Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mendung, Badai, dan Jalan Hidup yang Tak Kita Tahu

Iklan Landscape Smamda
Mendung, Badai, dan Jalan Hidup yang Tak Kita Tahu
Ilustrasi: OpenAI

Manusia merasa semakin pintar. Tetapi alam terus mengingatkan bahwa manusia tetap terbatas. Ada pula ketidakpastian yang lebih dekat. Di rumah. Seseorang sedang menunggu pekerjaan. Yang lain sedang menunggu hasil pemeriksaan.

Ada keluarga yang sedang berusaha mempertahankan usaha. Ada orang tua yang memikirkan masa depan anak. Ada anak muda yang bingung memilih jalan hidup. Ada orang yang terlihat baik-baik saja. Padahal sedang berjuang keras.

Banyak sekali mendung. Tidak semuanya terlihat. Kita suka membuat rencana Manusia memang suka membuat rencana. Kita merencanakan pendidikan. Merencanakan pekerjaan. Merencanakan pernikahan. Merencanakan rumah. Merencanakan masa depan anak. Merencanakan masa tua.

Semua itu baik. Bahkan harus. Tetapi ada satu masalah. Kita sering lupa bahwa rencana manusia bukan keputusan terakhir. Kita bisa merencanakan. Tetapi tidak bisa memastikan.

Kita bisa bekerja keras. Tetapi tidak bisa menjamin hasil. Kita bisa menghitung. Tetapi tidak bisa mengetahui seluruh kemungkinan. Kita bisa mempersiapkan masa depan. Tetapi tidak pernah benar-benar memilikinya.

Di sinilah saya teringat bagian lain dari “Ironi”.

“Jalan yang membentang masih begitu banyak misteri.”

Benar. Masa depan adalah misteri. Kita tidak tahu apa yang terjadi besok. Tidak tahu siapa yang akan datang. Tidak tahu siapa yang akan pergi. Tidak tahu rencana mana yang berhasil.

Tidak tahu rencana mana yang gagal. Tidak tahu doa mana yang segera dikabulkan. Tidak tahu pula doa mana yang harus menunggu.

Kita ingin tahu semuanya. Tetapi kita memang tidak diberi kemampuan untuk mengetahui semuanya.

***

SMPM 5 Pucang SBY

Al-Qur’an mengingatkan: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216).

Kalimat terakhir itu sangat dalam. Allah mengetahui. Kita tidak mengetahui. Sederhana. Tetapi sulit diterima. Kita sering marah kepada keadaan. Padahal kita belum tahu akhir ceritanya.

Kita menganggap kegagalan sebagai musibah. Padahal mungkin itu penyelamatan. Kita menganggap kehilangan sebagai akhir. Padahal mungkin itu awal.

Kita menganggap pintu yang tertutup sebagai hukuman. Padahal mungkin Allah sedang mengarahkan kita ke pintu lain.

Masalah kita adalah ingin memahami semuanya sekarang. Sementara Allah mengajarkan kita untuk percaya. Badai hidup Ada bagian lain dari lagu itu.

“Terlalu banyak peristiwa yang telah kualami. Terlalu besar badai hidup yang harus kuhadapi.”

Setiap orang punya badai. Bentuknya berbeda. Ada badai ekonomi. Ada badai keluarga. Ada badai pekerjaan. Ada badai kehilangan. Ada badai dalam pikiran. Ada pula badai yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Sebab tidak semua penderitaan terlihat. Orang yang tersenyum belum tentu bahagia. Orang yang terlihat kuat belum tentu tidak lelah. Orang yang tampak sukses belum tentu sedang baik-baik saja.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu