Pagi itu Lapangan Pancasila Semarang penuh manusia. Pesilat datang dari banyak penjuru. Indonesia. Luar negeri.
Seragam Tapak Suci memenuhi lapangan. Merah, hitam, dan berbagai atribut perguruan bercampur menjadi satu.
Di antara ribuan pesilat itu, saya melihat seorang lelaki yang terasa begitu akrab. Bukan karena pakaiannya. Bukan pula karena rompi hitam yang dikenakannya.
Saya mengenal wajah itu. Muhammad Zamrony. Roni. Kami pernah sama-sama muda.
Kami pernah sama-sama menjadi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surabaya. Jurusan Bahasa Inggris. Itu tahun 1994. Kini sudah 32 tahun berlalu.
Kami bertemu lagi di Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang, Sabtu pagi, 8 Agustus 2026.
Roni masih Roni. Hanya waktulah yang berubah. Dia mengenakan pakaian Tapak Suci lengkap. Rompi hitam melekat di tubuhnya. Kopiah hitam melekat di kepalanya. Tas kulit diselempangkan begitu saja. Sandal selop karet menjadi alas kakinya.
Tidak ada kesan ingin tampil gagah. Padahal ia anak seorang pendekar besar. Chusnan David. Nama yang sangat dikenal di lingkungan Tapak Suci. Dialah pendekar yang menciptakan Jurus Harimau.
Tetapi pagi itu tidak ada yang istimewa dari penampilan Roni. Rambutnya keriting. Janggutnya juga lebat. Dia berjalan di tengah kerumunan pesilat seperti orang biasa. Menyapa. Tersenyum. Berbaur. Bahkan mungkin banyak orang tidak tahu siapa dia. Tidak tahu bahwa lelaki sederhana itu adalah putra sulung Chusnan David.
Ada sesuatu yang menarik dari seorang anak pendekar. Warisan paling penting ternyata bukan selalu jurus. Bisa jadi cara hidup.
***
Roni lahir pada 25 Agustus 1973. Sejak sekolah dasar dia sudah mengenal Tapak Suci. Sekolah di SD Muhammadiyah 14 Surabaya. Dia juga sempat Mondok di Al Mukmun Ngruki selama 7 tahun.
Menariknya, ketika pertama kali mendaftar latihan, ayahnya justru tidak tahu. Roni mendaftar sendiri. Belakangan baru ayahnya mengetahui. Begitulah kisah kecil yang justru terasa penting. Sebab Tapak Suci bagi Roni bukan sesuatu yang diwariskan melalui pidato.
Dia menemukannya lewat pengalaman. Lewat latihan. Lewat keringat. Lewat disiplin. Lalu perlahan menjadi bagian dari dirinya.
Kini, ketika usia tidak lagi muda, dia masih latihan. Di Perguruan Muhammadiyah Kapasan. Juga di Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di Jalan Wuni, Surabaya. Tubuh boleh menua. Tetapi kebiasaan baik tidak harus ikut pensiun.
Roni mengatakan Tapak Suci memberinya banyak pelajaran. Tentang disiplin. Tentang kesabaran. Tentang keberanian. Tetapi ada satu hal yang lebih penting. Mengendalikan diri.
Dalam pencak silat, orang belajar menyerang. Tetapi sebelum itu ia harus belajar menahan diri. Tenaga harus dikendalikan. Emosi harus dikendalikan. Keberanian pun harus dikendalikan.
Sebab pendekar bukan orang yang paling mudah memukul. Pendekar justru tahu kapan harus menahan tangan.
Mungkin karena itu Tapak Suci bagi Roni bukan sekadar olahraga. Bukan sekadar bela diri. Ia menjadi sekolah kehidupan. Di sana ia belajar bahwa kemampuan tanpa akhlak bisa menjadi bahaya.
Kekuatan tanpa kendali bisa menjadi kesombongan. Dan ilmu yang tidak diwariskan bisa hilang bersama pemiliknya.
Saya dan Roni pernah punya cerita lain. Tahun 1995. Kami pernah bersama menggelar Invitasi Pencak Silat Tapak Suci Antar-SLTA se-Jawa Timur. Tempatnya di Gelanggang Remaja Surabaya. Pesertanya ratusan.
Ketika itu kami masih muda. Energi seperti tidak ada habisnya. Membuat acara besar terasa seperti pekerjaan biasa. Padahal tentu tidak. Ada banyak persiapan. Ada banyak orang. Ada banyak persoalan yang harus diselesaikan. Tetapi kami menjalaninya.
Kini kami bertemu lagi. Bukan lagi sebagai mahasiswa. Bukan lagi sebagai anak-anak muda yang sibuk mengurus pertandingan. Kami bertemu sebagai orang yang sudah melewati banyak tahun.
Pertemuan itu terasa seperti reuni. Tetapi bukan sekadar reuni dua kawan lama. Ada sesuatu yang lebih dalam. Saya seperti sedang melihat kembali sebuah masa.
Masa ketika Tapak Suci kami kenal bukan hanya sebagai nama perguruan. Tetapi sebagai ruang tumbuh. Tempat bertemu. Tempat belajar. Tempat membuat persahabatan.
***
Roni kini punya keinginan sederhana. Mendokumentasikan apa yang masih ia ingat. Dia ingin menulis kembali pelajaran yang diperolehnya dari Tapak Suci. Juga dari ayahnya. Chusnan David.
Roni masih menyimpan sejumlah data. Foto. Catatan. Tulisan tangan ayahnya. Sebagian masih tersimpan rapi. Sebagian lagi terselip. Belum ditemukan.
Benda-benda kecil itu mungkin tampak sepele. Tetapi bagi Roni, nilainya tidak kecil. Sebab dari sanalah sebagian sejarah bisa dibaca. Sejarah Tapak Suci. Sejarah keluarganya. Juga sejarah seorang pendekar yang meninggalkan jejak melalui ilmu.
“Bukan hanya Jurus Harimau. Banyak pelajaran pencak silat yang sampai sekarang masih saya ingat,” katanya.
Kalimat itu sederhana. Tetapi terasa panjang maknanya. Sebab seorang ayah mungkin mewariskan jurus. Tetapi seorang anak mengingat nilai di balik jurus itu.
Saya jadi membayangkan Chusnan David. Seorang pendekar menciptakan Jurus Harimau. Nama jurus itu tentu mudah dikenang. Tetapi mungkin ada warisan lain yang lebih panjang umurnya. Cara berdiri. Cara menghormati guru. Cara menghadapi lawan. Cara mengendalikan diri. Cara hidup.
Itulah yang kini ingin dikumpulkan Roni. Dia tidak sedang mengejar kemasyhuran. Dia hanya tidak ingin ingatan hilang. Sebab ingatan punya sifat buruk. Ia bisa menguap. Foto bisa tercecer. Catatan bisa terselip. Orang bisa pergi. Generasi berganti.
Lalu suatu hari orang bertanya: Dari mana jurus itu berasal? Siapa yang mengajarkannya? Apa yang dipikirkan para pendekar dahulu? Bagaimana mereka berlatih? Bagaimana mereka menjaga nilai-nilai perguruan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan jawaban. Dan jawaban tidak selalu ada di buku. Kadang ada di kepala seorang anak. Anak seorang pendekar.
Pagi itu Roni kembali berada di tengah para pesilat. Dia bukan pusat perhatian. Tidak perlu. Dia cukup menjadi dirinya sendiri. Pakaian Tapak Suci. Rompi hitam. Tas kulit. Sandal selop. Sederhana. Hampir tanpa atribut kebesaran. Padahal darah pendekar mengalir di tubuhnya.
Mungkin memang begitu cara sebuah warisan bertahan. Tidak selalu dengan suara keras. Kadang cukup dengan seseorang yang tetap datang latihan. Tetap mengingat gurunya. Tetap menyimpan catatan ayahnya.
Dan suatu hari membuka kembali laci lama. Mencari foto. Mencari tulisan tangan. Mencari potongan sejarah yang terselip.
Roni belum menemukan semuanya. Masih ada data yang hilang. Masih ada tulisan ayahnya yang belum ditemukan. Tidak apa-apa. Sejarah memang kadang ditemukan sedikit demi sedikit.
Seperti latihan silat. Satu jurus. Satu gerakan. Diulang. Diingat. Lalu diwariskan. Dan mungkin, suatu hari nanti, Jurus Harimau bukan hanya dikenang sebagai sebuah jurus.
Tetapi juga sebagai pintu untuk mengenang manusia yang menciptakannya. Chusnan David. Dan anaknya, Zamrony, yang kini sedang berusaha menjaga agar ingatan itu tidak ikut hilang. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments