetapi memiliki tingkatan yang berbeda.
Seorang mukhlis adalah hamba yang terus berjuang memurnikan niatnya semata-mata karena Allah.
Sedangkan mukhlas adalah hamba yang telah dipilih dan dijaga Allah sehingga keikhlasannya benar-benar sempurna.
Memahami perbedaan ini akan menuntun setiap Muslim untuk terus memperbaiki niat dan menggapai kebahagiaan sejati yang lahir dari keimanan dan keikhlasan.
Orang Mukhlis masih dalam proses belajar dan berjuang melawan hawa nafsu agar amalnya murni tanpa pamrih.
Terkadang masih merasa bangga atau terpengaruh saat dipuji manusia (walau ia berusaha mengembalikannya kepada Allah).Perjalanan amalnya masih menjadi objek godaan setan.
Sebaliknya, mukhlas adalah tingkatan yang lebih tinggi, di mana seseorang telah dipilih, disucikan, dan diikhlaskan oleh Allah sehingga hatinya benar-benar murni dan terjaga dari godaan setan
Mukhlas merupakan anugerah dan karunia langsung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.
Tidak ada lagi perbedaan baginya antara dipuji atau dicela oleh manusia.Merasa khawatir atau sedih saat dipuji, karena ia menyadari bahwa hanya Allah yang layak menerima pujian.
Termasuk golongan yang dijaga mutlak oleh Allah sehingga setan tidak mampu menggodanya.
قال الإمام ابن القيم رحمه الله :
« فالمؤمن المخلص لله
من أطيب الناس عيشًا،
وأنعمهم بالًا، وأشرحهم صدرًا، وأسرّهم قلبًا. وهذه جنة عاجلة، قبل الجنّة الآجلة »
الداء والدواء صـ(٤٥٩)
Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh pernah berkata: “Seorang mukmin yang ikhlas kepada Alloh (dalam semua amalannya), adalah manusia yang paling baik kehidupannya, paling tenang jiwanya, paling lapang dadanya, dan paling bahagia hatinya. Itulah surga yang disegerakan di dunia, sebelum surga yang kekal di akhirat nanti.” (Kitab Ad-Dā’u wa Ad-Dawā’, hal. 459)
Kebahagiaan yang hakiki itu diperoleh melalui keimanan dan keikhlasan kepada Allah.
Orang yang ikhlas itu hanya mengharap ridho Allah dalam semua amalannya.
Sehingga hatinya ridho terhadap ketentuan Allah, bertawakal kepada-Nya, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
Akibatnya, hidupnya dipenuhi dengan ketenangan, kelapangan dada, dan kebahagiaan batin, meskipun ujian hidup tetap datang kepadanya.
Semua itu merupakan pendahuluan dan kabar gembira sebelum seorang mukmin memasuki surga yang sesungguhnya di akhirat nanti. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments