Karena itu jangan mudah menghakimi kehidupan orang lain. Kita hanya melihat wajahnya. Tidak melihat perangnya.
Islam juga tidak menjanjikan hidup tanpa ujian. Al-Qur’an justru bertanya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” QS Al-Ankabut: 2.
Ujian adalah bagian dari kehidupan. Bukan selalu tanda Allah membenci. Kadang justru sebaliknya. Ujian membuat manusia dewasa. Membuat kita belajar sabar. Mengurangi kesombongan. Mengoreksi arah. Menguatkan doa.
Dan membuat kita sadar bahwa manusia sebenarnya sangat terbatas. Bersama kesulitan Ada ayat yang sangat akrab di telinga kita.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Asy-Syarh: 5–6).
***
Saya tertarik pada satu kata. Bersama. Bukan hanya setelah. Bersama kesulitan. Artinya, ketika masalah belum selesai pun, kemudahan bisa saja sedang bekerja.
Di tengah kehilangan, kita menemukan kesadaran. Di tengah kegagalan, kita menemukan pelajaran. Di tengah kesendirian, kita menemukan Allah. Di tengah keterbatasan, kita menemukan kemampuan baru. Di tengah gagalnya sebuah rencana, kita menemukan jalan yang tidak pernah kita pikirkan.
Karena itu jangan terlalu cepat menyimpulkan hidup. Cerita belum selesai. Kita sering menilai satu halaman. Padahal Allah melihat seluruh buku. Kita ingin mengendalikan semuanya.
Mungkin ini salah satu penyakit manusia modern. Kita ingin mengendalikan semuanya. Karier. Uang. Anak. Pasangan. Masa depan. Bahkan penilaian orang lain kepada kita. Padahal tidak mungkin. Semakin ingin mengendalikan semuanya, semakin mudah kita kecewa.
Di sinilah Islam mengajarkan keseimbangan. Ikhtiar dan tawakal. Kerjakan bagian kita. Serahkan hasil kepada Allah. Berusaha bukan berarti kita menguasai hasil. Berdoa bukan berarti memaksa Allah mengikuti keinginan kita. Tawakal juga bukan duduk diam.
Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh. Lalu menyadari bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya berada di tangan kita.
Rasulullah saw menggambarkan kehidupan orang beriman dengan sangat indah: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan.”
Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapat kesulitan, ia bersabar. Itu juga baik baginya. (HR Muslim).
Bukan berarti semua kejadian menyenangkan. Kehilangan tetap menyakitkan. Kegagalan tetap pahit. Kematian tetap membuat kita menangis. Tetapi orang beriman memiliki cara untuk tidak hancur karenanya.
Ketika lapang, ia bersyukur. Ketika sempit, ia bersabar. Ketika tidak tahu, ia bertawakal. Ketika harus berjalan sendiri
Ada satu bagian lirik yang juga terasa kuat.
“Walau tanpa teman lagi, kuharus mencoba untuk dapat berlari.”
Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa sendirian. Teman pergi. Orang yang kita harapkan tidak datang. Orang yang kita percaya mengecewakan. Rencana tidak berjalan. Akhirnya kita harus berjalan sendiri. Tetapi mungkin justru di situlah kita belajar.





0 Tanggapan
Empty Comments