Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mendung, Badai, dan Jalan Hidup yang Tak Kita Tahu

Iklan Landscape Smamda
Mendung, Badai, dan Jalan Hidup yang Tak Kita Tahu
Ilustrasi: OpenAI

Manusia memang penting. Tetapi manusia bukan tempat bergantung terakhir. Ada batas pertolongan manusia. Ada batas kemampuan manusia. Allah tidak terbatas. Karena itu ada kesendirian yang justru mendekatkan kita kepada-Nya.

Malam menjadi lebih panjang. Doa menjadi lebih jujur. Air mata menjadi lebih sunyi. Tetapi hati bisa menjadi lebih dekat. Kesendirian tidak selalu berarti ditinggalkan.

Kadang kesendirian adalah ruang untuk menemukan kembali Tuhan. Jangan berhenti berlari Menariknya, “Ironi” tidak berhenti pada kesedihan. Ada satu kata yang membuat lagu itu tetap bergerak. Berlari. Masih harus berlari. Ini penting.

Sebab hidup memang tidak selalu memberikan jawaban. Tetapi hidup meminta kita terus berjalan. Sabar bukan berhenti. Tawakal bukan menyerah. Pasrah kepada Allah bukan pasrah kepada keadaan.

Kita tetap bekerja. Tetap belajar. Tetap berusaha. Tetap memperbaiki diri. Tetap berbuat baik. Tetap berdoa. Kemudian menyerahkan hasil kepada Allah. Bahkan penderitaan seorang Muslim tidak selalu sia-sia.

Rasulullah saw bersabda bahwa kelelahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuk seorang Muslim dapat menjadi sebab Allah menghapus sebagian dosanya. (HR Bukhari).

Maka jangan menganggap air mata selalu tanda kelemahan. Bisa jadi ia adalah saksi kesabaran. Jangan menganggap kegagalan selalu berarti kekalahan. Bisa jadi ia sedang mengubah arah hidup.

Jangan menganggap kesendirian selalu berarti ditinggalkan. Bisa jadi Allah sedang mengajak kita berbicara lebih dekat. Kita memang tidak tahu

***

Pada akhirnya, mungkin bagian paling jujur dari lagu “Ironi” adalah:

SMPM 5 Pucang SBY

“Sampai di batas waktu yang kusendiripun tak pernah tahu.”

Ya. Kita tidak tahu. Kapan rezeki datang. Kapan masalah selesai. Kapan seseorang pergi. Kapan seseorang datang. Kapan cita-cita tercapai. Kapan hidup berubah. Bahkan kita tidak tahu kapan perjalanan kita sendiri berakhir. Dan mungkin memang tidak perlu tahu semuanya.

Sebab kalau semua diketahui, mungkin kita tidak lagi belajar percaya. Ketidakpastian membuat kita berdoa. Misteri membuat kita rendah hati. Keterbatasan membuat kita membutuhkan Allah.

Maka ketika mendung datang, jangan langsung mengira matahari telah hilang. Ketika badai datang, jangan menganggap perjalanan telah selesai. Ketika satu pintu tertutup, jangan berhenti mengetuk pintu kehidupan.

Bisa jadi ada pintu lain. Bisa jadi ada jalan lain. Bisa jadi ada hikmah yang belum terlihat. Sebab manusia hanya melihat satu potongan kecil dari cerita. Allah mengetahui seluruh cerita.

Itulah sebabnya kita harus tetap berjalan. Dengan ikhtiar. Dengan doa. Dengan sabar. Dengan syukur. Dengan tawakal.

Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan. Kita hanya perlu tahu kepada siapa kita bersandar. Dan ketika hidup kembali terasa penuh ironi, mungkin kita cukup mengingat satu hal: Mendung bukan berarti matahari mati. Badai bukan berarti perjalanan selesai. Ketidakpastian bukan berarti Allah meninggalkan kita.

Kita memang tidak tahu apa yang ada di depan. Tetapi kita tahu kepada siapa kita menyerahkan masa depan. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu